Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyampaikan komitmen pemerintah dalam penguatan ekonomi syariah pada Sharia Economic Forum 2026 di Jakarta. (Foto: Metrotvnews/Duta Erlangga)
Metro TV Sharia Economic Forum 2026 Dorong Penguatan Ekosistem Ekonomi Syariah Nasional
Patrick Pinaria • 14 February 2026 18:37
Jakarta: Metro TV bersama INDEF menggelar Sharia Economic Forum 2026 di The Tribrata Hotel & Convention Center, Dharmawangsa Raya, Jakarta Selatan, pada Kamis, 12 Februari 2026. Forum bertajuk 'Accelerating Growth and Prosperity: Path to Global Impact' ini menjadi ruang dialog strategis antara pemerintah, regulator, pelaku industri, dan akademisi untuk mendorong Indonesia sebagai pusat ekonomi syariah dunia.
Hadir sejumlah tamu istimewa dalam acara ini. Salah satunya, CEO Media Group Mohammad Mirdal Akib yang hadir membuka acara. Selain itu turut hadir Menteri Agama Nasaruddin Umar; Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa; Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita; Ketua Dewan Komisioner LPS Anggito Abimanyu; Direktur Pengembangan Perbankan, Pasar Keuangan dan Pembiayaan Lainnya Kementerian Keuangan Adi Budiarso; Deputi Komisioner OJK Deden Firman Hendarsyah; Direktur Eksekutif INDEF Esther Sri Astuti; serta Direktur Finance & Strategy BSI Ade Cahyo Nugroho.
Selain mendukung acara ini, mereka juga hadir untuk menjadi pembicara membahas topik penting yang berkaitan dengan Ekonomi Syariah, khususnya di Tanah Air.
Sejumlah kegiatan menarik pun disajikan dalam acara ini, yaitu sesi talkshow dan diskusi panel yang menghadirkan sejumlah menteri, pimpinan lembaga, serta pelaku industri keuangan dan industri halal, serta sesi awarding bagi pelaku industri syariah dan halal.
Forum terdiri atas enam sesi utama. Mulai dari penguatan inklusi keuangan syariah, pengembangan industri halal, hingga penegasan komitmen pemerintah menjadikan Indonesia pusat ekonomi syariah global.
Indonesia perkuat ekosistem menuju pusat ekonomi syariah dunia
Dalam sambutannya, CEO Media Group Mohammad Mirdal Akib menyampaikan bahwa Indonesia semakin mengukuhkan posisinya dalam peta ekonomi Islam dunia."Prestasi ini menandai konsistensi Indonesia selama tiga tahun berturut-turut sebagai salah satu negara dengan ekosistem ekonomi Islam terkuat di dunia bersama dengan Malaysia dan tentunya Arab Saudi. Atas pencapaian ini tidak berlebihan bagi Indonesia untuk mencanangkan untuk terus bergerak maju menuju pemimpin ekonomi syariah global dan road map pun telah disusun," ujar Mirdal.
Lebih lanjut, Mirdal menegaskan pentingnya penguatan ekosistem melalui sinergi kebijakan, pengembangan talenta, digitalisasi, dan peningkatan literasi.
"Menuju Indonesia menjadi pusat ekonomi syariah global yang membawa kemakmuran luas bagi masyarakat, perlu penguatan ekosistem syariah melalui sinergi kebijakan, pengembangan talenta di bidang syariah, serta digitalisasi keuangan syariah dan peningkatan literasi masyarakat," kata Mirdal.
Ekonomi syariah untuk semua
Sesi pertama Sharia Economic Forum dihadiri oleh Menteri Agama Nasaruddin Umar sebagai narasumber. Pada kesempatan itu, ia menegaskan ekonomi syariah bersifat universal."Ekonomi syariah itu tidak hanya untuk memberikan kepentingan terhadap komunitas muslim tapi ini dunia Islam itu konsep for all. Bagaimana menciptakan keadilan sosial, keadilan ekonomi, win win solution untuk mengatasi berbagai masalah ekonomi," kata Menag Nasaruddin.
Ia menambahkan bahwa konsep ekonomi syariah telah berkembang di berbagai negara nonmuslim.
"Kita bicara tentang syariah sebagai suatu fenomena ekonomi global. Kita lihat Thailand bukan mayoritas muslim. Kita lihat Jepang, tapi pertumbuhan ekonomi syariah di negara tersebut luar biasa. Bahkan, Italia makan sehari-hari di pesawat itu semuanya serba halal padahal kan dia minoritas muslim. Lebih dari 1 miliar itu kan pasar yang luar biasa, dan Indonesia negara terbesar umat Islamnya jadi seharusnya kita Indonesia menjadi soko guru, jadi teladan. Seharusnya menjadi pilot project untuk gagasan-gagasan yang seperti kita kembangkan ini," kata Menag Nasaruddin.
Tantangan literasi dan inklusi
Sesi kedua dilanjutkan dengan acara diskusi panel dengan narasumber Direktur Pengembangan Perbankan, Pasar Keuangan dan Pembiayaan Lainnya Kementerian Keuangan Adi Budiarso. Ia menyoroti kesenjangan literasi dan inklusi."Literasinya lebih tinggi dari inklusinya. Artinya, potensi syariah ini masih besar. Literasinya sudah ada, tapi inklusinya belum. Di level ASEAN 5, kita masih tertinggal. Angka terakhir inklusi (konvensional) baru 85 persen. Sementara untuk syariah inklusinya hampir di bawah 20 persen," ujar Adi Budiarso.
"Salah satu yang mempercepat inklusi adalah dengan mendorong untuk akses (ekonomi dan keuangan syariah) yang lebih mudah. Salah satunya melalui digitalisai dan campaign seperti Forum Metro TV hari ini," ucapnya menambahkan.
Sementara itu, Deden Firman Hendarsyah selaku Deputi Komisioner Pengaturan, Perizinan, dan Pengendalian Kualitas Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyampaikan perkembangan regulasi bullion atau bank emas syariah.
"Kemarin kami sudah melakukan pembahasan fatwa tentang kegiatan usaha bullion. Mungkin dalam waktu yang tidak terlalu lama akan ada pengumumannya. Dua kegiatan sudah dilakukan BSI. Nanti ada lagi simpanan emas dan pembiayaan emas. Ini bukan main, bisnis ini akan menjadi besar," kata Deden.
Ia menambahkan potensi bisnis emas syariah sangat besar dan perlu didukung penguatan ekosistem.
"Jangan sampai bisnis ini besar lagi di konvensional, yang syariahnya ketinggalan. Padahal, kegiatan terkait bisnis emas sebelumnya sudah cukup berkembang di perbankan syariah," ucap Deden tegas.
.jpg)
Para pembicara sesi kedua menerima plakat apresiasi usai diskusi panel dalam Sharia Economic Forum 2026. (Foto: Metrotvnews/Duta Erlangga)
Strategi penguatan dari industri
Sementara itu, Direktur Finance & Strategy BSI Ade Cahyo Nugroho menjelaskan bahwa salah satu hambatan utama masyarakat beralih ke bank syariah bukan pada aspek kesyariahan, melainkan kehadiran fisik. Oleh karena itu, penguatan physical presence melalui perluasan jaringan cabang dan penambahan 5.000 ATM di ruang publik menjadi strategi utama."Surprisingly, jawaban yang kita dapatkan itu bukan mengenai kesyarihan. Nomor satu jawabannya adalah physical presence," ujar Ade Cahyo Nugroho.
Ia menambahkan, tahun 2023 BSI menambah 5.000 ATM dan menempatkannya di ruang publik.
"Indonesian customer itu unik. Mereka melihat bank dengan mata bertransaksi dengan tangan. Tapi kalau di mata mereka gak bisa melihat bank. Mereka gak akan menggunakan apps-nya juga. Jadi kita harus meyakinkan matanya dulu sebelum customer menggunakan di tangan mereka. Tahun 2025 BSI mencatat rekor tertinggi sepanjang sejarah kita berdiri, jumlah customer baru. Jadi kita tahun lalu nambah customer baru itu lebih dari 2 juta," kata Ade Cahyo Nugroho.
Perkembangan ekonomi syariah juga mendapat perhatian dari Direktur Eksekutif INDEF Esther Sri Astuti. Ia menilai potensi besar ekonomi syariah belum sepenuhnya termanfaatkan.
Ia menyebut tingkat inklusi keuangan syariah masih sekitar 13 persen, sementara harga sejumlah produk syariah relatif lebih premium sehingga belum terjangkau semua lapisan masyarakat.
"Artinya, satu dari tujuh orang itu mereka yang baru menggunakan produk-produk layanan syariah. Kalau kita lihat data menunjukkan bahwa produk-produk syariah itu kan harganya juga lumayan lebih mahal," kata Esther.
Menurutnya, Rancangan Undang-Undang (RUU) Ekonomi Syariah penting untuk mengintegrasikan regulasi yang terfragmentasi serta menjadi dasar pemberian insentif fiskal maupun nonfiskal guna memperkuat ekosistem.
"Dengan adanya RUU Ekonomi Syariah, berarti kan kita bisa memberikan dasar hukum yang kuat untuk memberikan insentif apa, insentif fiskalkah, insentif non-fiskalkah, yang untuk bisa mendorong ekosistem tersebut," ujar Esther.
Peran pemerintah dan ekosistem halal
Ketua Dewan Komisioner LPS Anggito Abimanyu menegaskan intervensi pemerintah diperlukan untuk meningkatkan daya ungkit perbankan syariah, termasuk melalui kebijakan strategis seperti merger bank syariah. Ia menekankan pentingnya membangun ekosistem yang inklusif dan dapat dinikmati seluruh lapisan masyarakat."Kalau kita bicara di Indonesia, satu-satunya jalan untuk meningkatkan leverage dari ekosistem keuangan syariah dari peran pemerintah. Tidak mungkin bank syriah menyaingi bank konvensional karena sudah terlanjur besar, size-nya sudah enggak mungkin," kata Anggito.
"Untuk itu kita harus membangun ekosistem yang inklusif, artinya ekonomi yang dinikmati siapapun tanpa melihat keyakinan dia. Itu tantangannya tidak mudah," ujarnya.
Dari sektor industri halal, Marketing Communication Head Kami Group Frima Zhellia menyampaikan komitmen pelaku modest fashion.
"Peningkatan kualitas produk ini juga dalam upaya kami sebagai pelaku modest fashion brand untuk memajukan sektor tadi sesuai dengan target Pemerintah Indonesia bahwa Indonesia harus menjadi kiblat modest fashion dunia," ucap Frima.
Sementara Direktur Utama PT Patuna Mekar Jaya Syam Resfiadi menyoroti dinamika regulasi. "Peraturan-peraturan di Kementerian Haji di Indonesia dan juga di Arab Saudi selalu berubah," kata Syam.
Pendiri Multazam Utama Tour Imam Bashori menambahkan, "Kendala yang paling sering kami alami bahkan setiap tahun itu adalah perubahan aturan dari berbagai pihak."
Sesi awarding industri syariah dan halal
Sebagai bentuk apresiasi terhadap pelaku industri, forum ini juga menghadirkan sesi awarding bagi institusi dan pelaku usaha yang dinilai berkontribusi dalam penguatan ekosistem syariah dan halal.Pada kategori Sharia Finance, penghargaan diberikan kepada PT Bank Syariah Indonesia (Persero) Tbk sebagai 'Sharia Financial Ecosystem Leader' serta Bank Jateng Syariah sebagai 'Sharia Regional Economic Empowerment'.
Di kategori Modest Fashion, penghargaan diberikan kepada Kami sebagai 'Sharia Original Design' dan Itang Yunasz sebagai 'Sharia Pioneer in Modest Wear Design'.
Sementara pada kategori Halal Tourism, penghargaan diberikan kepada Patuna Travel sebagai 'Sharia Trusted Hajj & Umrah Partner' dan Multazam Utama Tour sebagai 'Sharia Umrah & Hajj Guidance Excellence'.
Komitmen pemerintah
Pada sesi penutup, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan ekonomi syariah merupakan bagian dari strategi besar pembangunan nasional, sejajar dengan ekonomi hijau dan ekonomi digital. Ia mengingatkan agar pengembangan ekonomi syariah tidak berhenti pada istilah, tetapi benar-benar dijalankan sesuai prinsipnya."Bagi pemerintah jelas ekonomi syariah adalah bagian dari staregi besar pembangunan, sejajar dengan ekonomi hijau dan ekonomi digital, bukan simbol, bukan retorika tapi instumen nyata dalam memperkuat kemandirian ekonomi bangsa. Kalau mau bangun, bangun betul-betul. Syariah bukan hanya istilahnya tapi praktik syariah betul-betul syariah," kata Purbaya.
Dengan diselenggarakannya Sharia Economic Forum 2026, diharapkan forum ini mampu menjadi penggerak kolaborasi lintas sektor dalam mempercepat penguatan ekosistem ekonomi syariah nasional, seiring cita-cita Indonesia menjadi pusat ekonomi syariah global.