Pasien penderita tuberkulosis (TB) antre saat akan menjalani pemeriksaan rutin di Puskesmas Tebet, Jakarta Selatan. ANTARA/Dhoni Setiawan
Kasus TBC di Jakarta Tembus 7% Nasional, Pemprov DKI Dorong Deteksi Dini
Achmad Zulfikar Fazli • 21 October 2026 13:23
Jakarta: Kasus tuberkulosis (TBC) di DKI Jakarta menembus tujuh persen dari total keseluruhan di Indonesia dan menempati posisi kelima sebagai penyumbang kasus TBC terbanyak. Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta mendorong deteksi dini untuk mengatasi permasalahan kasus TBC.
“Penyakit menular ini ditangani melalui pengobatan teratur minimal enam bulan di puskesmas serta pencegahan lewat Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) demi mewujudkan Jakarta Bebas TBC 2030,” dalam unggahan tertulis akun Instagram @dkijakarta, Rabu, 21 Oktober 2026.
TBC merupakan penyakit yang dapat disembuhkan secara total. Seluruh pengobatan disediakan gratis oleh pemerintah.
Namun, pasien TBC juga diingatkan agar tidak berhenti berobat di tengah jalan. Pasien yang tidak rutin meminum obat serta tidak tuntas menjalani pengobatan minimal enam bulan berisiko mengalami kekebalan kuman terhadap obat. Sehingga, penyembuhan menjadi lebih lama.
Pencegahan Penyebaran TBC
Selain pengobatan medis di puskesmas, pencegahan penyebaran TBC harus didukung melalui penerapan PHBS secara konsisten dalam kehidupan sehari-hari.
Langkah pencegahan tersebut meliputi membuka jendela rumah agar sirkulasi ventilasi udara berjalan baik, menjaga kebersihan lingkungan rumah, mengonsumsi makanan dengan gizi seimbang, serta menerapkan etika batuk dan mengenakan masker jika diperlukan.
_%20Foto-%20Medcom_id.jpg)
Ilustrasi tuberkulosis (TB). Foto: Medcom.id
Pemprov DKI Jakarta mengungkap pihak yang berisiko terinfeksi TBC. Penyakit ini berisiko menyerang anak-anak, penderita HIV/AIDS, lansia, penyandang diabetes melitus, orang dengan sistem kekebalan tubuh rendah, perokok aktif, hingga warga di lingkungan padat dan kumuh yang tidak memenuhi syarat kesehatan.
Masyarakat diimbau mewaspadai gejala utama TBC. Di antaranya batuk terus-menerus berdahak maupun tidak berdahak minimal dua minggu, demam meriang, sesak napas, nyeri dada, berat badan dan nafsu makan menurun, kadang dahak bercampur darah, serta berkeringat di malam hari meski tanpa beraktivitas.
(Afifah Alfina)