Ilustrasi. Foto: Freepik.
Meski Sudah Cetak Rekor Tertinggi, Harga Emas Masih Terus 'Ngacir'
Husen Miftahudin • 12 January 2026 11:20
Jakarta: Harga emas (XAU/USD) dunia kembali menorehkan kinerja impresif pada awal pekan ini, melanjutkan reli kuat yang telah terbentuk sejak pekan lalu. Emas tercatat bergerak di kisaran USD4.507 per troy ons pada akhir perdagangan Jumat, menguat sekitar 0,65 persen dan berada di jalur kenaikan mingguan hampir empat persen.
Kinerja ini mencerminkan kombinasi antara data ketenagakerjaan Amerika Serikat (AS) yang beragam dan ekspektasi pasar yang semakin menguat terhadap potensi penurunan suku bunga oleh Federal Reserve.
Menurut analis Dupoin Futures Andy Nugraha, struktur teknikal emas saat ini masih berada dalam fase bullish yang semakin menguat, ditopang oleh pola candlestick dan posisi indikator Moving Average yang tetap berada dalam konfigurasi positif.
"Momentum penguatan emas belum sepenuhnya kehilangan tenaga, meskipun harga sudah berada di wilayah tertinggi sepanjang masa. Secara teknikal, selama harga mampu bertahan di atas area support jangka pendek, tekanan beli diperkirakan masih akan mendominasi," jelas Andy, dikutip dari analisis harian Dupoin Futures, Senin, 12 Januari 2026.
Dalam proyeksi hariannya, jika tekanan bullish berlanjut, emas berpotensi melanjutkan kenaikan menuju area USD4.600. Level ini menjadi target psikologis penting yang mencerminkan keberlanjutan tren naik dalam jangka pendek.
Namun demikian, ia juga mengingatkan pasar yang telah naik tajam rentan terhadap koreksi. "Jika harga gagal mempertahankan momentum dan mulai terkoreksi, maka area USD4.536 dipandang sebagai zona penopang terdekat yang berpotensi menahan tekanan jual," beber Andy.
Dari sisi fundamental, reli emas saat ini mendapat dorongan kuat dari meningkatnya permintaan safe haven di tengah ketidakpastian geopolitik global. Harga emas bahkan sempat menyentuh rekor tertinggi baru di sekitar USD4.555 pada sesi Asia, Senin, 12 Januari 2026.
| Baca juga: Harga Emas Dunia Cetak Rekor Tertinggi Sepanjang Masa |
.jpg)
(Ilustrasi pergerakan harga emas. Foto: dok Bappebti)
Ketegangan geopolitik makin memanas
Ketegangan internasional meningkat setelah laporan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mempertimbangkan opsi militer terhadap Iran menyusul gelombang protes berdarah di negara tersebut.
Di sisi lain, Inggris dan Jerman juga dikabarkan tengah membahas penguatan kehadiran militer mereka di Greenland sebagai sinyal keseriusan terhadap keamanan kawasan Arktik, menyusul dinamika geopolitik yang semakin kompleks setelah penangkapan mantan Presiden Venezuela Nicolas Maduro oleh pasukan AS. Lingkungan global yang sarat risiko ini memperkuat minat investor terhadap emas sebagai aset lindung nilai.
Selain faktor geopolitik, arah kebijakan moneter AS turut menjadi katalis utama pergerakan emas. Laporan ketenagakerjaan AS yang dirilis Jumat lalu menunjukkan hasil yang tidak sepenuhnya solid. Nonfarm Payrolls hanya bertambah sekitar 50 ribu pada Desember, lebih rendah dari ekspektasi pasar sebesar 60 ribu, meskipun tingkat pengangguran justru turun menjadi 4,4 persen.
"Data ini menimbulkan persepsi pasar tenaga kerja masih relatif stabil, tetapi laju pertumbuhan ekonomi mulai melambat. Kondisi tersebut memperkuat spekulasi Federal Reserve memiliki ruang untuk memangkas suku bunga pada tahun ini, yang pada akhirnya menurunkan imbal hasil riil dan membuat emas yang tidak memberikan bunga menjadi lebih menarik," papar Andy.
Sementara itu, imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun yang cenderung datar di sekitar 4,17 persen juga memberikan ruang bagi harga emas untuk tetap bertahan di level tinggi. Dengan latar belakang ini, Andy melihat bias bullish emas masih terjaga dalam jangka pendek hingga menengah.
Namun, ia menekankan pentingnya kewaspadaan terhadap rilis data inflasi AS, khususnya Indeks Harga Konsumen, yang akan menjadi penentu arah kebijakan The Fed selanjutnya.
"Selama data tidak menunjukkan lonjakan inflasi yang signifikan, emas diperkirakan masih akan berada dalam jalur penguatan, dengan volatilitas yang tetap tinggi seiring tarik-menarik antara sentimen safe haven dan dinamika kebijakan moneter global," urai dia.