Goldman Sachs Kerek Proyeksi Harga Gas Eropa Gegara Gangguan Hormuz

Ilustrasi LNG di Eropa. Foto: Xinhua.

Goldman Sachs Kerek Proyeksi Harga Gas Eropa Gegara Gangguan Hormuz

Husen Miftahudin • 22 July 2026 08:58

New York: Goldman Sachs merevisi naik proyeksi jangka pendek harga gas alam Eropa setelah memperkirakan pemulihan ekspor gas alam cair (liquefied natural gas/LNG) dari kawasan Teluk Persia berlangsung lebih lambat dibandingkan perkiraan sebelumnya.
 
Mengutip Investing.com, Rabu, 22 Juli 2026, revisi tersebut dipicu gangguan pengiriman melalui Selat Hormuz yang masih berlanjut di tengah meningkatnya ketegangan di Timur Tengah.
 
Analis Goldman Sachs Samantha Dart memperkirakan ekspor LNG dari Teluk Persia baru akan kembali normal pada Oktober 2026, mundur dari proyeksi sebelumnya yang memperkirakan pemulihan pada Juli.
 
Penundaan tersebut mencerminkan masih terganggunya arus pelayaran melalui Selat Hormuz, jalur strategis yang menangani sekitar 20 persen konsumsi minyak dunia serta 20 persen ekspor LNG global.
 
Menurut Dart, berkurangnya pasokan LNG global selama sisa musim panas diperkirakan mencapai 16 juta ton per tahun atau sekitar empat persen dari total pasokan.
 

 

Cadangan gas Eropa diramal lebih rendah

 
Goldman Sachs memperkirakan penyimpanan gas di kawasan Eropa Barat Laut hanya akan terisi sekitar 67 persen pada akhir Oktober atau awal musim dingin. Angka tersebut lebih rendah dibandingkan proyeksi sebelumnya yang mencapai 74 persen.
 
Sementara itu, tingkat penyimpanan gas pada akhir musim dingin, tepatnya akhir Maret, diperkirakan berada di kisaran 28 persen, dengan asumsi kondisi suhu berlangsung sesuai rata-rata historis.
 
Seiring potensi pasokan yang lebih ketat, Goldman Sachs menaikkan proyeksi harga gas Title Transfer Facility (TTF) Belanda untuk paruh kedua 2026.
 
Bank investasi tersebut memperkirakan harga TTF pada kuartal III mencapai 60 euro per megawatt-jam (MWh), naik dari proyeksi sebelumnya 41 euro per MWh.
 
Untuk kuartal IV, harga diperkirakan berada di level 53 euro per MWh, lebih tinggi dibandingkan estimasi sebelumnya sebesar 40 euro per MWh. Sementara itu, proyeksi rata-rata harga sepanjang 2027 juga dinaikkan menjadi 31 euro per MWh dari sebelumnya 30 euro per MWh.


(Ilustrasi, sistem pipa gas LNG di Eropa. Foto: dok Xinhua)
 

Pasar masih rentan lonjakan harga

 
Dart menilai keseimbangan pasokan gas Eropa pada musim dingin mendatang masih sangat ketat sehingga menyisakan ruang yang terbatas terhadap potensi gangguan pasokan.
 
"Dengan perkiraan ketatnya keseimbangan gas musim dingin di Eropa yang menyisakan sedikit ruang untuk kesalahan, kami memperkirakan bahwa, untuk sisa musim panas ini, TTF akan diperdagangkan sangat dekat dengan ambang batas 65 euro per MWh," kata Dart.
 
Level tersebut dinilai menjadi batas harga yang dapat mengurangi permintaan LNG dari negara-negara Asia.
 
Goldman Sachs juga tetap merekomendasikan konsumen gas untuk melakukan lindung nilai (hedging) terhadap potensi lonjakan harga selama musim dingin.
 
Dalam skenario pemulihan ekspor energi Timur Tengah berlangsung secara bertahap hingga 2027, Goldman Sachs memperkirakan harga TTF berpotensi melampaui 100 euro per MWh agar permintaan LNG di Asia dapat berkurang.
 

Berpotensi turun jika Hormuz kembali normal

 
Di sisi lain, Goldman Sachs menilai harga gas dapat kembali turun ke kisaran 40 euro per MWh apabila arus pelayaran melalui Selat Hormuz pulih lebih cepat dari perkiraan.
 
Untuk jangka panjang, bank investasi tersebut masih mempertahankan prospek penurunan harga gas TTF. Harga diperkirakan berada di level 19 euro per MWh pada 2028 dan 16 euro per MWh pada 2029. Namun, proyeksi tersebut bergantung pada normalisasi penuh aktivitas pelayaran di Selat Hormuz.
 
Goldman Sachs juga mencatat adanya potensi tekanan tambahan terhadap harga apabila proyek ekspor LNG baru dari Amerika Serikat mulai beroperasi dan penggunaan pembangkit listrik berbahan bakar batu bara maupun energi terbarukan di Asia meningkat.

(Husen Miftahudin)