Kepala Staf Pasukan Israel Berencana Tempuh Jalur Hukum atas Film NAZA

Kepala Staf IDF Letnan Jenderal Eyal Zamir. (Israel Defence Force)

Kepala Staf Pasukan Israel Berencana Tempuh Jalur Hukum atas Film NAZA

Willy Haryono • 15 September 2026 13:32

Tel Aviv: Kepala Staf Pasukan Pertahanan Israel (IDF) Letnan Jenderal Eyal Zamir memerintahkan pejabat hukum tertinggi militer Israel untuk mengkaji kemungkinan menempuh jalur hukum terhadap film dokumenter NAZA dan pihak-pihak yang terlibat dalam produksinya.

Dikutip dari TOI, Zamir menilai film tersebut mencemarkan nama baik militer Israel. Ia juga secara terpisah memerintahkan penyelidikan mengenai dugaan kebocoran materi rahasia yang digunakan dalam produksi dokumenter tersebut.

Perintah itu dikeluarkan pada Senin, 14 September 2026, tak lama setelah juru bicara IDF Brigadir Jenderal Effie Defrin mengundang pembuat NAZA, Yuval Abraham dan Rachel Szor, untuk memberikan kesempatan kepada pejabat militer menonton film tersebut secara utuh.

Defrin mengatakan langkah itu diperlukan agar IDF dapat memberikan tanggapan secara “substantif”. Hingga kini, militer Israel baru merespons potongan film yang beredar secara daring dan belum menonton keseluruhan dokumenter.

Film berdurasi 80 menit tersebut mengangkat dugaan penggunaan kecerdasan buatan (AI) dalam serangan Israel di Jalur Gaza yang disebut menyebabkan kematian warga sipil. Film itu memuat kesaksian 24 orang yang disebut sebagai personel intelijen Israel, dengan identitas sebagian narasumber dirahasiakan.

Dugaan Penggunaan AI

Judul NAZA merupakan akronim dalam bahasa Ibrani yang merujuk pada istilah collateral damage atau “kerusakan tambahan."

Film tersebut mengklaim mengungkap sistem serangan berbasis AI dan proses penentuan target militer Israel di Gaza. Salah satu narasumber anonim menggambarkan apa yang disebutnya sebagai “pembunuhan massal dalam skala industri”.

Menurut kesaksian yang ditampilkan dalam film, sebuah sistem berbantuan AI digunakan untuk mengidentifikasi target berdasarkan data yang dikumpulkan dari ribuan telepon seluler yang diretas.

Israel menolak premis tersebut. Pemerintah dan militer Israel mengatakan telah melakukan berbagai upaya untuk meminimalkan korban sipil dalam operasi di Gaza. Israel juga menuduh Hamas menggunakan warga sipil sebagai perisai manusia di wilayah padat penduduk, tuduhan yang dibantah Hamas.

Sehari setelah pemutaran perdana NAZA di Festival Film Venesia dan sebelum film tersebut memperoleh penghargaan, IDF mengeluarkan pernyataan yang secara tegas menolak tuduhan dalam dokumenter tersebut.

Militer Israel juga mempertanyakan penggunaan kesaksian anonim. IDF menegaskan keputusan terkait pemilihan dan persetujuan serangan dilakukan “hanya oleh personel manusia," bukan oleh kecerdasan buatan.

Zamir Tuduh NAZA Cemarkan IDF

Dalam pernyataan setelah menggelar pertemuan dengan jajaran senior militer pada Senin, Zamir menuduh NAZA bukan sekadar film yang mengkritik IDF.

“Menurut laporan yang muncul sejauh ini, ini bukan film yang mengkritik IDF dan bukan upaya untuk mencari kebenaran. Film ini didasarkan pada fitnah, distorsi realitas yang disengaja, serta tuduhan palsu dan serius terhadap tentara dan komandan IDF,” kata Zamir.

Ia juga menuduh film tersebut mengadopsi narasi pihak-pihak yang memusuhi Israel dan berupaya menggambarkan IDF sebagai institusi yang secara sengaja bertindak melanggar hukum.

Menurut Zamir, NAZA dapat mengancam legitimasi Israel untuk mempertahankan diri sekaligus membahayakan keselamatan personel militer Israel.

“Kami tidak akan membiarkan tentara IDF dijadikan sasaran melalui kebohongan dan fitnah,” ujarnya.

Zamir kemudian memerintahkan pembentukan tim lintas organisasi dan multidisiplin yang dipimpin Direktorat Perencanaan IDF. Tim tersebut akan menyusun langkah untuk menghadapi klaim yang dianggap palsu terhadap IDF dan personelnya, dengan melibatkan para ahli dari Israel maupun luar negeri.

IDF Selidiki Kebocoran Materi Rahasia

Zamir juga meminta Jaksa Militer Israel, Mayor Jenderal Itai Ofir, untuk mengkaji dan mengupayakan kemungkinan tindakan hukum terhadap film dan pihak-pihak yang terlibat dalam produksinya.

Kajian tersebut berkaitan dengan dugaan penyebaran klaim palsu terhadap personel IDF serta kemungkinan dampaknya terhadap keamanan pribadi mereka dan keamanan negara.

Selain aspek hukum, Zamir memerintahkan jajaran senior militer untuk menyelidiki aspek keamanan informasi dan kemungkinan pihak-pihak yang terlibat dalam kebocoran materi rahasia yang digunakan dalam pembuatan NAZA.

Langkah tersebut menempatkan dokumenter yang baru saja meraih Penghargaan Juri Khusus di Festival Film Venesia itu di tengah perseteruan yang lebih luas antara militer Israel dan para pembuat film mengenai operasi militer di Gaza, penggunaan AI, serta pertanggungjawaban atas korban sipil.

Namun, di tengah respons keras tersebut, IDF hingga kini belum melihat film NAZA secara utuh. Militer Israel sebelumnya menyatakan tanggapannya didasarkan pada materi dan potongan film yang telah beredar secara daring.

Baca juga: Lebih dari 200 Sineas Israel Dukung Film NAZA yang Ceritakan Serangan di Gaza

(Willy Haryono)