Sejumlah kerabat memasang foto dan persiapan ruangan untuk tamu melayat usai peti jenazah Muhammad Farhan Gunawan korban kecelakaan pesawat ATR 42-500 tiba di rumah duka, Jalan Urip Sumoharjo, Lorong II, Perumahan Graha Kencana nomor B5, Kecamatan Panakuk
Almarhum Farhan Copilot Pesawat ATR Dikenal Sosok yang Baik
Silvana Febiari • 25 January 2026 10:06
Makassar: Salah seorang tetangga dekat Muhammad Farhan Gunawan, Zulkarnain mengenang korban kecelakaan pesawat ATR 42-500 tersebut sebagai sosok yang sangat baik. Menurutnya, almarhum memiliki kepribadian santun di mata keluarga maupun lingkungan bertetangga.
"Kalau ananda ini luar biasa attitudenya, bagus sekali terhadap tetangga, apalagi tetangga di sekitar sini," tutur Zul sesaat jenazah korban tiba di rumah duka, Jalan Urip Sumoharjo, Lorong II, Perumahan Graha Kencana nomor B5, Kecamatan Panakukan, Makassar, Sulawesi Selatan, dilansir dari Antara, Sabtu, 24 Januari 2026.
Di mata tetangga, sosok Farhan dinilai mudah bergaul dan humble atau rendah hati. Sikapnya tidak sombong kepada warga serta sering tersenyum ketika disapa orang.
"Baik sekali, sopan sekali. Kalau kita di kalangan warga menegur, anaknya sopan sekali," ucap Zul yang sudah berkawan lama dengan almarhum.
Meski orang tua Farhan kini berada di Sorowako, Kabupaten Luwu Timur, kata Zul, sosok Farhan tetap dikenal baik oleh warga. Ia selalu menghormati sesama, termasuk orang tua dan orang yang lebih tua darinya.
"Mungkin karena selama ini orang tua (tidak tinggal bersama), khususnya bapaknya berjauhan di Sorowako. Tapi, selama dia sini (sikapnya) sangat bagus pergaulannya," ucap dia kepada wartawan.
Sebagai tetangga dekat persis di depan rumahnya, Zul mengenal almarhum sudah lama sejak bersekolah dasar, hingga sekolah menengah pertama (SMP) dan sekolah menengah atas (SMA) di Kota Makassar.
"Kebetulan saya lama di luar juga, saya baru kenal dia waktu masih SD, SMP di sini. SMP sampai SMA di Athira (Sekolah Islam Athira)," tuturnya lagi.
.jpeg)
Personel TNI-Polri mengangkat kantong jenazah korban kecelakaan pesawat ATR 42-500 dari ambulans saat tiba di Dokpol Rumah Sakit Bayangkara, Posko DVI Biddokes Polda Sulsel, Jalan Kumala Makassar, Sulawesi Selatan. ANTARA/Darwin Fatir.
Farhan diketahui bekerja sebagai pilot pada salah satu perusahaan maskapai penerbangan swasta, Indonesia Air Transport (IAT). Almarhum masih muda dan belum memiliki pasangan hidup.
Selama menjadi kru pesawat, Farhan hanya sesekali pulang ke rumah pada awal-awal bekerja, tidak secara rutin. Setelah pesawatnya transit di Makassar, barulah almarhum kembali ke rumah.
"Setahu saya baru tiga tahun (sebagai Copilot) sering pulang di sini, cuma tidak sesering, misalnya waktu di awal (jadi kru pesawat). Kalau sekarang, setelah terbang ke sana ke mari, itu bisa sampai dua sampai tiga bulan baru kelihatan," ucapnya bercerita.
Almarhum juga masih sendiri dan belum memiliki istri. "Belum berkeluarga, masih bujang dia, tiga bersaudara, dia anak pertama," katanya.
Informasi kecelakaan pesawat nahas tersebut baru diketahui Zulkifli setelah melihat pemberitaan serta media sosial. Mewakil tetangga, ia mendoakan almarhum agar dimudahkan jalannya, diampuni segala dosa, dan mendapat tempat di sisi Allah SWT.