BMKG Makassar Imbau Petani Petakan Kawasan Rawan Krisis Air

Ilustrasi - Kekeringan. (ANTARA/Raisan Al Farisi/dok)

BMKG Makassar Imbau Petani Petakan Kawasan Rawan Krisis Air

Silvana Febiari • 18 June 2026 08:06

Makassar: Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Wilayah IV Makassar mengimbau petani agar memetakan kawasan pertanian yang rawan krisis air. Langkah ini dilakukan sebagai bentuk antisipasi menghadapi El Nino atau kekeringan ekstrem pada Agustus-September 2026.

"Kami dari BMKG menyarankan para petani mulai memetakan wilayah yang rawan krisis air serta mempertimbangkan penggunaan bibit tanaman yang lebih tahan terhadap kondisi kering (kering ekstrem)," kata Ketua Tim Bidang Klimatologi BMKG Wilayah IV Makassar, Muflihah, dilansir dari Antara, Kamis, 18 Juni 2026. 

Kondisi kekeringan ekstrem ini, kata Muflihah dipastikan mampu mempengaruhi ketersediaan pasokan air. Hal ini berpengaruh terhadap kebutuhan air untuk sektor pertanian.
 


Tak hanya itu, BMKG juga menaruh perhatian terhadap dampak kesehatan masyarakat atas prediksi El Nino yang akan terjadi tahun ini.

Dia menjelaskan tidak adanya lapisan awan selama musim kemarau ekstrem ini diprediksi akan membuat paparan sinar matahari terasa jauh lebih menyengat. Oleh karena itu, BMKG mengingatkan masyarakat untuk mengantisipasi masalah kesehatan, seperti risiko dehidrasi dan meningkatnya polusi udara.

"Masyarakat disarankan untuk menggunakan masker dan pelindung kepala saat beraktivitas di luar ruangan," ungkapnya.

Muflihah juga menambahkan dalam lima tahun terakhir, fenomena El Nino dan La Nina menunjukkan tren yang lebih intens akibat adanya pengaruh perubahan iklim. Jeda antara kedua fenomena tersebut kini menjadi lebih singkat dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

"Perubahan iklim ini mulai terasa sejak 2019, yang mana terjadi luapan air di Makassar karena curah hujan yang begitu tinggi, termasuk kondisi La Nina maupun El Nino yang bergantian dengan cepat tanpa jeda," jelasnya.

Muflihah menegaskan BMKG akan terus memperbarui informasi cuaca dan iklim secara berkala melalui media sosial. Salah satunya segera berkoordinasi dengan pemerintah daerah melalui surat resmi ke Gubernur Sulawesi Selatan dan mengeluarkan rilis pers kepada masyarakat luas.


Ketua Tim Bidang Klimatologi Badan Metereologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Wilayah IV Makassar Muflihah. ANTARA/Nur Suhra Wardyah


Mengantisipasi fenomena kekeringan panjang yang dinilai berdampak pada sektor pertanian, Pemerintah Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap) sebagai lumbung pangan nasional mempercepat masa tanam para petani sebagai salah satu strategi menghadapi El Nino.

"Jadi masa tanamnya kita majukan sekitar satu bulan, yang biasanya masa tanam (MT) ke dua ini baru dimulai di Juni, sekarang sudah semua. MT ini kita lakukan lebih dulu di akhir April hingga Mei kemarin," ujar Kepala Bidang Sarana dan Prasarana DTPHP Sidrap Anju Saleh.

Dia menambahkan, petani telah diberikan edukasi dan pendampingan untuk menyesuaikan jadwal tanam dengan kondisi iklim yang berkembang. Hasilnya, banyak petani yang melakukan penanaman lebih awal dibanding pola tanam normal.

Langkah percepatan tanam tersebut dinilai efektif dalam menjaga produktivitas pertanian di tengah ancaman El Nino.

(Silvana Febiari)