Yoweri Museveni kembali menang dalam pemilihan umum presiden Uganda pada Sabtu, 17 Januari 2026. (Anadolu Agency)
Museveni Menang Pemilu Uganda untuk Kali Ketujuh, Oposisi Tolak 'Hasil Palsu'
Willy Haryono • 18 January 2026 08:06
Kampala: Presiden Uganda Yoweri Museveni meraih kemenangan untuk masa jabatan ketujuh pada Sabtu, dalam pemilihan umum yang diwarnai kekerasan dan pemadaman internet. Para pengamat pemilu Afrika menyatakan bahwa penangkapan dan penculikan telah “menanamkan rasa takut” selama proses pemungutan suara.
Museveni, 81 tahun, memperoleh 71,65 persen suara dalam pemilu yang digelar Kamis, menurut Komisi Elektoral Uganda. Pemilu tersebut dilaporkan diwarnai sedikitnya 10 korban tewas serta intimidasi terhadap oposisi dan kelompok masyarakat sipil.
Dikutip dari France 24, Minggu, 18 Januari 2026, kemenangan ini memungkinkan Museveni memperpanjang kekuasaannya yang telah berlangsung sekitar 40 tahun di negara Afrika Timur tersebut.
Museveni mengalahkan pemimpin oposisi Bobi Wine, mantan penyanyi yang beralih ke dunia politik, yang meraih 24,72 persen suara. Wine, 43 tahun, mengatakan pada Sabtu bahwa dirinya bersembunyi setelah pasukan keamanan menggerebek rumahnya.
Wine, yang bernama asli Robert Kyagulanyi, menghadapi tekanan berkelanjutan sejak terjun ke politik, termasuk sejumlah penangkapan menjelang pencalonan pertamanya pada pemilu 2021. Ia menyatakan “penolakan total terhadap hasil palsu” dan mengaku melarikan diri setelah penggerebekan rumahnya pada Jumat malam.
“Saya ingin mengonfirmasi bahwa saya berhasil meloloskan diri dari mereka,” tulis Wine di platform X pada Sabtu. “Saat ini saya tidak berada di rumah, meskipun istri dan anggota keluarga lainnya masih berada dalam tahanan rumah.”
“Saya tahu para penjahat ini mencari saya ke mana-mana dan saya berusaha sebaik mungkin untuk tetap aman,” tambahnya.
Kehadiran polisi dilaporkan sangat ketat di sekitar ibu kota Kampala, seiring upaya aparat keamanan mencegah terjadinya unjuk rasa seperti yang melanda negara tetangga Kenya dan Tanzania dalam beberapa bulan terakhir.
Penyelenggara pemilu juga menghadapi sorotan terkait kegagalan mesin identifikasi pemilih biometrik pada Kamis, yang menyebabkan keterlambatan dimulainya pemungutan suara di wilayah perkotaan, termasuk Kampala, yang dikenal sebagai basis kuat oposisi.
Setelah mesin gagal berfungsi, petugas pemilu menggunakan daftar pemilih manual, sebuah langkah yang dinilai menjadi pukulan bagi aktivis pro-demokrasi yang selama ini menuntut penggunaan sistem biometrik untuk mencegah kecurangan. Kegagalan mesin tersebut diperkirakan akan menjadi dasar gugatan hukum terhadap hasil resmi pemilu.
‘Banyak ketakutan’
Polisi membantah telah menggerebek rumah Wine, namun menyatakan telah “mengendalikan akses di wilayah yang kami anggap rawan keamanan”. Polisi juga mengatakan mereka meyakini Wine masih berada di rumahnya.“Kami tidak serta-merta melarang orang mengaksesnya, tetapi kami tidak bisa menoleransi penggunaan kediamannya untuk berkumpul dan … menghasut kekerasan,” kata juru bicara polisi Kituuma Rusoke.
Seorang pedagang di dekat rumah Wine, Prince Jerard (29), mengatakan ia mendengar suara drone dan helikopter di atas kediaman tersebut pada malam sebelumnya serta melihat banyak aparat keamanan.
“Banyak orang telah pergi dari sini,” ujarnya. “Kami sangat takut.”
Dalam beberapa tahun terakhir, Wine muncul sebagai penantang utama Museveni dengan citra “presiden ghetto”, merujuk pada kawasan permukiman kumuh di Kampala tempat ia dibesarkan.
Ia menuduh pemerintah melakukan “penggelembungan suara secara masif” serta menyerang sejumlah pejabat partainya di tengah pemadaman internet yang diberlakukan menjelang pemilu dan masih berlangsung hingga Sabtu.
Para pengamat pemilu Afrika menyatakan tidak menemukan bukti penggelembungan suara, namun mengecam “laporan intimidasi, penangkapan, dan penculikan” yang menargetkan oposisi dan masyarakat sipil.
Baca juga: Presiden Uganda Unggul Sementara dalam Pemilu di Tengah Pemadaman Internet