Belajar dari Yamal

Dewan Redaksi Media Group, Abdul Kohar. Foto: Media Indonesia (MI)/Ebet.

Podium Media Indonesia

Belajar dari Yamal

Media Indonesia, Abdul Kohar • 18 May 2026 05:41

Sepak bola selalu meninggalkan pelajaran. Tak terkecuali kompetisi Liga Champions Eropa. Pada kompetisi antarklub Eropa tahun ini, pelajaran itu juga datang. Ada filosofi tahan banting yang menarik dari bintang Barcelona, Lamine Yamal.

Menarik karena filosofi itu disampaikan bukan oleh filsuf atau sosok senior, sesepuh, atau figur yang sudah puluhan tahun kenyang dengan asam garam kehidupan. Ia datang dari pemuda 18 tahun, dari pesepak bola dengan rekor pemain termuda pertama yang mengantongi 100 laga bersama tim senior, bulan lalu.

Seusai disingkirkan klub senegara, Atletico Madrid, di perempat final Liga Champions, Lamine Yamal sangat sedih, marah, dan setengah frustrasi. Untung cuma setengah. Alhasil, ia masih menyisakan setengah harapan. Namun, setengah itu pun cukup untuk memotivasi diri dan tim.
 

Baca Juga :

Lubang Jarum Pinjol


Kata Yamal, "Kami sudah mengerahkan seluruh kemampuan kami, tetapi itu belum cukup. Ini hanyalah bagian dari perjalanan. Untuk mencapai puncak, kita harus mendaki. Kita tahu itu tidak akan mudah, dan mereka pun (lawan dan saingan) tidak akan mempermudah kita."

Yamal menyebut bahwa mencapai puncak mustahil tanpa mendaki. Pasti bukan pendakian yang mudah. Lawan akan berdaya upaya. Musuh akan menjegal. Merengkuh puncak butuh mental baja, motivasi tinggi, dan energi berlipat ganda. Ia bukan tempat bagi yang rapuh.

Yamal melanjutkan, "Namun, menyerah bukanlah pilihan. Kami memiliki lebih dari cukup alasan untuk percaya dan kami akan mengejarnya dengan segenap kemampuan kami. Setiap kesalahan ialah pelajaran dan jangan ragu bahwa kami akan belajar dari setiap kesalahan tersebut."

Ia memodali siapa pun dengan motivasi bahwa kepercayaan dan keyakinan ialah separuh jalan. Tanpa kepercayaan, puncak tidak akan tergapai. Minus keyakinan, pendakian akan licin dan memerosokkan.

Yamal pun sangat yakin dengan jalan klub yang membesarkannya itu, Barca. Ia menegaskan, "Kami Barca dan kami akan kembali ke tempat kami seharusnya berada. Orangtua saya mengajarkan kepada saya bahwa janji seorang pria harus selalu ditepati dan kami akan mewujudkannya di Barcelona."

Kejayaan sebuah bangsa juga mesti melalui pendakian. Bukan simsalabim. Indonesia mesti dijajah Belanda, Jepang, diganggu Belanda lagi, hingga diterjang konflik politik, badai ekonomi berkali-kali, juga pandemi untuk tetap kuat.

Iran juga sama. Negeri itu diembargo ekonomi selama 47 tahun. Namun, tetap kuat. Bahkan, dalam pandangan Robert Pape, profesor ilmu politik dari University of Chicago melalui tulisannya di The New York Times berjudul The War is Turning Iran Into a Major World Power, Iran kini sudah menjadi negara adidaya baru.


Ilustrasi. Foto: Freepik.com.

Jadi, filosofi mendaki ala Lamine Yamal relevan untuk menjadi bekal bagi bangsa ini untuk menapaki kebangkitan. Apalagi Mei ialah 'bulan kebangkitan' selain 'bulan pendidikan'.

Di titik ini, kita mulai melihat benang merahnya. Pendakian, betapa pun melelahkan, ialah syarat untuk mencapai ketinggian. Tidak ada jalan pintas yang benar-benar bernilai. Yang ada hanyalah proses panjang yang menuntut kesabaran, ketekunan, dan keyakinan.

Karena itu, filosofi sederhana dari seorang anak 18 tahun itu terasa seperti pengingat yang menampar pelan, bahwa harapan tidak perlu utuh untuk tetap bermakna. Setengah harapan pun cukup, selama ia dijaga dan diperjuangkan.

Mungkin, di tengah segala ketidakpastian yang kita hadapi hari ini, kita tidak membutuhkan jawaban yang rumit. Kita hanya perlu terus mendaki, secara pelan, tertatih, tetapi pasti sembari meyakini bahwa puncak itu ada, dan suatu hari, ia akan kita capai.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Fachri Audhia Hafiez)