Dolar AS. Foto: Freepik.
Tren Pelemahan Berakhir, Dolar AS Mulai 'Unjuk Gigi'
Husen Miftahudin • 29 June 2026 09:07
New York: Tren pelemahan nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) dinilai mulai kehilangan momentum. Lembaga riset pasar Yardeni Research menilai pergerakan terbaru di berbagai instrumen keuangan menunjukkan investor global belum meninggalkan aset-aset berbasis dolar.
Dalam catatan terbarunya, dikutip dari Investing.com, Senin, 29 Juni 2026, Yardeni Research menyebut tren bearish dolar atau penurunan nilai dolar sebagian besar telah berakhir, seiring meredanya sejumlah faktor risiko yang sebelumnya membebani mata uang AS.
Yardeni Research mencatat sejumlah faktor seperti kebijakan tarif, independensi bank sentral AS, serta pelebaran defisit fiskal kini tak lagi menjadi tekanan utama di pasar.
Pelaku pasar kini memperkirakan dua kenaikan suku bunga AS pada awal 2027 setelah Ketua Federal Reserve, Kevin Warsh, kembali menegaskan fokus bank sentral terhadap stabilitas harga.
| Baca juga: Dolar AS Melemah di Tengah Spekulasi Kenaikan Suku Bunga The Fed |
Menguat di tengah kenaikan suku bunga global
Pergerakan pasar valuta asing memperlihatkan arah yang berlawanan dengan narasi pelemahan dolar. Indeks Dolar AS tercatat menguat sejak pertemuan Federal Reserve pekan lalu. Penguatan ini terjadi meskipun European Central Bank dan Bank of Japan sama-sama menaikkan suku bunga acuan.
Di sisi lain, euro mengalami pelemahan dalam beberapa sesi perdagangan terakhir. Yen Jepang bahkan turun ke level terendah sejak 1986, menunjukkan pengetatan moneter di luar AS belum cukup kuat untuk menopang mata uang utama terhadap dolar.
Aset lindung nilai dan alternatif juga menunjukkan pelemahan. Harga Gold tertekan akibat penguatan dolar dan naiknya suku bunga riil.
Yardeni memangkas proyeksi harga emas akhir tahun menjadi USD5.000 per ons dari sebelumnya USD5.500 per ons. Sementara itu, bitcoin turun tajam dari posisi di atas USD120 ribu pada akhir tahun lalu menjadi sekitar USD61 ribu.
Kondisi tersebut memperkuat pandangan bitcoin belum menjadi alternatif dominan pengganti dolar AS dalam sistem keuangan global.

(Dolar AS. Foto: Freepik)
Tekanan inflasi mulai mereda
Di pasar komoditas, harga minyak mentah Brent turun signifikan setelah Selat Hormuz kembali dibuka. Penurunan itu menghapus sebagian besar premi risiko geopolitik yang sempat terbentuk selama konflik.
Meski demikian, harga tembaga masih bertahan kuat karena permintaan yang terkait dengan pengembangan infrastruktur kecerdasan buatan (AI).
Pasar obligasi juga belum menunjukkan sinyal pelemahan dolar. Imbal hasil obligasi Treasury AS tenor 10 tahun masih bergerak dalam kisaran stabil.
Harga minyak yang lebih rendah turut membantu menekan ekspektasi inflasi dan menjaga kestabilan pasar surat utang.
Data Treasury International Capital (TIC) dari Departemen Keuangan AS menunjukkan arus masuk bersih swasta mencapai sekitar USD1,3 triliun dalam 12 bulan hingga April 2026. Angka itu mengindikasikan investor asing masih terus meningkatkan kepemilikan sekuritas AS, alih-alih mengurangi eksposur mereka.