Abaikan Gencatan Senjata, Serangan Israel di Lebanon Tewaskan 51 Orang

Lebanon terus menerus diserang Israel. Foto: The New York Times

Abaikan Gencatan Senjata, Serangan Israel di Lebanon Tewaskan 51 Orang

Dimas Chairullah • 11 May 2026 17:27

Beirut: Kementerian Kesehatan Lebanon melaporkan bahwa rentetan serangan militer Israel dalam kurun waktu 24 jam terakhir telah menewaskan 51 orang, termasuk dua petugas medis.

Gempuran mematikan ini tetap berlanjut dan bahkan kian meningkat meskipun kesepakatan gencatan senjata yang dimediasi oleh Amerika Serikat (AS) saat ini telah memasuki minggu ketiga.

Dalam pernyataannya pada hari Minggu waktu setempat, kementerian tersebut mengecam keras tindakan pasukan zionis yang dinilai secara terang-terangan terus melanggar hukum internasional dan norma kemanusiaan.

"Musuh Israel menambah daftar kejahatan terhadap paramedis dengan secara langsung menargetkan dua titik Otoritas Kesehatan di Qalawiya dan Tibnin, distrik Bint Jbeil, dalam dua serangan," ungkap pihak kementerian.

Sejak Israel meluncurkan operasi militer berskala besar yang baru pada 2 Maret lalu, Kementerian Kesehatan Lebanon mencatat setidaknya 2.846 orang telah tewas di seluruh penjuru negeri. Agresi ini juga berdampak parah pada tenaga kesehatan.

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyatakan bahwa sedikitnya 103 pekerja medis Lebanon gugur dan 230 lainnya luka-luka akibat lebih dari 130 serangan Israel yang menyasar fasilitas kesehatan. Gelombang serangan ini juga telah memaksa lebih dari 1,2 juta warga Lebanon mengungsi dari rumah mereka.

Situasi di lapangan kini sangat mencekam bagi para petugas tanggap darurat yang tersisa. Kepala Pertahanan Sipil Lebanon di Tyre, Ali Safiuddin, mengungkapkan keputusasaannya di tengah ancaman mematikan yang mengintai mereka setiap saat.

"Kami terancam setiap detik, setiap hari. Kami bertanya pada diri sendiri apakah kami akan bertahan hidup atau mati," keluh Safiuddin, sebagaimana dikutip dari laporan Al Jazeera, Senin, 11 Mei 2026.

"Kami tahu kami telah mengorbankan hidup kami dengan bekerja di sini. Kami telah kehilangan begitu banyak orang dan rasanya seperti kami pun sudah tiada,” imbuh Safiuddin.

Pola serangan yang menargetkan tenaga kesehatan ini dinilai bukan hal baru. Dr. Tahir Mohammed, seorang ahli bedah perang yang pernah bertugas di Gaza dan Lebanon, menegaskan kepada Al Jazeera bahwa dirinya melihat kesamaan yang jelas dalam tindakan Israel di kedua wilayah konflik tersebut.

"Dulu kami sering melihat kolega, perawat, hingga mahasiswa kedokteran di Gaza tewas akibat senjata Israel. Jadi, melihat kebijakan yang sama dalam menargetkan petugas kesehatan di Lebanon, itu sangat konsisten," ujar Dr. Mohammed.

Ia bahkan memperingatkan, "Jika Israel berhasil, mereka pasti akan menduduki seluruh wilayah selatan Lebanon. Mereka tidak peduli dengan nyawa, saya telah melihatnya dengan mata kepala sendiri."

Jurnalis Al Jazeera, Obaida Hitto, yang melaporkan langsung dari Tyre, menekankan bahwa hukum kemanusiaan internasional sejatinya mewajibkan perlindungan mutlak bagi personel medis dan petugas tanggap pertama di area konflik. Namun, kenyataan di lapangan berkata lain.

"Di garis depan ini, pertanyaannya bukanlah apakah serangan lain akan datang, melainkan berapa banyak orang yang akan tersisa untuk menjawab panggilan minta tolong," tutup Hitto.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Fajar Nugraha)