Rudal Fattah yang digunakan oleh Iran menyerang Israel. Foto: Tasnim
Rudal Hipersonik Fattah-2 Iran Mampu Tembus Sistem Pertahanan Tercanggih
Fajar Nugraha • 5 March 2026 16:23
Teheran: Laporan terbaru mengungkapkan bahwa penggunaan rudal hipersonik Fattah-2 milik Iran telah menciptakan tantangan nyata bagi sistem pertahanan udara Amerika Serikat (AS) dan Israel.
Menurut laporan dari Military Watch Magazine, pada Selasa, 2 Maret, rudal dengan teknologi hypersonic glide vehicle ini dilaporkan telah digunakan untuk pertama kalinya terhadap target-target Israel dalam konflik yang tengah berlangsung.
Kemampuan rudal ini untuk bermanuver di jalur lintasan serta kecepatan ekstremnya membuat Fattah-2 hampir mustahil untuk dicegat oleh sistem pertahanan udara yang ada saat ini.
Sistem anti-rudal milik AS dan Israel dilaporkan mengalami tekanan berat akibat gelombang serangan rudal balistik Iran, sementara jumlah rudal pencegat yang tersedia sangat terbatas. Pada Agustus 2025, Wakil Presiden pengembang sistem rudal Israel Rafael Advanced Defense Systems, Yuval Baseski, mengakui bahwa sistem mereka saat ini belum mampu mencegat rudal hipersonik sekelas Fattah-2.
Sistem pertahanan udara konvensional bekerja dengan prinsip terbang lebih cepat daripada targetnya. Untuk mencegat objek yang bergerak pada kecepatan Mach 10, dibutuhkan pertahanan berkecepatan Mach 30, hal yang mustahil dilakukan di atmosfer karena kendala gesekan. Rudal hipersonik dinilai telah membuka era baru dalam peperangan udara yang melampaui kemampuan teknologi radar saat ini.
Baseski menyarankan model pertahanan zona di mana beberapa pencegat mencakup area tertentu untuk melumpuhkan ancaman saat mendekat. Namun, laporan Military Watch mengatakan bahwa Israel belum menunjukkan tanda-tanda mampu menerapkan pendekatan tersebut dalam waktu dekat.
Membangun sistem pertahanan baru tersebut diperkirakan akan memakan waktu bertahun-tahun dan membutuhkan biaya hingga puluhan miliar dolar AS. Selama infrastruktur tersebut belum terwujud, gudang senjata Fattah-2 milik Iran diprediksi akan terus mampu menembus pertahanan Israel dengan tingkat keberhasilan yang sangat tinggi.
(Kelvin Yurcel)