Mobil patroli UNIFIL di Lebanon. (Anadolu Agency)
UNIFIL Temukan 4 Ton Bahan Peledak saat Patroli di Lebanon Selatan
Willy Haryono • 29 July 2026 06:18
Beirut: Pasukan penjaga perdamaian Perserikatan Bangsa-Bangsa di Lebanon (UNIFIL) menemukan sekitar 4 ton bahan peledak, yang sebagian besar berupa senyawa amonium nitrat, dalam patroli rutin di Lebanon selatan awal bulan ini.
Dalam pernyataannya pada Selasa, 28 Juli 2026, UNIFIL menyebut penemuan itu terjadi pada 2 Juli saat patroli memeriksa jalur di dekat kota perbatasan Houla. Pasukan menemukan 385 kontainer berisi bahan peledak yang ditinggalkan di dalam sebuah bangunan.
Setelah melakukan penilaian terhadap tingkat bahaya, tim Explosive Ordnance Disposal (EOD) UNIFIL melaksanakan prosedur di lokasi untuk menonaktifkan bahan peledak tersebut sehingga ancamannya dapat dihilangkan.
UNIFIL juga melaporkan bahwa patroli lain pada 10 Juli menemukan sisa-sisa sebuah pesawat nirawak (UAV) di dekat salah satu pos PBB di Lebanon selatan.
Tim EOD kemudian memastikan masih terdapat komponen peledak di dalam drone tersebut dan berhasil menetralkannya secara aman di lokasi.
"Kami terus memperluas kegiatan operasional, dan pengurangan risiko dari ancaman bahan peledak sangat penting agar pasukan penjaga perdamaian dapat menjalankan mandatnya," kata Kepala Misi sekaligus Komandan Pasukan UNIFIL Mayor Jenderal Diodato Abagnara, seperti dikutip dari Anadolu Agency.
Menurut Abagnara, setiap ancaman bahan peledak yang berhasil disingkirkan akan meningkatkan keselamatan pasukan penjaga perdamaian maupun warga sipil yang kembali ke desa-desa mereka.
Patroli UNIFIL
UNIFIL menjelaskan bahwa tim EOD selalu dikerahkan lebih dahulu sebelum patroli dilakukan untuk menilai kondisi wilayah yang akan dilalui. Tim tersebut bertugas mengidentifikasi dan menetralkan ancaman bahan peledak sehingga jalur menjadi lebih aman bagi personel PBB sekaligus mengurangi risiko bagi masyarakat."Meski tingkat kekerasan telah menurun, ancaman bahan peledak masih tetap ada di sejumlah wilayah Lebanon selatan," demikian pernyataan UNIFIL.
Menurut misi PBB tersebut, operasi tim EOD juga bertujuan menciptakan kondisi yang lebih aman bagi warga yang kembali ke desa, lahan pertanian, dan aktivitas sehari-hari.
Pernyataan UNIFIL disampaikan di tengah berlanjutnya dugaan pelanggaran Israel terhadap kesepakatan kerangka yang dimediasi Amerika Serikat antara Lebanon dan Israel pada bulan lalu. UNIFIL menyebut militer Israel masih terus menghancurkan fasilitas dan infrastruktur di sejumlah wilayah Lebanon melalui penembakan dan ledakan.
Kesepakatan tersebut mengatur penarikan bertahap pasukan Israel dari seluruh wilayah Lebanon yang diduduki. Namun, tidak ada tenggat waktu yang ditetapkan. Penyelesaian penarikan dikaitkan dengan pengambilalihan tanggung jawab keamanan oleh Angkatan Bersenjata Lebanon di wilayah yang ditinggalkan pasukan Israel serta pelucutan senjata kelompok-kelompok bersenjata, termasuk Hizbullah.
Menurut Kementerian Kesehatan Lebanon, serangan Israel sejak 2 Maret 2026 telah menewaskan 4.330 orang dan melukai 12.236 lainnya.
Hingga kini, Israel masih menguasai sejumlah wilayah di Lebanon selatan, baik yang telah diduduki selama puluhan tahun maupun sejak konfrontasi 2023-2024. Dalam ofensif terbaru, pasukan Israel juga disebut telah bergerak lebih dari 10 kilometer ke dalam wilayah Lebanon.
Baca juga: UNIFIL Catat Lonjakan Serangan Tertinggi di Lebanon sejak Gencatan Senjata