Dino Patti Djalal Usulkan Lima Agenda Prioritas Indonesia untuk Target Net Zero

Pendiri FPCI Dino Patti Djalal dalam pembukaan Indonesia Net-Zero Summit di Jakarta, Sabtu, 1 Agustus 2026. (Metrotvnews.com)

Dino Patti Djalal Usulkan Lima Agenda Prioritas Indonesia untuk Target Net Zero

Muhammad Reyhansyah • 1 August 2026 12:13

Jakarta: Pendiri Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI) Dino Patti Djalal mengusulkan dan memaparkan lima agenda prioritas yang dinilai perlu segera dijalankan Indonesia agar mampu menjadi salah satu negara pelopor aksi iklim global. 

Menurutnya, dunia hanya memiliki waktu hingga 2030 untuk menekan laju emisi sebelum dampak perubahan iklim menjadi semakin sulit dikendalikan.

Berbicara dalam pembukaan Indonesia Net-Zero Summit (INZS) 2026 di Jakarta, Sabtu, 1 Agustus 2026, Dino mengatakan perubahan iklim kini telah menjadi tantangan terbesar dunia yang memengaruhi hampir seluruh aspek kehidupan, mulai dari kesehatan, ketahanan pangan, ekonomi, hingga keamanan. Karena itu, Indonesia perlu mengambil langkah yang lebih progresif melalui sejumlah kebijakan konkret.

Agenda pertama yang didorong Dino ialah memastikan program pembangunan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) berkapasitas 100 gigawatt yang dicanangkan Presiden Prabowo Subianto dapat segera direalisasikan.

Ia mengaku optimistis pemerintah serius menjalankan program tersebut. Menurutnya, proyek percontohan akan segera dimulai dalam waktu dekat dan saat ini pemerintah tinggal menuntaskan penerbitan peraturan presiden sebagai landasan pelaksanaan.

"Kalau kita bisa membuktikan bahwa program 100 GW benar-benar berjalan dan beroperasi, kepercayaan investor dan dana-dana ESG akan datang ke Indonesia," kata Dino.

Dino juga berharap Presiden Prabowo memberikan perhatian yang sama besar terhadap proyek energi surya tersebut sebagaimana program prioritas lainnya karena transisi energi dinilai mampu meningkatkan daya tarik investasi Indonesia.

Lindungi Hutan

Agenda kedua, menurut Dino, ialah menjaga keberlanjutan perlindungan hutan, lahan gambut, dan mangrove Indonesia. Ia mengapresiasi capaian penurunan deforestasi hingga sekitar 85 persen pada masa pemerintahan Presiden Joko Widodo yang telah mendapat pengakuan internasional.

Namun, ia mengingatkan agar pemerintah tidak membuka ruang bagi deforestasi di Papua karena dampaknya dapat menghapus berbagai capaian pengurangan emisi dari sektor lain.

"Kalau terjadi deforestasi di Papua, seluruh penghematan emisi dari sektor industri, transportasi, dan energi akan hilang. Itu akan sangat berbahaya, baik secara ekonomi, sosial, maupun dari sisi emisi," ujarnya.

Selanjutnya, Dino mendorong percepatan pengembangan pasar karbon nasional. Menurut dia, Indonesia memiliki potensi menjadi salah satu pasar karbon terbesar di dunia melalui perdagangan karbon di Bursa Karbon Indonesia (IDX Carbon).

Ia mengatakan harga karbon saat ini masih relatif rendah, namun diyakini akan meningkat seiring berkembangnya mekanisme perdagangan karbon di dalam negeri.

"Kita memiliki potensi menjadi pasar karbon terbesar di dunia," kata Dino.

Perkuat Diplomasi Iklim

Pada agenda keempat, Dino meminta pemerintah memanfaatkan keanggotaan Indonesia di G20 untuk menjadi pelopor diplomasi iklim global. Menurutnya, negara-negara anggota G20 menyumbang hampir 80 persen emisi dunia sehingga memiliki tanggung jawab besar dalam mendorong aksi penanganan perubahan iklim.

Ia menilai Indonesia perlu tetap memperjuangkan agenda iklim internasional meski kebijakan Amerika Serikat saat ini bergerak menjauh dari komitmen Perjanjian Paris.

"Kita harus menggunakan keanggotaan Indonesia di G20 untuk terus mendorong agenda perubahan iklim yang progresif," ujarnya.

Terakhir, Dino menekankan pentingnya membangun hubungan kerja yang erat antara pemerintah dan kelompok masyarakat sipil dalam merumuskan maupun mengawal kebijakan iklim.

Menurutnya, berbagai organisasi masyarakat sipil telah memiliki pengalaman dan kapasitas yang dapat mendukung pemerintah mempercepat pencapaian target net-zero Indonesia.

"Pemerintah dan kelompok masyarakat sipil berada dalam tim yang sama. Karena itu, kita perlu terus berdialog dan bekerja bersama," kata Dino.

Menutup pidatonya, Dino mengingatkan bahwa perjuangan menghadapi perubahan iklim akan menjadi tantangan terbesar abad ke-21. Ia menilai lima tahun ke depan merupakan periode yang sangat menentukan bagi dunia untuk mencegah kenaikan suhu global hingga tiga derajat Celsius.

"Anda adalah generasi terakhir yang dapat menyelamatkan umat manusia dari bencana iklim. Jendela waktunya hanya sampai 2030," kata Dino.

Baca juga:  Dino Patti Djalal Tegaskan Target Transisi Energi Butuh Implementasi Konsisten

(Willy Haryono)