Dewan Redaksi Media Group Abdul Kohar. Foto: MI/Ebet.
Podium MI: Alarm Perlambatan Ekonomi
Abdul Kohar • 11 August 2026 05:52
ANGKA pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II 2026 yang mencapai 5,29% patut disyukuri. Di tengah ketidakpastian ekonomi global, Indonesia masih mampu menjaga pertumbuhan di atas 5%. Pula, capaian itu lebih tinggi daripada angka pertumbuhan ekonomi di periode yang sama, kuartal II 2025, yang sebesar 5,12%.
Namun, rasa syukur itu tidak boleh berubah menjadi rasa puas yang berlebihan. Di balik angka tersebut tersimpan sejumlah sinyal yang semestinya dibaca sebagai peringatan dini. Ada tantangan besar untuk memacu pertumbuhan lebih besar lagi di kuartal-kuartal berikutnya.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi kuartal II melambat jika dibandingkan dengan kuartal I yang mencapai 5,61%. Perlambatan itu memang tidak drastis, tetapi cukup untuk mengingatkan bahwa mesin pertumbuhan mulai kehilangan tenaga. Yang lebih mengkhawatirkan, struktur pertumbuhan ekonomi belum banyak berubah. Konsumsi rumah tangga kembali menjadi penopang utama. Sementara itu, mesin pertumbuhan lain belum bekerja optimal.
Vietnam sudah memberikan gambaran nyata. Ekonomi di negara itu tumbuh 8,39% di kuartal II 2026, naik jika dibandingkan dengan pertumbuhan ekonomi di kuartal I yang mencapai 8,18%. Lonjakan itu ditopang kuatnya kinerja sektor industri/manufaktur, konstruksi, dan ekspor luar negeri yang mendapat dorongan besar dari masuknya investasi asing serta tingginya permintaan global.
Ironisnya, di kita, ketiga mesin itu justru menghadapi tekanan. Sektor manufaktur masih menunjukkan pelemahan. Aktivitas industri belum sepenuhnya pulih, bahkan indikator manufaktur beberapa bulan terakhir masih berada pada fase kontraksi (di bawah angka 50). Padahal, industri pengolahan merupakan sektor yang paling besar menyerap tenaga kerja, menciptakan nilai tambah, sekaligus meningkatkan daya saing ekspor nasional.
.jpeg)
Ilustrasi pertumbuhan ekonomi. Foto: Medcom.id.
Situasi itu diperburuk defisit neraca perdagangan yang terjadi selama dua bulan berturut-turut, pada Mei 2026 minus US$1,6 miliar dan Juni minus US$450 juta. Defisit perdagangan memang belum tentu menjadi bencana apabila dipicu meningkatnya impor barang modal untuk investasi. Namun, jika berlangsung berlarut-larut di tengah melemahnya ekspor dan lesunya industri, kondisi tersebut patut diwaspadai. Ketahanan sektor eksternal menjadi semakin rapuh ketika permintaan dari mitra dagang utama seperti Tiongkok, Amerika Serikat, dan Eropa sedang melambat.
Di sisi domestik, tantangan juga tidak ringan. Daya beli masyarakat belum sepenuhnya pulih. Kelompok kelas menengah dan menengah bawah masih menghadapi tekanan biaya hidup yang tinggi. Normalisasi konsumsi pasca-Idul Fitri membuat perputaran uang kembali melambat. Sementara itu, perbankan masih berhati-hati menyalurkan kredit akibat ketatnya likuiditas dan tingginya biaya dana. Dunia usaha akhirnya menahan ekspansi karena biaya pembiayaan yang belum cukup bersahabat.
Kondisi tersebut menjelaskan mengapa pertumbuhan ekonomi terasa belum sepenuhnya tecermin pada kehidupan masyarakat. Angka makro masih tampak sehat, tetapi denyut ekonomi di tingkat akar rumput belum berdetak sekuat yang diharapkan. Pertumbuhan yang berkualitas seharusnya tidak hanya tecermin pada statistik, tetapi juga menghadirkan lapangan kerja yang lebih luas, peningkatan pendapatan masyarakat, dan penguatan daya beli.
Pemerintah tentu masih memiliki ruang untuk menjaga momentum pada semester kedua tahun ini. Belanja negara harus diarahkan lebih produktif, bukan sekadar mengejar serapan anggaran. Program-program yang memiliki efek berganda tinggi terhadap penciptaan lapangan kerja perlu dipercepat. Insentif bagi industri manufaktur, kemudahan investasi, serta perluasan pasar ekspor harus menjadi prioritas. Reformasi birokrasi yang memangkas biaya logistik dan meningkatkan kepastian berusaha juga tidak boleh berhenti. Target pertumbuhan ekonomi mendekati 6% hingga akhir tahun tidak mustahil, tetapi jelas tidak mudah. Dibutuhkan terobosan yang mampu menggerakkan seluruh mesin ekonomi secara bersamaan. Tanpa perubahan strategi, konsumsi rumah tangga akan kembali dipaksa memikul beban yang terlalu berat.
Karena itu, perlambatan pertumbuhan ekonomi kuartal II harus dibaca sebagai alarm, bukan sekadar fluktuasi statistik. Alarm bahwa struktur pertumbuhan Indonesia masih rapuh. Alarm bahwa mesin industri belum kembali bertenaga. Alarm bahwa sektor eksternal sedang menghadapi tantangan yang semakin kompleks.
Lebih baik pemerintah merespons alarm itu sekarang daripada menunggu lampu peringatan berubah menjadi krisis. Ekonomi yang sehat bukan hanya tentang seberapa tinggi angkanya, melainkan juga tentang seberapa kukuh fondasi yang menopangnya.