Foto dari udara kondisi antrean kendaraan di Pelabuhan Gilimanuk, Kabupaten Jembrana, Bali, pada H-3 Lebaran 2026. Rabu (18/3/2026) ANTARA/Budi Candra
Arus Balik Lebaran 2026 ke Bali Diprediksi Terjadi Dua Gelombang
Lukman Diah Sari • 24 March 2026 17:50
Badung: Polda Bali memprediksi puncak arus balik Lebaran 2026 dari Pulau Jawa menuju Bali akan terjadi dalam dua gelombang, seiring dengan kebijakan pemerintah terkait penerapan sistem kerja work from anywhere (WFA). Kepala Biro Operasi Polda Bali Kombes Soelistijono mengatakan gelombang pertama diperkirakan terjadi pada 24-25 Maret, sedangkan gelombang kedua pada 27-28 Maret 2026.
"Ya kalau prediksi sesuai dengan tadi disampaikan oleh Bapak Kapolri itu di tanggal 27-28. Itu merupakan puncak terkait dengan kepadatan. Namun, demikian dari sekarang, karena ada dua tahap. Tahap pertama itu adalah diperkirakan tanggal 24-25, kemudian tahap kedua itu di tanggal 27-28," kata kata Soelist di Badung, Selasa, 24 Maret 2026, melansir Antara.
Soelist menjelaskan pengalaman pada arus mudik sebelumnya menunjukkan adanya penumpukan kendaraan hingga antrean mencapai sekitar 30 kilometer. Kondisi tersebut menjadi bahan evaluasi, khususnya terkait kapasitas angkut penyeberangan di pelabuhan.

Kepala Biro Operasi Polda Bali Komisaris Besar Polisi Soelistijono. ANTARA/Rolandus Nampu
Polda Bali telah berkoordinasi dengan berbagai pihak, termasuk ASDP di Gilimanuk dan Ketapang, untuk mengantisipasi lonjakan kendaraan. Sejumlah personel juga telah disiagakan di titik-titik rawan kemacetan, terutama di jalur dari Gilimanuk menuju Tabanan dan Buleleng.
Selain itu, berbagai skenario penanganan telah disiapkan, di antaranya penempatan petugas di simpul-simpul jalan, serta penyediaan sarana pendukung seperti mobil derek, ambulans, dan pemadam kebakaran guna mempercepat penanganan jika terjadi gangguan lalu lintas.
"Kalau di Gilimanuk itu arus balik itu saya kira tidak terlalu mengkhawatirkan seperti kita arus mudik kemarin, karena kalau sekarang ini arus balik, secara otomatis nanti terjadi penumpukan itu di Ketapang," ujar dia.
Untuk ke depan, pihaknya merekomendasikan penambahan kapal berkapasitas besar guna meningkatkan daya angkut kendaraan. Sehingga proses penyeberangan dapat berjalan lebih cepat dan mengurangi potensi penumpukan.