Proses Napak Tilas Persandian di kawasan Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta. Metrotvnews.com/Ahmad Mustaqim
Napak Tilas Persandian, Mengenang Perjuangan Kemerdekaan di Kulon Progo
Ahmad Mustaqim • 31 March 2026 17:54
Kulon Progo: Ratusan orang mengenakan pakaian lengan panjang dan celana panjang berbaris di Lapangan Dekso, Kecamatan Kalibawang, Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Mereka berjalan kaki menuju Rumah Karyo Utomo di Banaran, Kecamatan Samigaluh.
Perjalanan ini diikuti oleh 111 peserta pelajar dari Politeknik Siber dan Sandi Nasional serta Badan Siber dan Sandi Nasional (BSSN). Selain itu, terdapat 50 orang dari Forum Komunikasi Sandi Daerah (Forkomsanda) DIY yang juga turut serta.
Jalur yang dilalui dari Lapangan Dekso cukup mudah karena mengikuti jalan raya. Namun, rute menjadi lebih sulit saat memasuki kanal menuju Rumah Karyo Utomo, yang dulunya menjadi markas gerilya TB. Simatupang pada 1948. Rute sulit ini dimulai saat memasuki Dusun Duwet, Purwoharjo, Kecamatan Samigaluh, Kabupaten Kulon Progo, dengan jalur menanjak cukup curam.
Baca Juga :
Jalanan di perkampungan perbukitan Menoreh tersebut sebagian sudah diperkeras. Namun, sekitar 100 meter menjelang kediaman Karyo Utomo di Kaliwunglon, Desa Banjarsari, Kecamatan Samigaluh, kondisi jalanannya sudah rusak.
Sebagian peserta memilih jalur setapak. Jalur setapak dengan hanya bisa dilalui pejalan kaki. Secara bergelombang kelompok barusan personel 'Napak Tilas Persandian' tersebut tiga di Rumah Karyo Utomo. Jarak Lapangan Dekso ke Rumah Karyo Utomo sekitar 5 kilometer.
Singkat cerita, Rumah Karyo Utomo digunakan sebagai markas TNI pada masa awal kemerdekaan untuk melawan penjajah. Di sana, strategi dan informasi penting disusun dalam bentuk sandi sebelum dikirim kepada para pejuang di luar daerah.

Proses Napak Tilas Persandian di kawasan Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta. Metrotvnews.com/Ahmad Mustaqim
Setelah beberapa saat di Rumah Karyo Utomo, peserta napak tilas melanjutkan perjalanan ke Museum Sandi, yang berjarak sekitar 2 kilometer. Rute yang dilalui memutar balik, mengikuti jejak kurir yang menyampaikan informasi penting sebelum diubah menjadi sandi.
Di Museum Sandi, berbagai informasi strategi penting para pejuang disandikan dan diteruskan melalui pemancar radio.
Kepala Badan Siber dan Sandi Nasional (BSSN), Nugroho Sulistyo Budi mengatakan napak tilas bertema "Jejak Sandi, Pilar Siber Mengabdi untuk Negeri" bukan sekadar perjalanan biasa. Lebih jauh, Nugroho menyebut napak tilas itu mengusung semangat dalam memahami dan memaknai sandi.
"Napak tilas ini refleksi perjalanan panjang mengenang perjuangan Indonesia dan mengenal cikal bakal BSSN," kata Nugroho, Selasa, 31 Maret 2026.

Proses Napak Tilas Persandian di kawasan Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta. Metrotvnews.com/Ahmad Mustaqim
Pada 1980-an, kata dia, rute napak tilas tersebut jauh lebih sulit dibandingkan sekarang. Jalannya masih setapak dan belum ada pengerasan. Ia menjelaskan bahwa para perintis dulu harus menyeberangi sungai dan bahkan memanggul sepeda untuk sampai ke lokasi.
"Kami harapkan peserta dapat menghayati, memaknai, memahami semangat para perintis para persandian yang menjadi bagian dari pejuang kemerdekaan," ujarnya.
Ia menambahkan bahwa 4 April juga akan menjadi momentum peringatan hari jadi ke-80 lembaga persandian tersebut. Meski demikian, Nugroho menegaskan kegiatan napak tilas tidak boleh hanya menjadi sekadar ritual tahunan.
"Tapi menjadi komitmen kita menjaga komunikasi dan informasi. Semoga bisa lebih memaknai perjalanan sejarah persandian dan perjuangan para pendahulu kita," ucapnya.