Rusia Serang Ukraina Jelang Parade Hari Kemenangan, 21 Orang Tewas

Kobaran api di lokasi serangan Rusia di Ukraina. (Anadolu Agency)

Rusia Serang Ukraina Jelang Parade Hari Kemenangan, 21 Orang Tewas

Willy Haryono • 6 May 2026 08:42

Kyiv: Serangan Rusia telah menewaskan 21 orang di sejumlah kota di Ukraina, menurut keterangan para pejabat setempat pada Rabu, 6 Mei 2026.

Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky mengkritik Moskow dengan mengatakan bahwa serangan tetap berlangsung, bahkan ketika Rusia berupaya mendorong gencatan senjata menjelang parade militer Hari Kemenangan pada 9 Mei mendatang.

Dikutip dari TRT World, serangan sepanjang hari Selasa itu menghantam kota-kota seperti Zaporizhzhia, Kramatorsk, dan Dnipro, hanya beberapa jam sebelum gencatan senjata yang diusulkan Ukraina dimulai.

Di Zaporizhzhia, 12 orang tewas dalam serangan yang oleh Zelensky disebut "sama sekali tidak memiliki pembenaran militer."

Sedikitnya 70 orang juga terluka dalam serangan pada Selasa tersebut, yang disebut para pejabat sebagai salah satu serangan paling mematikan dalam beberapa pekan terakhir.

Pada Selasa malam, kota Dnipro kembali diserang dan menyebabkan empat warga sipil tewas, sementara lima orang lainnya tewas akibat serangan di pusat kota Kramatorsk.

Serangan di Tengah Gencatan Senjata

Di tengah kekerasan yang terus berlangsung, gencatan senjata yang diumumkan Zelenskyy mulai berlaku pada tengah malam waktu setempat. Gencatan senjata itu dimulai dua hari menjelang gencatan senjata Hari Kemenangan 8-9 Mei yang diumumkan Rusia.

Zelensky menyatakan bahwa gencatan senjata 6 Mei diberlakukan karena "nyawa manusia jauh lebih berharga daripada perayaan hari jadi apa pun".

Ia juga menolak tuntutan Rusia untuk gencatan senjata selama peringatan Hari Kemenangan Perang Dunia II.

"Kita membutuhkan keheningan setiap hari, bukan hanya beberapa jam demi 'perayaan,'" ujarnya.

Sementara itu, Moskow mengumumkan gencatan senjata pada 8-9 Mei. Namun, Kementerian Pertahanan Rusia memperingatkan akan mengambil "semua langkah yang diperlukan" demi menjamin keamanan dan mengancam serangan balasan rudal berskala besar jika perayaan terganggu.

Kyrylo Budanov, kepala kantor kepresidenan Ukraina, mengatakan pada Selasa bahwa gencatan senjata dari Kyiv mencerminkan "keinginan tulus untuk perdamaian."

Di sisi lain, Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Marco Rubio berbicara melalui telepon dengan Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov atas permintaan Rusia untuk membahas hubungan bilateral dan perang yang sedang berlangsung.

Baca juga:  Rusia Umumkan Gencatan Senjata Unilateral di Ukraina Jelang Hari Kemenangan

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Willy Haryono)