Emas batangan. Foto: Whitegold.money
Siap-siap! Harga Emas Berpotensi Menguat Lagi
Husen Miftahudin • 6 February 2026 11:24
Jakarta: Harga emas dunia (XAU/USD) pada perdagangan hari ini masih bergerak fluktuatif. Ini terjadi setelah mengalami koreksi tajam dari level tertinggi sepanjang sejarah di atas kisaran USD5.500 per ons.
Penurunan signifikan yang terjadi dalam beberapa hari terakhir tersebut dipicu oleh penguatan dolar Amerika Serikat (AS) serta pelemahan aset-aset safe haven, menyusul rilis data ekonomi AS dan perkembangan terbaru kebijakan moneter.
"Meski demikian, harga emas mulai menunjukkan tanda-tanda rebound terbatas, mengindikasikan masih adanya minat beli di level yang lebih rendah," ungkap analis Dupoin Futures Andy Nugraha, dikutip dari analisis hariannya, Jumat, 6 Februari 2026.
Menurut Andy, koreksi yang terjadi saat ini masih tergolong sehat dalam struktur tren jangka menengah hingga panjang yang cenderung bullish. Tekanan jual muncul seiring menguatnya dolar AS setelah pasar merespons ekspektasi kebijakan moneter yang lebih ketat dalam jangka pendek.
Nominasi figur hawkish seperti Kevin Warsh sebagai calon Ketua The Fed turut memberikan sentimen negatif sementara terhadap emas, karena mendorong kenaikan imbal hasil obligasi dan meningkatkan daya tarik aset berbasis dolar.
Meski demikian, Andy menilai tekanan tersebut belum cukup kuat untuk membalikkan tren utama emas. Jika tekanan tren bullish kembali berlanjut dan sentimen pasar mulai membaik, XAU/USD berpotensi melanjutkan kenaikan hingga mendekati level 5.282 pada pekan depan.
"Level ini menjadi area target teknikal yang cukup penting, terutama jika harga mampu bertahan di atas zona support dinamis dan minat beli kembali meningkat," ungkap dia.
Di sisi lain, Dupoin Futures juga menyiapkan skenario alternatif yang perlu diwaspadai pelaku pasar. Apabila harga emas mengalami reversal yang lebih dalam dan menembus key point di area USD4.368, maka potensi penurunan lanjutan terbuka hingga ke level 4.033 pada pekan depan.
"Skenario ini dapat terjadi apabila dolar AS terus menguat dan data ekonomi AS kembali dirilis lebih baik dari ekspektasi, sehingga menekan harga logam mulia," ucap Andy menekankan.
| Baca juga: Harga Emas Dunia Jatuh Lagi |
.jpg)
(Ilustrasi pergerakan harga emas. Foto: dok Bappebti)
Pemotongan suku bunga Fed jadi faktor pergerakan harga emas
Dari sisi fundamental, prospek emas dalam jangka menengah hingga panjang masih relatif solid. Ekspektasi pemotongan suku bunga The Fed sepanjang 2026 menjadi salah satu faktor pendukung utama, karena penurunan suku bunga cenderung menekan imbal hasil riil dan mengurangi biaya peluang dalam memegang emas.
Selain itu, permintaan emas sebagai aset lindung nilai masih kuat, terutama dari kalangan investor institusional dan bank sentral global, yang terus melakukan diversifikasi cadangan devisa.
Sejumlah bank besar dunia juga masih mempertahankan proyeksi bullish untuk harga emas secara tahunan, meskipun dalam jangka pendek terjadi koreksi yang cukup tajam. Hal ini menunjukkan fundamental permintaan emas dinilai tetap utuh, terlepas dari volatilitas jangka pendek yang dipicu sentimen kebijakan moneter.
Ke depan, pergerakan harga emas diperkirakan akan sangat dipengaruhi oleh rilis data ekonomi utama AS, seperti data tenaga kerja, inflasi, serta ekspektasi CPI dan real yield. Data-data tersebut berpotensi menjadi katalis pergerakan besar, terutama jika hasilnya keluar jauh dari konsensus pasar.
"Oleh karena itu, pelaku pasar diimbau untuk tetap mencermati perkembangan fundamental dan teknikal secara seimbang dalam mengambil keputusan transaksi emas hari ini," ucap Andy.