Perjuangan RA Kartini: Dari Pingitan hingga Membuka Jalan Emansipasi Perempuan

Ilustrasi Hari Kartini.

Perjuangan RA Kartini: Dari Pingitan hingga Membuka Jalan Emansipasi Perempuan

Lukman Diah Sari • 21 April 2026 06:00

Jepara: Jepara: Nama Raden Ajeng Kartini tidak pernah lepas dari sejarah emansipasi perempuan Indonesia. Di balik peringatan Hari Kartini 21 April, tersimpan perjuangan seorang bangsawan Jawa yang membuka akses pendidikan dan kesetaraan bagi kaum perempuan.

Hari Kartini diperingati setiap 21 April. Peringatan ini ditetapkan oleh Presiden Soekarno melalui Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 108 Tahun 1964 pada 2 Mei 1964. Isi dari Keppres tersebut adalah menetapkan R.A. Kartini sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional sekaligus menetapkan hari lahir Kartini 21 April yang lebih dikenal dengan Hari Kartini.

Biografi Kartini

RA Kartini lahir sebagai bangsawan, putri dari Raden Mas Adipati Ario Sosoningrat dan MA Ngasirah pada 21 April 1879, yang merupakan Bupati Jepara. melansir Medcom.id, Kartini termasuk perempuan yang beruntung kala itu, lantaran dapat merasakan Pendidikan di Europeesche Lagere School (ELS). Kala itu, pendidikan untuk perempuan sangat langka. 

Kartini belajar sangat tekun saat itu, namun terpaksa berhenti pada usia 12 tahun lantaran harus menjalani tradisi pingitan. Dia harus tinggal di rumah hingga Waktu pernikahan tiba.  Kondisi tersebut justru membuat rasa kritis Kartini bangkit, khususnya terhadap perempuan. Selama pingitan, kartini tetap belajar dan aktif membaca di taman rumah. Kartini bahkan telah melahirkan sejumlah tulisan tentang perempuan di usianya yang masih 14 tahun, seperti Upacara Perkawinan pada Suku Koja yang terbit di Holandsche Leile.

Selama masa pingitan, Kartini selalui menjalin korespondensi dengan sahabat-sahabatnya di Belanda. Melalui surat-surat tersebut, Kartini menyuarakan pikirannya perihal pentingnya pendidikan bagi perempuan, kesetaraan hak, serta kritik terhadap sistem feodalisme dan kolonialisme yang menindas.

Pernikahan Kartini

Para 1903, Kartini menikah dengan Bupati Rembang, K.R.M Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat. meskipun telah menikah, Kartini tetap berkomitmen memperjuangkan nasib perempuan. Beruntung, suami Kartini memberikan dukungan penuh terhadap dirinya untuk memajukan pendidian perempuan. 

Kartini berhasil membangun sekolah perempuan di timur pintu gerbang perkantoran Rembang, meskipun telah berstatus istri. Ia pun mengabdi sebagai guru untuk perempuan di sekitarnya.  Dari pernikahan itu, Kartini dan suaminya dikaruniai seorang putra bernama Soesalit Djojoadhiningrat yang lahir pada 13 September 1904. Namun empat hari pascamelahirkan, yakni 17 September 1904, Kartini meninggal di usia 25 tahun. Kartini dimakamkan di Desa Bulu, Kecamatan Bulu, Rembang, Jawa Tengah. 

Habis Gelap Terbitlah Terang

Tujuh tahun setelah RA Kartini meninggal, kumpulan surat yang pernah ditulis dikumpulkan oleh Mr. J.H. Abendanon dan diterbitkan menjadi buku berjudul Door Duisternis tot Licht yang berarti Habis Gelap Terbitlah Terang. Buku ini diterbitkan pada 1911. 

Tercatat, tokoh Belanda seperti Abendanon turut memperjuangkan agar pemikiran Kartini didengar oleh khalayak luas, sehingga buku tersebut menjadi inspirasi banyak orang tidak hanya di Indonesia, tetapi juga di Eropa. Pemerintah kemudian menetapkan 21 April sebagai Hari Kartini, untuk mengenan jasa dan perjuanganya dalam memperjuangkan hak perempuan Indonesia. Peringatan Hari Kartini bukan cuma simbol, melainkan momentum untuk melanjutkan gerakan sosial dalam memperjuangkan hak perempuan hingga kesetaraan gender di tengah tantangan era modern saat ini. 

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Lukman Diah Sari)