Emas Kehilangan Kilau, Harga Minyak dan The Fed Jadi Biang Kerok

Ilustrasi. Foto: Freepik.

Emas Kehilangan Kilau, Harga Minyak dan The Fed Jadi Biang Kerok

Eko Nordiansyah • 20 July 2026 09:32

Chicago: Harga emas dunia melemah pada perdagangan Senin, 20 Juli 2026, di tengah meningkatnya kekhawatiran inflasi akibat lonjakan harga minyak yang memengaruhi ekspektasi kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed).

Dikutip dari Investing, harga emas spot (XAU/USD) turun 0,4 persen menjadi USD4.003,68 per ons. Sementara itu, emas berjangka melemah 2,2 persen menjadi USD4.008,25 per ons.

Harga minyak tekan emas

Harga emas masih berada di bawah tekanan setelah terkoreksi lebih dari dua persen sepanjang pekan lalu.

Sentimen pasar dipengaruhi meningkatnya ketegangan di Timur Tengah yang mendorong harga minyak Brent menembus USD90 per barel. Kenaikan harga energi memicu kekhawatiran inflasi akan bertahan lebih lama sehingga memperkecil peluang pelonggaran kebijakan moneter The Fed.

Konflik yang terus berlanjut juga meningkatkan ketidakpastian terhadap prospek ekonomi global dan pasar komoditas.
(Ilustrasi. Foto: Dok Bappebti)

Pasar cermati arah kebijakan The Fed

Pelaku pasar kini menyoroti langkah The Fed setelah sejumlah data ekonomi AS menunjukkan tekanan inflasi mulai mereda, namun kenaikan harga energi berpotensi menghambat proses tersebut.

Suku bunga yang tetap tinggi umumnya memperkuat imbal hasil obligasi pemerintah AS (Treasury) dan dolar AS, sehingga mengurangi daya tarik emas yang tidak memberikan imbal hasil.

Analis ANZ menilai meningkatnya ketegangan di Timur Tengah sempat mendorong ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga The Fed pada pertemuan akhir Juli, meski probabilitas tersebut kemudian kembali menurun.

ANZ juga memperkirakan The Fed masih berpeluang mempertahankan suku bunga pada tahun ini karena bank sentral AS cenderung mengabaikan kenaikan harga energi selama belum memicu tekanan inflasi yang lebih luas.

Menurut ANZ, harga emas diperkirakan memperoleh dukungan pada kisaran USD3.800 hingga USD4.000 per ons apabila ekspektasi pengetatan kebijakan moneter kembali mereda.

(Eko Nordiansyah)