Ilustrasi-kekeringan. ANTARA FOTO/Adeng Bustomi/nym.
BPBD Pastikan Mataram Belum Terdampak Kekeringan Ekstrem
Silvana Febiari • 8 October 2026 16:12
Mataram: Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB), memastikan Kota Mataram belum terdampak kekeringan ekstrem. Kondisi tersebut berbeda dengan sejumlah kabupaten/kota lain di NTB yang mulai mengalami kekeringan.
"Alhamdulillah, sejauh ini penyediaan air bersih guna memenuhi kebutuhan sehari-hari masih terpenuhi dan aman," kata Kepala Pelaksana BPBD Kota Mataram Budi Wartono di Mataram, dilansir Antara, Kamis, 8 Oktober 2026.
BPBD juga memastikan belum menerima laporan maupun aduan terkait dampak kekeringan ekstrem yang dialami warga. Kepastian itu diperoleh setelah pihak BPBD berkoordinasi intensif dengan jajaran kepala wilayah, enam camat, serta 50 lurah, di seluruh wilayah Kota Mataram.
Baca Juga :
Berdasarkan hasil pemantauan tim di lapangan, ketersediaan air bersih masyarakat sejauh ini masih relatif aman. Pihaknya tidak menemukan sumur warga yang mengering.
"Begitu pula di sektor pertanian, aktivitas bercocok tanam masih berjalan normal tanpa memicu kekeringan ekstrem yang menyebabkan kegagalan panen maupun gagal tanam," ucapnya.
Debit air pada saluran irigasi memang menurun akibat berkurangnya pasokan dari wilayah hulu. Namun, alirannya masih cukup untuk mengairi lahan pertanian.
Mengantisipasi dampak kemarau berkepanjangan, BPBD Kota Mataram terus melakukan langkah pencegahan. Upaya tersebut dilakukan melalui sosialisasi kewaspadaan kekeringan serta patroli rutin di area lahan yang rawan terbakar.
Petugas juga aktif memberikan edukasi kepada para petani agar tidak membakar jerami pasca-panen demi mencegah meluasnya kebakaran lahan.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Mataram Budi Wartono. ANTARA/Nirkomala.
Sebagai langkah kesiapsiagaan, BPBD Kota Mataram telah menyalurkan enam tandon air berkapasitas masing-masing 5.000 liter ke enam kantor kecamatan. Tandon tersebut disiagakan dan dapat digunakan sewaktu-waktu melalui koordinasi dengan pemerintah kecamatan untuk memenuhi kebutuhan air bersih masyarakat.
"Total air tandon yang kami siapkan sekitar 30.000 liter di enam kecamatan," ucapnya.
Berdasarkan hasil rapat koordinasi dengan BMKG Mataram, Oktober menjadi periode awal pembentukan bibit awan hujan di Kota Mataram. Hujan diperkirakan mulai turun pada November dengan intensitas normal.
"Sementara puncak musim hujan untuk wilayah Mataram dan sekitarnya diprediksi pada Januari 2027," imbuhnya.