Ilustrasi rupiah. Metrototvnews.com/Eko Nordiansyah
Rupiah Ditutup ke Rp18.128/USD Kamis Sore
Eko Nordiansyah • 9 July 2026 16:10
Jakarta: Nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan hari ini mengalami pelemahan. Rupiah tertekan meningkatnya ketegangan AS dengan Iran.
Mengutip data Bloomberg, Kamis, 9 Juli 2026, nilai tukar rupiah terhadap USD ditutup di level Rp18.128 per USD. Mata uang Garuda tersebut turun 114 poin atau setara 0,63 persen dari posisi Rp18.014 per USD pada penutupan perdagangan hari sebelumnya.
Sementara itu, data Yahoo Finance menunjukkan rupiah berada di posisi Rp18.080 per USD. Rupiah justru menguat sebanyak 80 poin atau setara 0,44 persen dari Rp18.000 per USD di penutupan perdagangan sebelumnya.
Sedangkan berdasar pada data kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor), rupiah berada di level Rp18.090 per USD. Rupiah bergerak melemah dari Rp18.005 per USD pada perdagangan sebelumnya.
(1).jpg)
(Ilustrasi. Foto: Dok MI)
AS-Iran kembali memanas
Pergerakan rupiah pada hari ini akan dipengaruhi oleh sentimen pasar terhadap pernyataan Komando Pusat AS (Centcom) yang telah memulai serangkaian serangan terhadap Iran, yang bertujuan untuk memberikan apa yang digambarkan sebagai "biaya berat" atas serangan Teheran terhadap pelayaran komersial."Kembalinya permusuhan dan tanda-tanda masalah pelayaran yang lebih besar di Hormuz kembali memicu kekhawatiran tentang gangguan pasokan di Timur Tengah," kata Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi.
Serangan tersebut juga terjadi tak lama setelah AS menarik konsesi penting yang memungkinkan Iran untuk menjual minyak secara internasional, sebuah langkah yang dapat menandai pasar minyak yang lebih ketat dalam beberapa minggu mendatang.
Iran dilaporkan telah menyerang kapal-kapal yang mencoba menyeberangi Selat Hormuz minggu ini, meningkatkan ketegangan dengan AS dan memicu lebih banyak ketidakpastian tentang status jalur air penting tersebut.
Namun, babak permusuhan terbaru berpotensi merusak kesepakatan tersebut, dengan pembicaraan perdamaian di masa depan antara kedua negara kini tampak tidak pasti.
Alasan lain yang perlu dipertimbangkan adalah kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS 10 tahun yang naik 5,5 basis poin menjadi 4,525 persen. Meskipun demikian, pasar uang skeptis terhadap kenaikan suku bunga pada pertemuan The Fed di Juli, tetapi untuk bulan September, kemungkinannya mendekati 60 persen, menurut CME FedWatch Tool.
Di sisi lain, Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) hingga Semester I-2026 mengalami defisit sebesar Rp196,5 triliun atau setara 0,76 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).
Adapun realisasi pendapatan negara Rp1.459,4 triliun, sedangkan belanja negara sebesar Rp1.656 triliun. Realisasi defisit tersebut meningkat dibandingkan posisi Mei 2026 yang tercatat sebesar Rp180,4 triliun atau 0,70 persen terhadap PDB.