Tren

Ilustrasi tren Warren Buffetts. Foto: South China Morning Post

Tren "Warren Buffett Kecil", Orang Tua di Cina Ikutkan Anak Kelas Finansial Rp34 Juta

Muhamad Marup • 6 August 2026 17:24

Jakarta: Cina sebagai salah satu kekuatan ekonomi dunia memiliki masyarakat yang menyadari pentingnya literasi keuangan sejak usia dini. Hal ini tampak munculnya tren "Warren Buffett Kecil", yaitu para orang tua di Cina mendaftarkan anaknya untuk mengikuti kelas finansial selama musim panas.

Warren Buffett adalah seorang investor, pengusaha, dan filantropis asal Amerika Serikat yang dikenal sebagai salah satu investor paling sukses dalam sejarah. Ia merupakan pemimpin dan pemegang saham mayoritas perusahaan konglomerat Berkshire Hathaway serta dijuluki sebagai "Oracle of Omaha"

Melansir Phoenix Weekly dari South China Morning Post, tren ini muncul dari orang tua yang khawatir tentang masa depan anak-anak mereka. Selama dua tahun terakhir, kelas pelatihan kecerdasan finansial (FQ) baru yang bertujuan untuk melahirkan “Warren Buffett kecil” telah mendapatkan popularitas yang signifikan.

Tren ini berhasil menyaingi kebiasaan liburan di Cina. Biasanya, setiap musim panas, orang tua di Cina daratan mengirim anak-anak mereka untuk mengikuti berbagai kamp pelatihan fisik yang mahal atau bahkan melakukan perjalanan ke Afrika untuk mengamati migrasi hewan.

Saking populernya tren tersebut, orang tua harus memesan tempat beberapa bulan sebelumnya. Beberapa orang tua bahkan menggunakan media sosial untuk menanyakan apakah kamp pelatihan tatap muka akan diadakan di kota mereka.

Biaya dan Program

Berdasarkan laporan tersebut, kelas-kelas finansial tersebut menampilkan berbagai slogan yang provokatif terkait kemiskinan. Beberapa di antaranya yaitu “Kemiskinan bukanlah status, melainkan pola pikir.” “Kamu adalah beban bagi orang tuamu saat masih muda, tetapi kamu akan menjadi aset mereka saat dewasa.”

Kelas-kelas tersebut biasanya berlangsung selama seminggu hingga 10 hari dan mengenakan biaya minimal 12.800 yuan atau sekitar Rp34 juta per anak. Para siswa memperoleh literasi keuangan dasar dan belajar tentang kewirausahaan serta pengelolaan keuangan.

Di Daxiang Teenage FQ Summer Camp, misalnya, para instruktur mensimulasikan pasar saham, pertemuan investor, dan skenario perdagangan produk bahan makanan. Mereka juga memberikan token kepada siswa yang berpartisipasi dalam kegiatan jual beli di "pasar" tersebut serta membimbing para siswa untuk mengevaluasi keuntungan dan kerugian mereka di akhir setiap hari.

Kamp lainnya, FQ Little General, menyelenggarakan kegiatan di mana siswa mengidentifikasi peluang bisnis potensial, menjual barang-barang kecil di kios jalanan, menulis rencana bisnis, dan menyiapkan laporan keuangan. Para siswa juga melakukan simulasi presentasi bisnis dalam bahasa Inggris dan menjawab pertanyaan-pertanyaan menantang dari "investor."

Seorang siswa mempresentasikan rencana keuangan di salah satu kamp pelatihan FQ. Foto: QQ.com

Selain sesi pelatihan FQ dasar ini, beberapa kamp juga menawarkan program lanjutan dan khusus dengan harga lebih tinggi. Kelas lanjutan bertujuan untuk mengembangkan keterampilan kepemimpinan umum atau kewirausahaan di bidang STEM (sains, teknologi, teknik, dan matematika).

Sebagai daya tarik, beberapa kamp juga menggandeng akademisi dan pakar keuangan untuk memberikan wawasan kepada siswa tentang industri tersebut.

Berbagai Respons

Seorang ibu dari provinsi Zhejiang di Tiongkok timur melaporkan bahwa putrinya yang masih duduk di sekolah dasar memberikan respons positif usai anaknya mengikuti kamp FQ. Tidak hanya pada aspek ekonomi, tapi juga keseluruhan proses belajar

"Dia telah berubah secara signifikan. Dulu, dia malas belajar. Sekarang dia memiliki tujuan yang jelas: menghasilkan uang. Saya perhatikan dia jauh lebih fokus pada tugas-tugasnya,” kata sang ibu, yang bernama Mei, di media sosial.

Namun, beberapa orang tua juga khawatir anak-anak mereka menjadi terlalu berorientasi pada uang setelah pelatihan FQ. Beberapa anak mulai mencari imbalan dari orang tua atas prestasi akademik atau pekerjaan rumah tangga yang mereka selesaikan. Seorang ibu dari provinsi Henan di Tiongkok tengah menyebutkan bahwa ia tidak akan mengirim putranya yang berusia tujuh tahun ke kamp FQ. Menurutnya, kamp-kamp tersebut gagal mengajarkan anak-anak bahwa kesuksesan bisnis tidak diraih dalam semalam.

"Data di seluruh dunia menunjukkan bahwa 90 persen perusahaan rintisan gagal. Namun, di kelas FQ ini, anak-anak dengan mudah belajar menghasilkan uang. Ini adalah acara bisnis, bukan cerminan dari usaha di dunia nyata,” ujarnya.

Munculnya kamp-kamp FQ (Fraternal Order of the Quarantine) untuk kaum muda sering dikaitkan dengan pasar kerja yang menantang di Tiongkok. Tingkat pengangguran perkotaan secara keseluruhan di negara itu adalah lima persen pada bulan Juni, tetapi tingkat pengangguran untuk mereka yang berusia 16-24 tahun, tidak termasuk pelajar, mendekati 15 persen, menurut Biro Statistik Nasional.

(Muhamad Marup)