Rupiah Dibuka ke Rp17.851/USD Pagi Ini

Ilustrasi rupiah. Metrototvnews.com/Eko Nordiansyah

Rupiah Dibuka ke Rp17.851/USD Pagi Ini

Eko Nordiansyah • 29 May 2026 09:16

Jakarta: Nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada pembukaan perdagangan hari ini mengalami pelemahan. Rupiah masih tertekan saat dolar AS juga tertekan laporan kesekatan draf perdamaian antara AS-Iran.

Mengutip data Bloomberg, Jumat, 22 Mei 2026, rupiah berada di level Rp17.851 per USD. Mata uang Garuda tersebut turun enam poin atau setara 0,03 persen dari Rp17.845 per USD pada penutupan perdagangan sebelumnya.

Sementara menukil data Yahoo Finance, rupiah pada waktu yang sama berada di level Rp17.784 per USD. Rupiah justru bergerak menguat satu poin dari Rp17.785 per USD pada pembukaan perdagangan hari ini.

Dibutuhkan policy mix fiskal-moneter

Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia Fakhrul Fulvian memandang nilai tukar rupiah memiliki ruang rebound yang cukup besar apabila bauran kebijakan (policy mix) membaik serta pembagian beban (burden sharing) yang seimbang antara fiskal dan moneter.

Ia memperkirakan, potensi penguatan kembali rupiah bisa mencapai level Rp16.800-17.000 per dolar AS jika koordinasi fiskal dan moneter solid. “Level rupiah saat ini menurut saya terlalu lemah dibanding kapasitas ekonomi Indonesia sebenarnya,” kata Fakhrul dalam keterangannya dilansir dari Antara.

(Ilustrasi. MI/Susanto)

Fakhrul berpendapat, stabilisasi rupiah tidak bisa hanya dibebankan kepada Bank Indonesia (BI), sehingga dibutuhkan keseimbangan bauran kebijakan antara fiskal dan moneter.

Ia mencatat bahwa pasar mencermati konsistensi arah kebijakan pemerintah dan BI. Oleh sebab itu, koordinasi kebijakan dipandang sangat penting di tengah tekanan global yang besar. BI belum lama ini menaikkan suku bunga acuan (BI-Rate) sebesar 50 basis poin (bps) ke level 5,25 persen.

Penyesuaian dengan realitas global yang baru

Di sisi lain, menurut dia, fiscal stance Indonesia juga harus mulai menyesuaikan diri dengan realitas global yang baru. Ia menilai, saat ini dunia memasuki era inflasi struktural yang lebih tinggi, fragmentasi geopolitik, biaya energi yang mahal, serta supply chain yang lebih kompleks.

Ia mengingatkan bahwa pasar obligasi sangat sensitif terhadap persepsi arah fiskal. Jika investor mulai khawatir terhadap pembiayaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), stabilitas eksternal, dan arah subsidi, maka yield obligasi akan naik karena premi risiko meningkat.

Menurutnya, struktur suku bunga domestik saat ini juga belum sepenuhnya sehat. Suku bunga SRBI yang tinggi dinilai efektif menjaga stabilitas rupiah dalam jangka pendek. Namun, jika bertahan terlalu lama, kondisi tersebut dinilai berisiko menyedot likuiditas ke instrumen moneter, meningkatkan biaya dana, dan menghambat kredit ke sektor produktif.

“Kita perlu burden sharing yang lebih seimbang antara fiskal, moneter, sektor energi, dan sektor riil. Karena kalau rupiah terus menjadi penanggung terakhir dari semua tekanan ekonomi, maka volatilitas akan terus berulang,” kata Fakhrul.

(Eko Nordiansyah)