Selain Penculikan Jurnalis Indonesia, Israel Sebabkan 86 Kematian Jurnalis di 2025

Ilustrasi Pexels

Selain Penculikan Jurnalis Indonesia, Israel Sebabkan 86 Kematian Jurnalis di 2025

Muhamad Marup • 19 May 2026 18:41

Jakarta: Empat jurnalis Indonesia diculik militer Israel pada Senin, 18 Mei 2026 saat misi kemanusiaan Global Sumud Flotilla. Tindakan tersebut menambah daftar panjang kekerasan Israel terhadap jurnalis yang meningkat sejak eskalasi konflik yang melibatkan negara tersebut.

Salah satu data yang menunjukkan kekerasan Israel terhadap jurnalis dihimpun Committe to Protect Journalist (CPJ). Organisasi nirlaba independen yang mempromosikan kebebasan pers di seluruh dunia itu mendata kematian jurnalis di wilayah konflik selama 2025.

"Kami membela hak jurnalis untuk melaporkan berita dengan aman dan tanpa takut akan pembalasan," tulis CPJ dalam situs resminya.

Israel sebabkan kematian 86 jurnalis

Hasil yang didapat CPJ sangat mengejutkan. Dari 129 kematian jurnalis di wilayah konflik, Israel menyebabkan kematian terhadap 86 jurnalis atau sekitar 2/3-nya.

"Angka tertinggi yang pernah didokumentasikan oleh CPJ sejak organisasi tersebut mulai mencatat lebih dari tiga dekade lalu," tulis CPJ dalam laporan berjudul Record 129 press members killed in 2025; Israel responsible for 2/3 of deaths yang dipublikasikan 25 Februari 2026.

Angka tersebut sekaligus menempatkan Israel sebagai pemegang rekor penyebab kematian jurnalis selama dua tahun berturut-turut. Lebih dari 60% dari 86 anggota pers yang tewas akibat tembakan Israel pada tahun 2025 adalah warga Palestina yang meliput dari Gaza, tempat kelompok hak asasi manusia dan para ahli PBB sepakat bahwa genosida sedang terjadi.

Lebih dari tiga perempat dari semua kematian jurnalis pada tahun 2025 terjadi di lingkungan konflik. Selain Israel, laporan tersebut juga menyebut negara lain yang menyebabkan kematian jurnalis yaitu Sudan (9 jurnalis), Meksiko (6 jurnalis), Rusia (4 jurnalis), dan Filipina (3 jurnalis).

Jumlah kematian berpotensi lebih tinggi


Ilustrasi Pexels

CPJ menilai, jumlah kematian yang disebabkan Israel lebih tinggi karena kesulitan mengakses data. Sebagai contoh, dalam konflik Isreal-Palestina, terdapat berbagai kondisi seperti larangan akses pers asing independen, infrastruktur komunikasi yang hancur, pengungsian massal, dan hilangnya nyawa secara luas, sulit untuk menyelidiki keadaan setiap kematian.

"Dengan banyak bukti kontemporer yang kini telah hancur, jumlah sebenarnya jurnalis Palestina di Gaza yang sengaja menjadi sasaran Israel mungkin tidak akan pernah diketahui," tulis CPJ.

CPJ telah menyerukan kepada otoritas internasional untuk memastikan bahwa semua kasus kematian pers diselidiki secara independen dan tidak memihak sebagai kejahatan perang, mengingat keengganan Israel yang sudah lama untuk menyelidiki dan menuntut kejahatan yang dilakukan oleh militernya.

"Para pelaku dari individu-individu di unit IDF hingga tingkat tertinggi rantai komando harus dimintai pertanggungjawabannya," tulis CPJ.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Muhamad Marup)