Profil Izz al-Din al-Haddad, Pemimpin Hamas yang Diklaim Tewas oleh Israel

Kepala Hamas Gaza, Izz al-Din Haddad, yang saat itu menjabat sebagai komandan Brigade Kota Gaza Hamas, terlihat dalam sebuah video yang dirilis oleh sayap militer Hamas pada Mei 2022. (Dok. Hamas)

Profil Izz al-Din al-Haddad, Pemimpin Hamas yang Diklaim Tewas oleh Israel

Riza Aslam Khaeron • 16 May 2026 18:40

Jakarta: Militer Israel (IDF) mengklaim telah menewaskan Izz al-Din al-Haddad, sosok yang disebut-sebut sebagai pemimpin Hamas di Jalur Gaza sekaligus kepala sayap militer kelompok tersebut, dalam sebuah serangan udara di Kota Gaza.

IDF melabeli Haddad sebagai "salah satu arsitek pembantaian 7 Oktober." Mereka menuduh Haddad berperan aktif dalam membangun kembali kemampuan tempur Hamas serta merencanakan berbagai serangan terhadap warga sipil Israel dan pasukan IDF.

Hingga laporan ini disusun, pihak Hamas belum memberikan konfirmasi resmi terkait kabar kematiannya. Pengumuman mengenai serangan terhadap pemimpin Hamas ini disampaikan melalui pernyataan bersama Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, dan Menteri Pertahanan, Israel Katz, pada 15 Mei 2026.

Berdasarkan laporan petugas medis di Gaza, serangan udara tersebut merenggut 3 nyawa dan menyebabkan 20 orang lainnya luka-luka.

Lantas, siapa sebenarnya sosok Izz al-Din al-Haddad? Berikut adalah profilnya.
 

"Hantu al-Qassam" yang Diburu Israel 

Menurut laporan Wall Street Journal (WSJ), di lingkungan internal Hamas, Haddad dikenal dengan julukan Ghost of al-Qassam (Hantu al-Qassam). Julukan ini merujuk pada profilnya yang sangat tertutup sehingga membuatnya sangat sulit dilacak selama bertahun-tahun.

Pria yang lahir sekitar tahun 1970 ini menginjak usia 55 tahun saat menjabat sebagai pemimpin tertinggi Hamas di Gaza. Sepanjang kariernya, ia telah lolos dari beberapa upaya pembunuhan oleh Israel, meskipun dua putranya dilaporkan tewas dalam konflik yang pecah pada bulan Oktober 2023.

Haddad merupakan salah satu komandan dengan masa jabatan terlama dalam sejarah Hamas, setelah bergabung sejak organisasi tersebut baru berdiri. Ia merintis kariernya dari tingkat paling bawah di Brigade al-Qassam — sayap militer Hamas — dan secara bertahap memimpin unit tempur yang lebih besar hingga akhirnya mencapai puncak hierarki kepemimpinan.

Selain peran militernya, Haddad juga pernah mengabdi di al-Majd, satuan keamanan internal Hamas yang didirikan oleh Yahya Sinwar. Unit ini bertugas memburu kolaborator dan mata-mata. Pengalaman ganda di dua struktur paling krusial ini menjadikan Haddad sosok yang sangat berpengaruh jauh sebelum ia menduduki posisi puncaknya.
 

Peran dalam Serangan 7 Oktober dan Negosiasi Gencatan Senjata


Sumber: Istimewa

IDF menuduh Haddad sebagai salah satu komandan senior terakhir yang mengarahkan langsung perencanaan serta pelaksanaan serangan 7 Oktober 2023.

Selain itu, ia dituduh Israel memegang peran krusial selama perang sebagai pengelola sistem penyanderaan warga Israel yang diculik, kemampuannya dalam berbahasa Ibrani juga membuatnya lancar berkomunikasi dengan para sandera.

Namun, sejumlah pejabat intelijen Arab yang dikutip WSJ menggambarkan Haddad sebagai sosok yang lebih pragmatis jika dibandingkan dengan Yahya Sinwar dan saudaranya, Mohammad Sinwar dalam negosiasi gencatan senjata dengan Israel.

Ia dikabarkan sempat mendesak Mohammed Sinwar untuk menerima kesepakatan gencatan senjata pada Januari 2025 demi membebaskan sejumlah sandera. Ia juga disebut menekan agar lebih banyak sandera dibebaskan untuk memperpanjang masa gencatan senjata sebelum akhirnya kesepakatan itu runtuh pada Maret.

Berdasarkan laporan WSJ, Haddad bahkan dilaporkan lebih terbuka untuk mendiskusikan tuntutan internasional agar Hamas melucuti senjatanya — sebuah opsi yang ditolak mentah-mentah oleh Sinwar bersaudara.

Meskipun begitu, saat mengumumkan serangan yang diklaim menewaskan Haddad, pemerintah Israel menudingnya sebagai pihak yang menghalangi implementasi rencana pelucutan senjata dalam kerangka gencatan senjata Oktober 2026.

"Dia menyandera warga kami dalam penawanan yang kejam, meluncurkan serangan teroris terhadap pasukan kami, dan menolak menerapkan kesepakatan yang dipimpin oleh Presiden AS Donald Trump untuk melucuti senjata Hamas serta mendemiliterisasi Jalur Gaza," demikian pernyataan Netanyahu dan Katz melalui akun X mereka pada 15 Mei 2026 waktu setempat.
 
Baca Juga:
Netanyahu Siap Gugat NYT soal Tuduhan Pelecehan terhadap Tahanan Palestina
 

Mewarisi Kepemimpinan Hamas di Tengah Kehancuran


Kerusakan di lingkungan Al-Zaytun di Gaza, 12 Februari 2025. (EFE/EPA/MOHAMMED SABER)

Pasca tewasnya Yahya Sinwar pada Oktober 2024, Haddad mengambil alih kendali pasukan Hamas di wilayah Gaza Utara, sementara Mohammed Sinwar memimpin di wilayah Selatan.

Setelah Mohammed Sinwar tewas dalam serangan Israel di terowongan bawah Rumah Sakit Eropa di Khan Younis pada pertengahan Mei 2025, Haddad naik menjadi pemimpin tunggal Hamas di Gaza. Hal ini menjadikannya pemimpin ketiga kelompok tersebut dalam kurun waktu hanya tujuh bulan.

Haddad mewarisi Hamas dalam kondisi yang sangat memprihatinkan. Dari sekitar 35.000 pejuang sebelum Oktober 2023, Israel memperkirakan telah menewaskan hingga 20.000 di antaranya. Dari belasan anggota senior dewan militer yang ada sebelum perang, hanya sedikit yang diyakini masih hidup.

Meski demikian, Haddad dilaporkan berhasil merekrut ribuan pejuang baru. Intelijen Arab memperkirakan bahwa saat Haddad mengambil alih kepemimpinan, Hamas memiliki sekitar 25.000 personel di sayap militernya — meskipun sebagian besar hanya mendapatkan pelatihan minimal, bahkan ada yang hanya belajar melalui brosur instruksi penggunaan senjata.

Kelompok ini juga menghadapi krisis dana, senjata, dan pasokan akibat blokade ketat. Meskipun begitu, Hamas dilaporkan tetap memberi tantangan bagi Israel dengan strategi perang griliya ketika perang Gaza masih bergejolak sebelum gencatan senjata bulan Oktober 2025.

Israel sendiri memasang imbalan sebesar $750.000 (sekitar Rp12 miliar) bagi siapa saja yang bisa memberikan informasi mengenai keberadaannya. Setelah kematian Mohammed Sinwar diumumkan secara resmi, Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, memberikan peringatan keras kepada Haddad dan pemimpin senior lainnya yang saat ini sedang berada di Doha, Qatar.

"Izz al-Din Haddad di Gaza dan Khalil al-Hayya di luar negeri, serta seluruh rekan kejahatan kalian, kalian adalah target berikutnya," ucap Katz pada Mei 2026.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(M Sholahadhin Azhar)