Rupiah. Foto: MI/Susanto.
Berkat BI Tahan Suku Bunga, Rupiah Akhirnya Bisa Pukul Mundur Dolar AS
Husen Miftahudin • 21 January 2026 15:58
Jakarta: Nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan hari ini akhirnya masih mengalami penguatan, setelah terus-terusan melemah hingga nyaris menyentuh level Rp17 ribu per dolar AS.
Mengutip data Bloomberg, Rabu, 21 Januari 2026, nilai tukar rupiah terhadap USD ditutup di level Rp16.936 per USD. Mata uang Garuda tersebut menguat 20 poin atau setara 0,12 persen dari posisi Rp16.956 per USD pada penutupan perdagangan hari sebelumnya.
"Pada perdagangan sore ini, mata uang rupiah ditutup menguat 20 satu poin, sebelumnya sempat melemah 20 poin di level Rp16.936 per USD dari penutupan sebelumnya di level Rp16.956 per USD," kata analis pasar uang Ibrahim Assuaibi dalam analisis hariannya.
Sementara itu, data Yahoo Finance juga menunjukkan rupiah berada di zona hijau pada posisi Rp16.930 per USD. Rupiah menguat sebanyak 46 poin atau setara 0,27 persen dari Rp16.976 per USD di penutupan perdagangan hari sebelumnya.
Sedangkan berdasar pada data kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor), rupiah berada di level Rp16.963 per USD. Mata uang Garuda tersebut menguat 18 poin dari perdagangan sebelumnya di level Rp16.981 per USD.
| Baca juga: Fokus Perkuat Nilai Tukar Rupiah, BI Tahan Suku Bunga Acuan Bulan Ini |
Trump bersikukuh beli Greenland
Ibrahim mengungkapkan, pergerakan kurs rupiah hari ini dipengaruhi oleh sentimen pentingnya strategi Greenland yang membuat ketegangan baru antara AS dan Uni Eropa.
"Presiden AS Donald Trump bersikeras 'tidak ada jalan mundur' terkait Greenland, dengan alasan kekhawatiran keamanan di Arktik, dan mengancam akan mengenakan tarif terhadap negara-negara Eropa, yang semakin memperburuk pasar yang sudah tegang akibat risiko perdagangan global," jelas Ibrahim.
Presiden Prancis Emmanuel Macron mengatakan Eropa tidak akan tunduk pada 'para pengganggu', menekankan rasa hormat dan kerja sama, bukan paksaan, yang seharusnya mendefinisikan hubungan antarsekutu.
Pernyataannya, yang disampaikan di sela-sela Forum Ekonomi Dunia (WEF) di Davos, menggarisbawahi meningkatnya keresahan di Eropa atas retorika dan ancaman perdagangan Washington yang terkait dengan sengketa Greenland.
Trump berusaha menenangkan kekhawatiran dengan mengatakan AS sedang mengupayakan solusi atas masalah ini dan bertujuan untuk mencapai hasil yang memuaskan NATO, tetapi investor tetap berhati-hati.
Selain itu, penentangan Eropa terhadap upaya Presiden AS Donald Trump untuk mengakuisisi Greenland dan inisiatif Dewan Perdamaian yang diusulkannya telah mengganggu rencana paket dukungan ekonomi untuk Ukraina pascaperang.
"Pengumuman rencana kemakmuran senilai USD800 miliar yang direncanakan akan disepakati antara Ukraina, Eropa, dan AS di Forum Ekonomi Dunia di Davos minggu ini telah ditunda," tutur Ibrahim.

(Ilustrasi kurs rupiah terhadap dolar AS. Foto: MI/Susanto)
Pelebaran defisit fiskal hingga BI Rate ditahan
Di sisi lain, Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan pelebaran defisit fiskal 2,92 persen pada APBN 2025 atau mendekati ambang batas tiga persen adalah langkah sengaja guna memacu pemulihan ekonomi nasional. Kebijakan ini diambil sebagai strategi countercyclical guna membalikkan tren perlambatan ekonomi yang membayangi Indonesia sepanjang 2025.
Purbaya menjelaskan, intervensi fiskal yang agresif sangat dibutuhkan untuk menghidupkan kembali sisi permintaan dan penawaran di dalam negeri. Tanpa dorongan APBN yang optimal, ia menilai perekonomian nasional berisiko terperosok ke dalam jurang krisis.
Kebijakan ini telah mulai membuahkan hasil dengan berbaliknya arah perekonomian ke zona positif. Ia optimistis prospek ekonomi ke depan akan jauh lebih baik berkat keputusan berani yang ia sebut sebagai 'kebijakan fiskal cerdas'.
Secara bersamaan, Bank Indonesia memutuskan menahan suku bunga acuan, BI Rate, di level 4,75 persen pada Desember 2025. Sementara itu, suku bunga deposit facility tetap bertahan di 3,75 persen dan suku bunga lending facility di 5,5 persen.
Keputusan ini konsisten menjaga rupiah di tengah ketidakpastian global dengan memperkuat efektivitas transmisi moneter dan makroprudensial untuk jaga stabilitas dan dorong ekonomi ke depan.
"Kendati mempertahankan suku bunga pada Januari ini, BI masih menegaskan ruang penurunan suku bunga terbuka lebar. Namun, penurunan akan dibarengi oleh perkiraan inflasi pada tahun ini yang berada di sasaran 2,5 persen plus minus satu persen," ujar Ibrahim.
Melihat berbagai perkembangan tersebut, Ibrahim memprediksi rupiah pada perdagangan Kamis besok akan bergerak secara fluktuatif dan kemungkinan besar akan menguat.
"Untuk perdagangan besok, mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp16.930 per USD hingga Rp16.950 per USD," jelas Ibrahim.