SD di Semarang Diisi 3 Murid saat MPLS 2026, Mendikdasmen Siapkan Kebijakan Khusus

Mendikdasmen Abdul Mu'ti saat ditemui media di Jakarta. Foto: ANTARA/Lintang Budiyanti Prameswari.

SD di Semarang Diisi 3 Murid saat MPLS 2026, Mendikdasmen Siapkan Kebijakan Khusus

Fachri Audhia Hafiez • 14 July 2026 19:12

Jakarta: Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menggandeng Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) untuk merumuskan formula kebijakan bagi sekolah-sekolah yang mengalami krisis jumlah murid. Salah satunya di Sekolah Dasar Negeri (SDN) Purwoyoso 01, Kota Semarang, Jawa Tengah, yang tercatat hanya menerima tiga siswa baru Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) 2026.

"Pemerintah telah melakukan pendataan melalui Data Pokok Pendidikan (Dapodik) terutama terhadap sekolah yang memiliki kurang dari 100 siswa, bahkan di bawah 60 siswa. Data tersebut telah disampaikan kepada Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) dan kami akan merumuskan kebijakan terhadap sekolah-sekolah dengan jumlah murid yang sangat sedikit," kata Mendikdasmen Abdul Mu'ti di Jakarta, dilansir Antara, Selasa, 14 Juli 2026.
 


Mu'ti menjelaskan, koordinasi lintas kementerian ini sengaja dilakukan demi merespons fenomena krisis pendaftar di sejumlah Sekolah Dasar Negeri (SDN) yang sempat viral di media sosial. Kemendikdasmen menegaskan bahwa penyusunan regulasi baru nantinya wajib melibatkan pemerintah daerah selaku pemegang otoritas penuh atas pengelolaan sekolah di wilayah masing-masing.

"Penyusunan kebijakan akan kami lakukan bersama pemerintah daerah karena pengelolaan sekolah berada dalam kewenangan pemerintah daerah. Kebijakan yang diambil nantinya akan mempertimbangkan dampaknya bagi masyarakat dan diumumkan setelah pembahasan bersama selesai," jelas Mu'ti.


Ilustrasi Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) 2026. Foto: Dok. Metrotvnews.com.

Minimnya jumlah peserta didik baru salah satunya terjadi di SDN Purwoyoso 01, Kota Semarang, Jawa Tengah, yang tercatat hanya menerima tiga siswa baru untuk tahun ajaran 2026/2027. Selain itu, fenomena serupa juga melanda Kabupaten Sleman, DI Yogyakarta, di mana sekitar 60-an sekolah dilaporkan masih kekurangan kuota siswa hingga penutupan masa pendaftaran.

(Fachri Audhia Hafiez)