Belajar Menahan Marah

Ahmad Punto Dewan Redaksi Media Group(MI/Ebet)

Podium Media Indonesia

Belajar Menahan Marah

Media Indonesia • 26 August 2026 08:12

KITA agaknya sedang menjadi bangsa yang semakin mudah marah. Persoalan sekecil apa pun, saat ini, seolah sangat gampang memicu amarah.

Ambillah contoh di jalan raya, perkara sepele bisa berubah menjadi pertengkaran. Salah paham sedikit, klakson bersahutan, adu mulut, tak sedikit yang berujung kekerasan. Perebutan ruang parkir, serempetan kendaraan, saling serobot di persimpangan, atau sekadar merasa didahului orang lain, bisa menjadi pemicu perkelahian.

Dulu, kemarahan semacam itu mungkin hanya disaksikan beberapa orang di sekitar kejadian. Sekarang tidak. Persoalan kecil bisa berubah menjadi perkara besar, terlebih setelah hadirnya ponsel pintar dan media sosial. Kini satu ledakan emosi bisa ditonton ribuan, bahkan jutaan orang. Media sosial membuat kemarahan punya panggung besar.

Celakanya, satu kemarahan itu kemudian sering kali menular. Orang semakin mudah terseret ke dalam kemarahan orang lain. Ketika melihat seseorang marah, kita ikut marah. Ketika melihat seseorang dihujat, kita ikut menghujat. Padahal kita belum tahu seluruh persoalannya, hanya menonton potongan video yang viral.

Kita seperti kehilangan jeda untuk berpikir sebelum berbicara atau berkomentar. Jeda untuk memeriksa sebelum menyimpulkan. Jeda untuk memahami sebelum menghakimi. Semua hal seolah harus serbacepat. Respons harus cepat. Komentar harus cepat. Bahkan kemarahan pun harus cepat.

Fenomena itu tidak berhenti di jalan raya. Budaya cepat marah atau reaktif tidak hanya tumbuh di tengah masyarakat. Ia juga masuk ke ruang publik, politik, bahkan pemerintahan. Perbedaan pendapat dengan mudah berubah menjadi permusuhan. Kritik kerap dianggap sebagai serangan. Perdebatan sering berubah menjadi saling merendahkan.

Dalam situasi seperti itu, media sosial menjadi punya dua wajah. Di satu sisi, ia memperkuat kontrol masyarakat. Keluhan warga yang dulu sulit terdengar kini dapat sampai kepada pejabat dalam hitungan jam. Pelayanan publik yang buruk bisa segera diketahui. Aparat yang melakukan kesalahan dapat dikoreksi secara terbuka. Itu wajah baiknya.

Akan tetapi, ada risiko lain. Ada wajah lain yang mesti diwaspadai. Jangan sampai negara bekerja berdasarkan seberapa keras sebuah persoalan diteriakkan di media sosial. Tidak semua persoalan yang viral ialah persoalan yang paling penting. Sebaliknya, tidak semua persoalan penting akan menjadi viral.

Kalau kebijakan dibuat karena tekanan paling ramai, bukan karena kebutuhan paling mendesak, sesungguhnya kita sedang menggeser cara kerja pemerintahan, dari berbasis sistem menjadi berbasis momentum. Negara mestinya tidak boleh kehilangan ketenangan hanya karena sebuah persoalan sedang ramai diperbincangkan atau sedang kencang disuarakan.

Pemerintah membutuhkan kesabaran. Namun, bukan kesabaran untuk membiarkan masalah berlarut atau menutup telinga terhadap kritik, melainkan kesabaran untuk memilah mana kritik yang harus dijawab, mana persoalan yang harus segera diselesaikan, dan mana kegaduhan yang tidak perlu dibalas dengan kegaduhan baru. Kekuasaan juga butuh ketegasan. Namun, bukan ketegasan yang identik dengan kemarahan.

Di tengah suasana kita sedang menghadapi masyarakat yang kian mudah tersulut itu, kiranya peringatan maulid Nabi Muhammad SAW menjadi sangat relevan. Maulid semestinya bukan hanya kesempatan untuk mengenang kelahiran Nabi. Lebih dari itu, maulid ialah kesempatan untuk becermin sejauh mana kita benar-benar meneladani akhlaknya.

Ilustrasi freepik

Nabi Muhammad bukan sosok yang hidup tanpa konflik. Ia menghadapi penolakan, penghinaan, fitnah, tekanan, dan bahkan kekerasan. Salah satu kekuatan keteladanan Nabi justru terlihat dari kemampuan mengendalikan diri ketika menghadapi semua itu.

Dalam sebuah hadis yang sangat dikenal, Nabi mengingatkan bahwa orang kuat bukanlah orang yang mampu mengalahkan orang lain, melainkan orang yang mampu menguasai dirinya ketika marah.

Pesannya sederhana, tetapi terasa semakin relevan. Kita boleh kecewa. Boleh tidak setuju. Boleh mengkritik. Bahkan terhadap kesalahan yang serius, kemarahan moral diperlukan. Namun, kemarahan tidak boleh menguasai atau mengambil alih akal sehat.

Seperti itulah kiranya yang kita perlukan hari ini. Bukan masyarakat yang tidak pernah marah, melainkan yang tahu kapan harus marah dan kapan harus menahan diri. Bukan ruang publik yang bebas dari perbedaan, melainkan yang mampu mengelola perbedaan tanpa mengubahnya jadi permusuhan. Bukan pemerintah yang diam ketika dikritik, melainkan yang mampu menerima kritik tanpa merasa setiap kritik sebagai ancaman.

Di tengah zaman yang membuat segala sesuatu bergerak begitu cepat, yang paling kita perlukan saat ini bukanlah kemarahan yang datang lebih cepat atau suara yang lebih keras. Yang kita butuhkan ialah lebih banyak kesabaran dan ketekunan belajar menahan marah.

Jika setelah maulid kita masih mudah marah karena disalip di jalan, mudah menghujat karena berbeda pilihan, mudah tersinggung ketika dikritik, dan mudah menghakimi hanya karena melihat potongan video, mungkin ada sesuatu yang belum selesai dalam cara kita memaknai keteladanan akhlak Nabi Muhammad.

(Siti Yona Hukmana)