Elektrifikasi Industri Diperluas, SUN Siapkan PLTS hingga Kendaraan Listrik

Ilustrasi energi surya SUN Energy. Foto: dok SUN Energy.

Elektrifikasi Industri Diperluas, SUN Siapkan PLTS hingga Kendaraan Listrik

Ade Hapsari Lestarini • 10 September 2026 06:33

Surabaya: Perusahaan energi bersih SUN telah mengembangkan lebih dari 450 megawatt (MW) kapasitas energi surya melalui lebih dari 400 proyek di lebih dari 40 sektor industri. Pengembangan tersebut mencakup sektor pertambangan, semen, FMCG, logistik, kertas, kemasan, elektronik, komponen otomotif, dan farmasi.

Sejak didirikan pada 2016, portofolio SUN juga telah mencakup proyek di Indonesia, Australia, Vietnam, dan Thailand. Pengembangan energi surya tersebut digunakan untuk mendukung kebutuhan energi sektor komersial dan industri.

Berdasarkan estimasi produksi energi bersih pada 2026, proyek-proyek SUN diperkirakan berkontribusi terhadap pengurangan emisi sekitar 244.549 ton CO? per tahun.

"Sepuluh tahun pertama SUN menunjukkan transisi energi dapat berjalan seiring dengan kebutuhan industri terhadap efisiensi, keandalan, dan daya saing. Memasuki dekade berikutnya, kami ingin membawa pengalaman tersebut lebih jauh melalui sistem elektrifikasi yang semakin terintegrasi, dari energi bersih hingga pemanfaatannya dalam aktivitas operasional pelanggan," ujar Director of Power SUN Jefferson Kuesar, dalam keterangan tertulis, Kamis, 10 September 2026.
 

Perluas solusi elektrifikasi


Memasuki fase berikutnya, SUN memperluas solusi dari pengembangan energi surya menuju sistem elektrifikasi yang terintegrasi. Solusi tersebut mencakup PLTS, sistem penyimpanan dan manajemen energi, kendaraan listrik, infrastruktur pengisian daya, serta sistem digital untuk pengelolaan energi dan armada.

Pengembangan tersebut menyasar sektor dengan kebutuhan energi dan aktivitas operasional tinggi, seperti pertambangan, perkebunan, logistik, manufaktur, kawasan industri, dan FMCG. Dalam elektrifikasi armada, implementasi disesuaikan dengan kebutuhan operasional, antara lain jenis kendaraan, pola perjalanan, jarak tempuh, kebutuhan pengisian daya, dan ketersediaan energi di lokasi.


Director of Power SUN Jefferson Kuesar (kiri) bersama Director of Mobility SUN Karina Darmawan (kanan). Foto: dok SUN Energy.
 

Melalui produk Mobility, solusi tersebut mencakup kendaraan listrik, infrastruktur pengisian daya, skema pembiayaan atau penyewaan, pemeliharaan kendaraan, serta pemantauan melalui Fleet Management System.

Salah satu studi kasus pada distributor FMCG di Jabodetabek menunjukkan penggunaan truk listrik untuk rute sekitar 50 kilometer dengan jam operasional pukul 08.00-17.00 berpotensi menghemat biaya energi hingga 83,6 persen per perjalanan. Total biaya kepemilikan dan operasional juga berpotensi turun sekitar 15 persen. Perhitungan tersebut didasarkan pada ketersediaan listrik jaringan dan pola operasional pelanggan.

"Elektrifikasi armada perlu dirancang sebagai bagian dari sistem operasional, bukan hanya melalui penggantian kendaraan. Infrastruktur pengisian daya, pembiayaan, pemeliharaan, dan sumber energi perlu dipersiapkan secara bersamaan agar transisi dapat berjalan efektif dan terukur," ujar Director of Mobility SUN Karina Darmawan.
 

Siapkan proyek PLTS skala besar


SUN juga mengembangkan proyek energi surya berskala lebih besar. Saat ini, perusahaan memiliki pipeline proyek energi surya lebih dari 40 MWp di sejumlah wilayah Indonesia yang masih dalam tahap pengembangan.

SUN juga memperluas peran sebagai Independent Power Producer (IPP) untuk mengembangkan aset energi bersih jangka panjang.

Indonesia memiliki potensi energi surya sekitar 3.200 GWp. Potensi tersebut membuka ruang pengembangan PLTS untuk sektor komersial dan industri maupun proyek berskala besar.

Pengembangan proyek tersebut menjadi bagian dari kontribusi sektor swasta terhadap penambahan kapasitas energi terbarukan dan pencapaian visi pengembangan 100 GWp energi surya di Indonesia.

Ke depan, SUN akan mengembangkan aset energi bersih dan solusi elektrifikasi yang mencakup PLTS, penyimpanan energi, sistem manajemen energi, elektrifikasi armada, infrastruktur pengisian daya, dan sistem digital.

(Ade Hapsari Lestarini)