Ilustrasi perdagangan saham di Wall Street. Foto: Xinhua/Wang Ying.
Saham AS Ditutup Melejit di Akhir Maret, Nasdaq Paling Royal Tebar Cuan
Husen Miftahudin • 1 April 2026 08:22
New York: Saham-saham Amerika Serikat (AS) di Wall Street melonjak pada perdagangan Selasa waktu setempat (Rabu WIB). Investor terbawa dalam reli pemulihan besar-besaran di tengah harapan baru akan de-eskalasi Timur Tengah.
Pesan-pesan seputar operasi AS-Israel yang sedang berlangsung terhadap Iran mengalami perubahan positif setelah sebuah laporan yang menyebutkan Presiden AS Donald Trump mengatakan kepada para ajudannya ia akan terbuka untuk keluar dari perang tanpa harus membuka kembali Selat Hormuz secara besar-besaran.
Sementara itu, televisi pemerintah Iran melaporkan negara itu siap untuk mengakhiri perang jika diberikan jaminan keamanan, mengutip pernyataan Presiden Masoud Pezeshkian.
Mengutip Investing.com, Rabu, 1 April 2026, indeks acuan S&P 500 naik 2,9 persen dan ditutup pada 6.528,99 poin. Sementara indeks Nasdaq Composite yang didominasi saham teknologi melonjak 3,8 persen dan ditutup pada 21.590,63 poin. Sedangkan indeks Dow Jones Industrial Average yang berisi saham-saham unggulan bertambah 2,5 persen dan ditutup pada 46.341,21 poin.
Sesi perdagangan besar-besaran pada Selasa membantu Nasdaq keluar dari wilayah koreksi sehari setelah Dow. Ketiga indeks utama tersebut masih mencatatkan kerugian besar di sepanjang Maret, dengan S&P turun sebanyak 5,1 persen dan Nasdaq turun 4,8 persen.
Kedua indeks tersebut mengalami kinerja bulanan terburuk sejak Maret 2025. Dow merosot 5,4 persen di sepanjang Maret, menjadi kerugian bulanan yang terbesar sejak September 2022.
| Baca juga: Iran Siap Akhiri Perang Jika Ada Jaminan Perang Tak Akan Terulang |

(Ilustrasi Wall Street. Foto: iStock)
Perang di Iran tidak akan berlangsung 'lebih lama'
Wall Street Journal melaporkan, Trump akan terbuka untuk mengakhiri kampanye militer yang telah berlangsung lebih dari sebulan meskipun Iran memegang kendali penuh atas Selat Hormuz yang penting.
Penutupan efektif selat tersebut selama berminggu-minggu telah memicu lonjakan tajam harga minyak global dan kekhawatiran akan resesi di berbagai negara di dunia.
Trump dan para pembantunya memperkirakan misi untuk membuka blokade selat tersebut akan memperpanjang jangka waktu serangan melebihi perkiraan waktu empat hingga enam minggu yang telah ia tetapkan, demikian dilaporkan WSJ.
Sebaliknya, presiden memutuskan AS harus menyerang angkatan laut dan persediaan rudal Iran dengan keras dan berupaya mengurangi permusuhan sambil menekan Teheran melalui diplomasi, mengutip pejabat pemerintah yang menambahkan Washington akan mengandalkan sekutu di Eropa dan Teluk Persia untuk memimpin di selat tersebut jika upaya-upaya itu gagal.
Trump kemudian mengatakan bahwa perang tidak akan berlangsung 'lebih lama lagi' dan selat tersebut akan secara otomatis terbuka kembali.
Selat Hormuz telah menjadi titik fokus utama konflik, dengan Teheran secara efektif memblokir jalur tersebut melalui ranjau dan serangan rudal. Kira-kira seperlima dari minyak dunia mengalir melalui jalur air sempit di lepas pantai selatan Iran.
Pekan lalu, Trump menetapkan tenggat waktu 6 April bagi Teheran untuk membuka kembali selat tersebut atau menghadapi serangan AS terhadap infrastruktur energi dan air utamanya. Namun Iran sebagian besar menolak seruan untuk membuka blokade selat tersebut dan telah menyerang kapal tanker yang mencoba melewati Hormuz dalam sebulan terakhir.