Hari Besar Keagamaan Picu Kenaikan Harga Pangan di Gunungkidul

Operasi pasar Pemerintah Kabupaten Gunungkidul. Dokumentasi/Pemkab Gunungkidul

Hari Besar Keagamaan Picu Kenaikan Harga Pangan di Gunungkidul

Ahmad Mustaqim • 24 February 2026 16:23

Gunungkidul: Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) melakukan operasi pasar untuk mengantisipasi lonjakan harga bahan pangan. Bupati Gunungkidul Endah Subekti Kuntariningsih menyebut hari besar keagamaan kerap memicu harga pangan naik. 

"Momentum seperti ramadan dan lebaran seringkali memicu kenaikan harga jika permintaan tinggi, namun pasokan barang terbatas." ujar Endah di Gunungkidul, Selasa, 24 Februari 2026. 

Menurut dia, operasi pasar perlu dilakukan untuk menjaga daya beli masyarakat serta mencegah terjadinya inflasi. Operasi pasar kali ini melibatkan berbagai pihak, seperti Fortune, Badan Urusan Logistik (Bulog), dan Bank Indonesia (BI). 

Endah menuturkan operasi pasar bertujuan membantu masyarakat. Adanya operasi ini membuat harga jual bahan pangan bisa lebih rendah dibandingkan harga eceran di pasaran.
 


Sementara Kepala Dinas Perdagangan Kabupaten Gunungkidul Kelik Yuniantoro mengatakan operasi pasar mendapat pasokan sebanyak 10 ton berbagai komoditas. Beberapa di antaranya berupa gula pasir dan minyak goreng.

"Ada 3.500 kg gula pasir dan 6.500 liter minyak goreng. Distribusi dilakukan melalui 40 pedagang yang tersebar di beberapa titik, antara lain Pasar Argosari, Pasar Semin, Pasar Ponjong, Pasar Wonosari, dan Pasar Semanu," kata Kelik.

Ia mengungkapkan harga yang ditawarkan dalam operasi pasar dipastikan lebih rendah dibandingkan harga pasar. Misalnya, gula pasir yang saat ini mencapai Rp17.500 per kilogram di pasaran dijual hanya seharga Rp15.500 melalui program ini.

Demikian pula dengan minyak goreng yang disubsidi. Masyarakat dapat memperolehnya dengan selisih harga Rp2.000 hingga Rp2.500 lebih murah dari harga normal.


Operasi pasar Pemerintah Kabupaten Gunungkidul. Dokumentasi/Pemkab Gunungkidul


Untuk memastikan bantuan ini tepat sasaran ke masyarakat prasejahtera, katanya, pemerintah memberlakukan pembatasan pembelian. Setiap warga hanya diperbolehkan membeli maksimal dua kemasan atau dua liter. Hal ini dilakukan untuk mencegah aksi borong oleh oknum yang berniat menjual kembali barang tersebut dengan harga tinggi di luar pasar.

"Selain memantau harga sembako, pemerintah juga mencatat adanya kenaikan pada komoditas lain seperti cabai rawit yang terjadi secara menyeluruh di berbagai daerah. Operasi pasar direncanakan akan terus berlanjut hingga bulan Maret mendatang dengan alokasi tambahan sekitar 10 ton lagi guna memastikan harga tetap terkendali hingga masa lebaran," ucapnya.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Silvana Febiari)