Ketua Fraksi Partai Golkar DPR RI M. Sarmuji. Foto: dok Istimewa.
Simulasi dan Mitigasi APBN Jadi Langkah Tepat Pemerintah Hadapi Fluktuasi Harga Minyak
Husen Miftahudin • 10 March 2026 14:06
Jakarta: Simulasi dan mitigasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dinilai menjadi langkah tepat pemerintah dalam menghadapi fluktuasi harga minyak dunia dan penguatan dolar Amerika Serikat (AS) di tengah memanasnya konflik Amerika Serikat-Israel dengan Iran.
Ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah tersebut telah mendorong harga minyak dunia menembus di atas USD100 per barel sejak Minggu, 8 Maret 2026. Pada saat yang sama, tekanan global juga tercermin dari penguatan dolar AS yang membuat nilai tukar rupiah menembus level Rp17 ribu per USD pada awal perdagangan Senin, 9 Maret 2026.
Ketua Fraksi Partai Golkar DPR RI M. Sarmuji mengatakan, kombinasi lonjakan harga minyak dan penguatan dolar AS berpotensi memberikan tekanan besar terhadap APBN, terutama pada pos subsidi energi yang sangat sensitif terhadap fluktuasi harga minyak dan nilai tukar.
"Lonjakan harga minyak dunia di atas USD100 per barel dan penguatan dolar AS harus segera direspons secara serius oleh pemerintah. Dampaknya terhadap APBN bisa sangat signifikan, terutama pada beban subsidi energi," ungkap Sarmuji dalam keterangan tertulis, Selasa, 10 Maret 2026.
Selain itu, Sarmuji mengingatkan penguatan dolar AS juga membawa konsekuensi langsung terhadap posisi utang luar negeri Indonesia. Ketika dolar menguat terhadap rupiah, nilai kewajiban utang yang berdenominasi dolar otomatis meningkat jika dihitung dalam rupiah.
"Penguatan dolar AS juga secara langsung meningkatkan beban utang luar negeri Indonesia dalam nilai rupiah. Artinya, kewajiban pembayaran pemerintah menjadi lebih besar ketika dikonversi ke rupiah," ucap dia.
Ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah tersebut telah mendorong harga minyak dunia menembus di atas USD100 per barel sejak Minggu, 8 Maret 2026. Pada saat yang sama, tekanan global juga tercermin dari penguatan dolar AS yang membuat nilai tukar rupiah menembus level Rp17 ribu per USD pada awal perdagangan Senin, 9 Maret 2026.
Ketua Fraksi Partai Golkar DPR RI M. Sarmuji mengatakan, kombinasi lonjakan harga minyak dan penguatan dolar AS berpotensi memberikan tekanan besar terhadap APBN, terutama pada pos subsidi energi yang sangat sensitif terhadap fluktuasi harga minyak dan nilai tukar.
"Lonjakan harga minyak dunia di atas USD100 per barel dan penguatan dolar AS harus segera direspons secara serius oleh pemerintah. Dampaknya terhadap APBN bisa sangat signifikan, terutama pada beban subsidi energi," ungkap Sarmuji dalam keterangan tertulis, Selasa, 10 Maret 2026.
Selain itu, Sarmuji mengingatkan penguatan dolar AS juga membawa konsekuensi langsung terhadap posisi utang luar negeri Indonesia. Ketika dolar menguat terhadap rupiah, nilai kewajiban utang yang berdenominasi dolar otomatis meningkat jika dihitung dalam rupiah.
"Penguatan dolar AS juga secara langsung meningkatkan beban utang luar negeri Indonesia dalam nilai rupiah. Artinya, kewajiban pembayaran pemerintah menjadi lebih besar ketika dikonversi ke rupiah," ucap dia.
| Baca juga: Menkeu Purbaya Evaluasi APBN 1 Bulan Jika Harga Minyak Dunia Terus Naik |
Mesti dilakukan secara terbuka dan terkoordinasi
Sarmuji menekankan, simulasi berbagai skenario menjadi hal penting agar pemerintah dapat mengantisipasi konsekuensi fiskal yang mungkin muncul apabila kondisi global tersebut berlanjut.
"Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa harus segera melakukan simulasi dan mitigasi agar APBN kita tetap valid. Konsekuensi terhadap beban APBN pasti tinggi, terutama pada subsidi," kata Sarmuji.
Sarmuji juga menekankan langkah antisipasi tersebut perlu dilakukan secara terbuka dan terkoordinasi, mengingat dampaknya sangat luas terhadap stabilitas ekonomi nasional.
"Situasi seperti ini membutuhkan koordinasi yang kuat dan komunikasi yang terbuka agar pemerintah, DPR, dan publik mengetahui langkah-langkah mitigasi yang sedang disiapkan," tegas dia.
Fraksi Partai Golkar DPR RI, kata Sarmuji, akan terus mencermati perkembangan situasi global yang berpotensi memengaruhi ekonomi nasional. Ia menilai kesiapan pemerintah dalam membaca risiko sejak dini sangat penting untuk menjaga ketahanan ekonomi Indonesia di tengah gejolak geopolitik global.
"Gejolak global tidak bisa kita hindari, tetapi dampaknya terhadap ekonomi nasional harus bisa kita kelola dengan baik. Karena itu langkah antisipatif harus segera dilakukan," kata dia.

(Ilustrasi penghitungan APBN. Foto: dok MI)
Evaluasi APBN satu bulan jika gejolak harga minyak tak reda
Menkeu Purbaya mengaku memberi waktu satu bulan untuk mengevaluasi potensi penyesuaian APBN akibat harga minyak dunia yang melonjak.
"Saya akan evaluasi selama satu bulan ke depan apa yang terjadi dan kami akan lakukan penyesuaian seperlunya," kata Purbaya kepada wartawan.
Diketahui, harga minyak mentah jenis Brent mencapai USD118 per barel untuk kali pertamanya sejak 17 Juni 2022. Harga tersebut lebih tinggi apabila dibandingkan dengan rata-rata harga minyak pada Januari 2026. Jenis Brent (ICE) tercatat sebesar USD64 per barel, dan WTI AS berada di angka USD57,87 per barel.
Purbaya memastikan akan terus memantau perkembangan harga minyak dan mengambil keputusan yang diperlukan pada waktu yang tepat. Sejauh ini, Purbaya berpendapat rerata perkembangan harga minyak masih di bawah kapasitas maksimal APBN.
"Jangan cepat menyimpulkan harga akan USD100 terus. Kami akan lakukan asesmen dari waktu ke waktu. Hitungan berubah terus sesuai keadaan, sekarang belum USD100 kan rata-ratanya. Masih di bawah itu, jadi tenang dulu. Kami monitor dari waktu ke waktu dan saya nggak akan terlambat mengambil keputusan kalau diperlukan," tegas dia.
Purbaya pun menilai dampak lonjakan harga minyak dunia belum memberikan dampak yang signifikan terhadap aktivitas ekonomi domestik. Menurut dia, perekonomian nasional masih menunjukkan kinerja yang ekspansif.
"Yang jelas kami cukup pintar. Penyesuaian yang dilakukan tidak akan mengganggu momentum pertumbuhan ekonomi," tutur dia.
Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow akun Google News Metrotvnews.com