Status MSCI Disebut Jadi Penopang Prospek Saham Indonesia Kian Bergairah

Ilustrasi. Foto: MI/Andri Widyanto.

Status MSCI Disebut Jadi Penopang Prospek Saham Indonesia Kian Bergairah

Husen Miftahudin • 21 July 2026 15:43

Jakarta: PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia (MASI) menilai prospek pasar saham Indonesia pada semester II 2026 masih memiliki peluang positif. Optimisme tersebut didukung valuasi saham yang semakin menarik serta tetap dipertahankannya status Indonesia sebagai 'Emerging Market' dalam indeks MSCI.

Head of Research and Chief Economist MASI Rully Arya Wisnubroto mengatakan mulai pulihnya minat investor asing terhadap saham-saham perbankan berkapitalisasi besar (big caps bank) menjadi sinyal positif bagi pasar modal domestik.

"Mulai pulihnya minat investor asing terhadap saham-saham perbankan berkapitalisasi besar (big caps bank) menjadi salah satu sinyal positif bagi pasar saham Indonesia," ujar Rully dalam Mirae Asset Media Day di Jakarta, dikutip dari Antara, Selasa, 21 Juli 2026.

Menurut dia, setelah melewati fase technical rebound, fokus investor akan bergeser pada fundamental ekonomi, arah kebijakan moneter global, serta kemampuan emiten menjaga pertumbuhan kinerja.

"Perhatian investor kini tidak lagi hanya tertuju pada momentum rebound, tetapi juga pada kekuatan fundamental ekonomi dan prospek kinerja emiten di tengah tantangan makro yang masih berlangsung," kata Rully.

Rully menilai tantangan utama pasar saham Indonesia pada semester II 2026 masih berasal dari kebijakan moneter Amerika Serikat.

MASI memproyeksikan bank sentral AS, Federal Reserve (The Fed), akan kembali menaikkan suku bunga acuan masing-masing sebesar 25 basis poin pada September dan Desember 2026. Kondisi tersebut diperkirakan membuat kebijakan suku bunga tinggi (higher for longer) masih berlanjut.

"Kondisi higher for longer membuat likuiditas dolar AS semakin ketat, sehingga memberikan tekanan terhadap nilai tukar rupiah. Di tengah perlambatan ekonomi dan potensi twin deficit, ruang Bank Indonesia (BI) untuk kembali menaikkan suku bunga juga semakin terbatas," ujar Rully.
 



(Ilustrasi pergerakan saham pada IHSG. Foto: Medcom.id)
 

Status MSCI kurangi risiko arus dana keluar


Sementara itu, Research Analyst MASI Wilbert Arifin mengatakan keputusan MSCI mempertahankan Indonesia dalam kategori 'Emerging Market' menjadi sentimen positif bagi pasar. Keputusan tersebut dinilai mampu meredakan ketidakpastian, meski Indonesia masih berada dalam masa pemantauan hingga November 2026.

"Status Indonesia sebagai 'Emerging Market' tetap terjaga, meski bobot Indonesia dalam indeks MSCI Emerging Markets turun menjadi sekitar 0,4 persen pada Juni 2026 dari 1,2 persen pada akhir 2025, seiring berkurangnya kepemilikan investor asing dan arus keluar dana dari pasar saham Indonesia," ujar Wilbert.

Sebelum keputusan tersebut diumumkan, pasar sempat mengantisipasi potensi reklasifikasi Indonesia menjadi Frontier Market yang diperkirakan dapat memicu arus keluar dana bersih hingga Rp80 triliun.

Dengan tetap dipertahankannya status Emerging Market, Wilbert menilai risiko tersebut mereda, meski tantangan untuk menarik kembali aliran dana asing masih cukup besar.

"Net outflow asing masih didominasi dana yang mengacu pada indeks (index linked funds), sementara investor strategis tetap mempertahankan eksposurnya pada saham-saham perbankan berkapitalisasi besar. Dengan valuasi pasar yang berada pada level terendah dalam satu dekade dan potensi unfreeze inklusi indeks MSCI ke depannya, peluang kembalinya aliran dana asing ke pasar saham domestik tetap terbuka," katanya.

Wilbert menambahkan, perhatian investor pada paruh kedua 2026 akan tertuju pada kemampuan Indonesia menjaga stabilitas makroekonomi, meningkatkan daya tarik pasar modal, serta mendorong pertumbuhan laba emiten.

"Kombinasi faktor-faktor tersebut akan menjadi penentu utama arah pasar saham Indonesia pada semester kedua 2026," jelas Wilbert.

(Husen Miftahudin)