Warga Nekat Jual Tramadol Ilegal di Tanah Abang, Ini Alasannya

Penjual obat keras Tramadol secara terang-terangan tetap marak di Tanah Abang. Foto- Metrotvnews.com/Enrich Samuel

Warga Nekat Jual Tramadol Ilegal di Tanah Abang, Ini Alasannya

Enrich Samuel • 19 February 2026 19:28

Jakarta: Praktik penjualan obat keras jenis tramadol secara ilegal, marak di kawasan Pasar Tanah Abang dan sekitar Jalan KS Tubun, Jakarta Pusat. Meski aparat beberapa kali menggelar penertiban, sejumlah pedagang tetap beroperasi dengan alasan tuntutan ekonomi dan kebutuhan hidup sehari-hari.

Seorang penjual tramadol yang menggunakan nama samaran Bang Beng mengakui banyak orang menjajakan tramadol demi mencari keuntungan cepat. Ia menyebut sebagian penjual memanfaatkan tingginya permintaan dari kalangan pekerja.

“Kalau buat penjualan di Tanah Abang memang orang-orang nyari untung juga. Tramadol ini kan buat doping badan, biar enak, biar hilang pegal-pegal,” kata Bang Beng saat ditemui di kawasan tersebut.

Bang Beng mengungkapkan para penjual datang dari berbagai daerah, tidak hanya warga sekitar. Ia menyebut praktik itu terbuka bagi siapa saja yang ingin mencari uang.
 


“Orang mana saja jual. Kadang pendatang, kadang anak wilayah. Tergantung yang niat mau nyari duitnya saja. Hidup di Jakarta sulit juga, Bang,” ujarnya.

Ia menjelaskan para penjual biasanya mengambil barang dari pemasok yang berbeda-beda. Dalam sekali ambil, seorang penjual bisa membawa satu boks berisi ratusan butir.

“Seboks itu kadang 120 butir. Harga ambilnya beda-beda, tergantung lagi naik atau tidak,” ucapnya.

Para pedagang kemudian menjualnya dengan kisaran Rp30 ribu hingga Rp40 ribu per strip. “Standarnya segitu. Kalau mau malam takbiran pasti naik,” katanya.

Menurut dia, permintaan tidak hanya datang dari pembeli lokal. Sejumlah pembeli dari luar kota bahkan membeli dalam jumlah besar untuk dijual kembali.

“Dari daerah jauh juga ada, Sukabumi misalnya. Bisa beli lima sampai 10 boks. Kadang buat dijual lagi, kadang buat konsumsi sendiri,” tuturnya.

Bang Beng mengaku bisa meraup keuntungan bersih hingga Rp200 ribu sampai Rp300 ribu per hari saat permintaan tinggi.

“Itu bersih. Kalau yang beli lebih dari satu boks, per boks bisa untung Rp50 ribu sampai Rp70 ribu,” ujarnya.

Ia menegaskan penghasilan itu menjadi penopang kebutuhan rumah tangganya. “Butuh juga nyari duit buat rumah tangga, buat gedein anak di rumah,” katanya.

Terkait penertiban aparat, Bang Beng mengaku tidak selalu mendapat pemberitahuan. Ia mengandalkan insting dan informasi dari sesama penjual untuk menghindari razia.


Penjual obat keras Tramadol secara terang-terangan tetap marak di Tanah Abang. Foto- Metrotvnews.com/Enrich Samuel  

“Kadang kalau feeling kurang bagus ya enggak keluar. Kadang ada teman kasih info,” ucapnya. Ia menyadari praktik tersebut melanggar hukum dan berisiko. “Banyak juga kawan saya yang ditangkapin. Karena ini sebenarnya enggak boleh, obat terlarang,” katanya.

Pengakuan itu menunjukkan praktik penjualan tramadol ilegal di Tanah Abang tidak hanya dipicu oleh tingginya permintaan, tetapi juga tekanan ekonomi yang mendorong sebagian warga mengambil risiko hukum demi bertahan hidup.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(M Sholahadhin Azhar)