Israel Setujui Pembukaan Terbatas Perlintasan Rafah Sesuai Rencana Damai Trump

Titik perlintasan Rafah yang memisahkan antara Mesir dan Gaza. (Anadolu Agency)

Israel Setujui Pembukaan Terbatas Perlintasan Rafah Sesuai Rencana Damai Trump

Willy Haryono • 26 January 2026 13:21

Tel Aviv: Pemerintah Israel menyatakan telah menyetujui pembukaan kembali secara terbatas titik perlintasan Rafah sebagai bagian dari rencana perdamaian 20 poin Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk Gaza.

Kantor Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, dalam pernyataan yang diunggah di platform X pada Minggu malam waktu setempat, menyebut pembukaan kembali Rafah hanya diperuntukkan bagi perlintasan pejalan kaki dan tetap berada di bawah mekanisme inspeksi penuh oleh Israel.

Pembukaan ini disyaratkan dengan pemulangan seluruh sandera Israel yang masih hidup serta upaya penuh dari kelompok pejuang Palestina Hamas untuk menemukan dan mengembalikan seluruh sandera yang telah meninggal dunia.

“Sebagai bagian dari rencana 20 poin Presiden Trump, Israel telah menyetujui pembukaan terbatas Perlintasan Rafah untuk perlintasan pejalan kaki saja, dengan mekanisme inspeksi penuh oleh Israel,” tulis kantor Netanyahu, dilansir dari Anadolu Agency, Senin, 26 Januari 2026.

Israel juga menyatakan perlintasan tersebut baru akan dibuka setelah operasi pencarian jenazah tentara Israel, Ran Gvili, dinyatakan selesai.

Israel menutup sepenuhnya sisi Palestina dari Perlintasan Rafah sejak Mei 2024 sebagai bagian dari ofensif militernya di Jalur Gaza yang telah berlangsung hampir dua tahun. Sejak Oktober 2023, serangan Israel di wilayah tersebut dilaporkan telah menewaskan lebih dari 71.400 orang, mayoritas perempuan dan anak-anak.

Dalam beberapa bulan terakhir, Israel mengaitkan pembukaan kembali Rafah dengan pemulangan jenazah sandera terakhirnya dari Gaza. Perlintasan Rafah, yang menghubungkan Gaza dengan Mesir, sejatinya dijadwalkan kembali dibuka pada Oktober dalam fase pertama perjanjian gencatan senjata yang mulai berlaku pada 10 Oktober, namun Israel tidak melaksanakan ketentuan tersebut.

Sejak fase pertama gencatan senjata, faksi-faksi Palestina telah membebaskan 20 sandera Israel dalam keadaan hidup serta mengembalikan jenazah 27 sandera lainnya. Namun, jenazah Ran Gvili hingga kini masih belum ditemukan.

Kementerian Kesehatan Palestina mencatat, sejak gencatan senjata diberlakukan, militer Israel telah melakukan ratusan pelanggaran yang menyebabkan sedikitnya 484 warga Palestina tewas dan 1.321 lainnya luka-luka.

Baca juga:  Lebih dari 230 Jurnalis Tewas di Gaza, UNRWA: Tempat Paling Berbahaya bagi Media

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Willy Haryono)