Sudan terjerumus ke dalam kekacauan pada April 2023 ketika perebutan kekuasaan antara militer dan RSF meletus. (Anadolu Agency)
Serangan di Rumah Sakit Sudan Tewaskan 64 Orang, WHO Desak Akhiri Konflik
Willy Haryono • 22 March 2026 15:12
Khartoum: Serangan terhadap sebuah rumah sakit di Sudan menewaskan sedikitnya 64 orang dan melukai 89 lainnya, menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada Sabtu.
Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus mengatakan serangan di hari Jumat itu menghantam El-Daein Teaching Hospital di ibu kota negara bagian Darfur Timur. Korban tewas termasuk 13 anak-anak, dua perawat perempuan, satu dokter, serta sejumlah pasien.
“Cukup sudah darah tertumpah,” kata Tedros, dikutip dari Hurriyet Daily, Minggu, 22 Maret 2026, seraya mendesak diakhirinya konflik yang telah berlangsung hampir tiga tahun di Sudan.
WHO menyebut serangan tersebut menyebabkan kerusakan parah pada unit pediatri, maternitas, dan layanan darurat, sehingga rumah sakit tidak lagi dapat beroperasi.
Akibatnya, terjadi gangguan kritis terhadap layanan medis penting di wilayah tersebut.
Tedros mengatakan WHO kini mendukung fasilitas kesehatan lain dengan meningkatkan kapasitas perawatan korban, serta mendistribusikan peralatan trauma dan obat-obatan esensial.
Sebanyak delapan tenaga kesehatan termasuk di antara korban luka.
Dugaan Serangan Drone
Kelompok advokasi Sudan, Emergency Lawyers, melaporkan rumah sakit tersebut terkena serangan drone militer. Wilayah Darfur saat ini didominasi oleh Rapid Support Forces (RSF), sementara militer Sudan menguasai wilayah timur, tengah, dan utara.Kota El-Daein yang dikuasai RSF kerap menjadi sasaran serangan militer Sudan dalam upaya merebut kembali wilayah strategis.
Militer Sudan, dalam pernyataan resmi, menyatakan tetap mematuhi hukum internasional dan menuding RSF sebagai pihak yang kerap menyerang fasilitas sipil. Kantor kemanusiaan PBB menyatakan “terkejut” atas serangan tersebut.
Sejak konflik pecah pada April 2023, rumah sakit dan fasilitas kesehatan berulang kali menjadi sasaran. Data WHO menunjukkan sedikitnya 2.036 orang tewas dalam 213 serangan terhadap fasilitas kesehatan selama konflik berlangsung.
“Serangan terhadap layanan kesehatan memiliki dampak langsung dan jangka panjang bagi masyarakat yang sudah sangat membutuhkan bantuan medis,” tutur Tedros.
“Fasilitas kesehatan seharusnya tidak pernah menjadi target. Perdamaian adalah obat terbaik,” ujarnya.
Baca juga: Sudan Tegaskan Proposal Damai dengan RSF Harus Jamin Kepentingan Nasional