Serangan Rudal 'Flamingo' Ukraina Hantam Pabrik Pertahanan Rusia di Volgograd

Asap dari serangan rudal Flamingo Ukraina ke pabrik industri pertahanan Rusia di Volgograd, Sabtu, 27 Juni 2026. (Ukrainian Ministry of Defense/Telegram)

Serangan Rudal 'Flamingo' Ukraina Hantam Pabrik Pertahanan Rusia di Volgograd

Willy Haryono • 27 June 2026 16:01

Moskow: Serangkaian ledakan mengguncang Kota Volgograd, Rusia pada Sabtu dini hari, 27 Juni 2026, setelah serangan jarak jauh yang diklaim dilakukan Ukraina menargetkan infrastruktur industri pertahanan di wilayah tersebut.

Dikutip dari Kyiv Post, Gubernur Volgograd Andrey Bocharov mengatakan wilayahnya diserang oleh "target udara berkecepatan tinggi." Ia mengonfirmasi sebuah fasilitas industri mengalami kerusakan dan sedikitnya 10 orang mengalami luka-luka, namun tidak menyebutkan lokasi spesifik yang menjadi sasaran.

Serangan tersebut juga memicu peringatan serangan udara di sejumlah wilayah Rusia, termasuk Penza, Samara, Orenburg, dan Tatarstan.

Tak lama setelah serangan, salah satu pendiri inisiatif teknologi pertahanan Ukraina Fire Point, Denys Shtilerman, mengklaim Ukraina menggunakan rudal jelajah FP-5 Flamingo. Melalui unggahan di media sosial yang menampilkan peluncuran rudal, ia menyatakan operasi tersebut akan terus berlanjut.

Sementara itu, sejumlah kanal intelijen sumber terbuka (open-source intelligence/OSINT), termasuk kelompok pemantau ASTRA, menganalisis rekaman video dan lokasi kepulan asap. Mereka mengidentifikasi titik dampak berada di kawasan Federal Research and Production Center Titan-Barrikady.

Titan-Barrikady merupakan anak perusahaan Roscosmos yang memproduksi peluncur bergerak untuk sistem rudal strategis Rusia, termasuk Yars, Topol-M, Iskander-M, serta berbagai sistem artileri berat. Fasilitas tersebut telah dikenai sanksi oleh Uni Eropa, Amerika Serikat, dan sejumlah negara sekutu sejak invasi penuh Rusia ke Ukraina pada 2022.

Bagian dari Operasi 40 Hari

Serangan ke Volgograd disebut sejalan dengan kampanye baru Ukraina yang menargetkan infrastruktur militer dan logistik Rusia.

Pada Kamis, Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky mengumumkan persetujuan operasi selama 40 hari yang dipimpin Dinas Keamanan Ukraina (SBU) untuk meningkatkan tekanan terhadap Rusia melalui serangan jarak menengah dan jarak jauh.

Sebagai bagian dari operasi tersebut, SBU pada Jumat mengklaim telah menyerang kapal pendukung militer Rusia dan sistem pertahanan udara S-400 di Kerch yang diduduki Rusia.

Tekanan terhadap Rusia juga dilakukan melalui gelombang besar serangan drone pada Jumat. Kementerian Pertahanan Rusia mengklaim telah mencegat sekitar 660 drone Ukraina yang menyerang lebih dari selusin wilayah.

Menurut otoritas Rusia, serangan tersebut menyebabkan pembatasan sementara penerbangan di sejumlah bandara utama Moskow serta menghantam pabrik kimia Azot di Novomoskovsk, wilayah Tula.

Pabrik Azot merupakan salah satu produsen bahan kimia terbesar di Rusia yang menghasilkan amonia, asam nitrat, dan bahan lain yang menurut analis sumber terbuka juga digunakan untuk mendukung produksi bahan peledak dan amunisi bagi industri pertahanan Rusia.

Baca juga:  Dubes Rusia: Moskow Siap Capai Kesepakatan Damai dengan Ukraina

(Willy Haryono)