Deputi Operasi dan Kesiapsiagaan Basarnas Edy Prakoso (tengah). Antara/HO-Basarnas
Basarnas Optimalkan Semua Kekuatan Temukan Jurnalis Hilang di Krakatau
Achmad Zulfikar Fazli • 9 September 2026 22:33
Jakarta: Basarnas mengoptimalkan semua kekuatan dan armada gabungan untuk menemukan rombongan jurnalis beserta awak kapal cepat yang hilang kontak saat peliputan aktivitas Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda, Kabupaten Pandeglang, Banten. Mereka berharap seluruh proses pencarian berjalan aman dan lancar hingga seluruh korban dapat ditemukan.
"Basarnas beserta unsur di lapangan akan mengoptimalkan seluruh kekuatan yang ada," kata Deputi Operasi dan Kesiapsiagaan Basarnas Edy Prakoso dalam keterangan dikonfirmasi di Jakarta, dilansir dari Antara, Rabu malam, 9 September 2026.
Sebanyak delapan orang yang dalam pencarian terdiri atas lima jurnalis, yakni M Bagus Khoirunnas (Kantor Berita ANTARA), Ari Basuki (Jurnalis Merdeka.com), Yudhistiro (Jurnalis iNews), Firdaus (Jurnalis Anadolu), dan Donal (jurnalis lepas). Sedangkan tiga lainnya, yakni Warta (kapten kapal), Surakman (ABK), serta Heriyanto (pemandu).
Dia menyampaikan keprihatinan atas musibah tersebut dan memastikan operasi SAR akan tetap digelar secara masif.
.jpg)
Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda, Kabupaten Lampung Selatan. ANTARA/Riadi Gunawan
Operasi pencarian awal yang digelar Kantor SAR Banten pada Selasa, 8 September 2026, mengerahkan KN SAR Tetuka dan RIB-02 pada radius 3,2 kilometer dari Gunung Anak Krakatau, namun belum berhasil menemukan keberadaan objek pencarian.
Pada Rabu, 9 September 2026, tim SAR memperluas wilayah dengan membagi area pencarian seluas 68,3 nautical mile menjadi empat sektor Unit Pencarian dan Pertolongan (SRU) beserta pengerahan armada SAR skala besar lintas instansi.
Unsur armada yang diterjunkan meliputi KN SAR Tetuka milik Basarnas; KRI Loser, KRI Kerambit, KRI Lepu, KAL Anyer, dan KAL Pahawang milik TNI AL; KP Sanjaya milik Polairud; serta tiga unit Rigid Inflatable Boat (RIB) dari Kantor SAR Banten dan Kantor SAR Lampung beserta potensi SAR lokal, yakni relawan dan nelayan.
"Dari rangkaian operasi sampai dengan saat ini, hasil pencarian masih nihil," kata Edy yang didampingi Direktur Kesiapsiagaan Basarnas Noer Isrodin dan Direktur Operasi Basarnas Yudhi Bramantyo itu.
Basarnas melaporkan operasi pencarian akan dilanjutkan pada Kamis pagi, 10 September 2026, yang berfokus ke sisi utara area Gunung Anak Krakatau. Namun, proses pencarian tetap menyesuaikan arus, pergeseran ombak, dan arah angin.
Edy mengimbau seluruh masyarakat dan pelaku aktivitas pelayaran kapal yang melintas di sekitar perairan Selat Sunda agar mematuhi arahan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), untuk tidak memasuki zona bahaya radius 3 kilometer dari puncak kawah aktif Gunung Anak Krakatau.
Sebagaimana laporan PVMBG, Gunung Anak Krakatau mengalami erupsi dimulai sejak pukul 23.07 WIB, Jumat, 4 September 2026, dengan paparan abu vulkanik menyebar hingga lintas provinsi.
Hingga saat ini, tingkat aktivitas Gunung Anak Krakatau berada pada Level III (Siaga). Dengan kondisi tersebut, masyarakat perlu mewaspadai potensi bahaya berupa aliran lava, lontaran batu pijar, awan panas, maupun hujan abu vulkanik.