Kemlu Lakukan Koordinasi Intensif untuk Bebaskan ABK WNI dari Pembajak Somalia

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Yvonne Mewengkang. Foto: Metrotvnews.com

Kemlu Lakukan Koordinasi Intensif untuk Bebaskan ABK WNI dari Pembajak Somalia

Fajar Nugraha • 27 April 2026 10:38

Jakarta: Kementerian Luar Negeri RI bertindak cepat dalam upaya penyelamatan empat warga negara Indonesia (WNI) yang ditahan perompak di Perairan Somalia.

“Kementerian Luar Negeri melalui KBRI Nairobi terus melakukan koordinasi intensif dengan seluruh pihak terkait di Somalia menindaklanjuti laporan pembajakan Kapal MT Honour 25 yang terjadi di perairan sekitar Hafun, Somalia pada 22 April 2026,” ujar Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Yvonne Mewengkang, kepada Metrotvnews.com, Senin 27 April 2026.
 

Yvonne mengatakan, berdasarkan informasi yang diperoleh hingga saat ini, kapal tersebut diawaki oleh empat ABK WNI, 10 sepuluh WN Pakistan, satu WN India, dan satu WN Myanmar.

“Upaya  saat ini difokuskan pada tindak lanjut penanganan yang melibatkan otoritas pemerintah setempat, tokoh masyarakat, serta pelaku usaha yang terkait,” kata Yvonne.

Lebih lanjut Yvonne menambahkan bahwa KBRI Nairobi akan terus memantau perkembangan situasi secara seksama melalui koordinasi intensif dan terukur dengan seluruh pihak terkait, guna memastikan proses penanganan berjalan optimal dengan tetap mengedepankan keselamatan para ABK WNI.

Keluarga minta bantuan

Sebelumnya keluarga korban meminta Presiden Prabowo Subianto segara menyikapi kasus tersebut.

"Saya minta tolong ke Pak Prabowo, minta tolong bantu anak saya. Anak saya sekarang dalam keadaan minta pertolongan dari pak Prabowo," ujar Sitti Aminah ibu kandung Kapten Kapal Honour Ashari Samadikun, di Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan, Minggu.

Ia mengharapkan, pemerintah Indonesia melalui presiden dapat menyikapi kejadian tersebut dengan memberi atensi atas pembajakan kapal yang mengangkut minyak tersebut berlayar dari Oman di Perairan Somalia.

"Pak Prabowo, presiden kita, minta tolong Pak. Minta tolong sekali Pak. Sudah beberapa hari ini ditahan perompak Somalia," ucapnya dengan nada penuh harapan.

Sementara itu, istri korban Santi Sanjaya (26) menceritakan detik-detik suaminya bersama awak kapal tersebut dibajak perompak Somalia. Ia sempat berkomunikasi melalui panggilan video pada Selasa, 20 April 2026 sekitar pukul 19.30 WITA sebelum kejadian. Korban sempat menyebut kapalnya akan diserang perompak.

Meski komunikasi sempat terputus, ia mencoba menghubungi kembali dan ponselnya masih aktif, hanya saja tidak ada respons pembicaraan. Suasana terdengar menegangkan sehingga memutuskan untuk memutus sambungan telepon.

"Masih aktif hapenya, cuma tidak direspon. Selang beberapa jam tidak aktif hapenya lagi. Terus terakhir saya VC (panggilan video) tadi malam sama dia, baik-baik ji katanya di kapal," ucapnya menjelaskan.

Kendati demikian, situasi di atas kapal, kata dia, sering berubah-ubah. Kadang kalau merasa terancam perompaknya, situasi kembali tegang, sehingga mempengaruhi psikologis dan keselamatan awal kapal itu.

"Suamiku juga minta tolong semoga pemerintah membantu. Kami keluarga juga berharap pemerintah bisa bantu, mereka pulang dengan selamat," tuturnya dengan penuh harap.

Santi mengatakan, sejak Januari 2026 kapal jenis tanker itu dibawa suaminya sebagai kapten, rencananya kontrak kerja habis setelah kapal tersebut tiba di tujuan. Selanjutnya berencana pulang ke Gowa, Sulsel, Indonesia dari Somalia setelah mengajukan kepulangan di tempatnya bekerja.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Fajar Nugraha)