Kapten Ajeng Mahessa, Letda Gini Setya Rahayu, dan Letda Patricia Angelina Panggabean. Foto: tangkapan layar Metro TV
Kisah Tiga Srikandi Pilot TNI AU: Cita-Cita, Pembuktian, dan Pengabdian
Muhamad Marup • 24 August 2026 17:17
Jakarta: Tiga srikandi penerbang TNI Angkatan Udara memiliki perjalanan berbeda hingga akhirnya berada di kokpit pesawat militer. Kapten Ajeng Mahessa, Letda Gini Setya Rahayu, dan Letda Patricia Angelina Panggabean sama-sama menunjukkan bahwa menjadi penerbang membutuhkan proses, kesiapan, dan pembuktian.
Kapten Ajeng Mahessa tidak pernah membayangkan dirinya akan menerbangkan pesawat kepresidenan. Bahkan, perempuan berusia 30 tahun itu awalnya tidak pernah terbesit untuk menjadi seorang pilot.
"Tidak pernah menyangka dan tidak pernah mempleningkan dalam perjalanan hidup saya akan menjadi seorang pilot," ujar Kapten Ajeng, dalam acara Q&A yang tayang di Metro TV, setiap Minggu, pukul 21.05 WIB.
Meski tidak terbayang langsung menjadi pilot, keinginannya untuk menjadi tentara sudah tumbuh sejak SMA setelah mengikuti kegiatan Paskibraka Nasional. Pengalaman tersebut memperkenalkannya pada kedisiplinan dan pendidikan semi-militer selain melihat nilai-nilai seorang prajurit dari sang ayah yang seorang purnawirawan.
Ketika masuk Angkatan Udara, Ajeng kemudian diproyeksikan untuk menjadi penerbang. Perjalanan tersebut kemudian membawanya ke Skadron Udara 17, satuan yang menjalankan tugas penerbangan VIP, dan Ajeng tercatat sebagai pilot perempuan pertama yang masuk ke skadron tersebut.
"Bagaimana kita membuktikan kepada mereka bahwa kita ini mampu," katanya.

Program Q&A mengangkat kisah pilot perempuan. Foto: Metro TV
Sementara itu, Letda Gini Setya Rahayu masih berusia 25 tahun ketika dipercaya menerbangkan pesawat C-130J-30 Super Hercules. Sebagai penerbang militer, ia harus selalu siap menjalankan perintah, termasuk ketika perubahan rute atau waktu penerbangan terjadi secara mendadak.
"Kita sebagai penerbangan militer, kita ikut perintah apabila ada perintah dari perubahan rute, perubahan jam, atau ada perintah dadakan," ujar Gini.
Berbeda dengan penerbangan sipil yang umumnya memiliki jadwal tetap, penerbangan militer mengikuti kebutuhan operasi. Dalam lingkup penerbangan kepresidenan, pesawat Hercules memiliki peran mendukung berbagai kebutuhan operasi dengan membawa personel maupun material yang dibutuhkan untuk mendukung pengamanan Presiden di lokasi tujuan.
"Kita harus selalu siap sedia di waktu kapanpun itu perintah datang," jelasnya.
Gini kini memiliki sekitar 350 jam terbang dan masih berkualifikasi sebagai kopilot. Meski sudah menerbangkan Hercules dan terlibat dalam penerbangan yang berkaitan dengan kebutuhan kepresidenan, ia merasa perjalanan untuk mencapai cita-citanya masih panjang.
"Tujuan saya adalah saya menjadi seorang captain pilot pesawat C-130 Hercules dan untuk kedepannya saya ada keinginan untuk melanjutkan menjadi seorang instruktur," tuturnya.
Berbeda dengan Ajeng, Gini tidak berasal dari keluarga militer. Kedua orang tuanya merupakan warga sipil, bahkan sang ibu sempat tidak menyetujui keinginan Gini menjadi penerbang karena sebagai anak tunggal, orang tuanya khawatir terhadap risiko dan tingginya tanggung jawab yang melekat pada profesi tersebut.
Gini akhirnya menjadikan pencapaiannya sebagai cara untuk meyakinkan kedua orang tuanya. Ia pernah membawa kedua orang tuanya terbang menggunakan Hercules yang ia terbangkan bersama pilot lainnya, hingga kekhawatiran tersebut perlahan berubah menjadi kebanggaan.
"Setelah saya berhasil membawa kedua orang tua saya dan membuktikan bahwa ini penerbangan aman, akhirnya ibu dan bapak mendukung dari pilihan saya yang saat ini," terangnya. Sementara itu, Letda Patricia Angelina Panggabean menjadi penerbang paling junior di antara tiga srikandi tersebut. Di usia 24 tahun, Patricia sudah memilih jalan hidup sebagai penerbang TNI Angkatan Udara dan kini menerbangkan pesawat CN-295.
"Untuk keluarga besar saya juga ada yang penerbang. Ayah saya penerbang militer. Mungkin dari situ terpubuk ya cita-cita saya," ujar Patricia.
Patricia mengaku melihat Ajeng dan Gini sebagai sosok yang bisa menjadi teladan dalam karier dan profesinya sebagai penerbang TNI AU. Meski berbeda pesawat, ia kerap menggali ilmu dari kedua seniornya ketika menemukan kendala atau hal-hal yang masih dibingungkan.
"Walaupun kita beda platform pesawat, tapi kita memiliki profesi yang sama. Sehingga dalam pekerjaan sendiri saya banyak menanyakan pada kakak-kakak ini," jelasnya.
Patricia juga mengungkapkan bahwa masuk Akademi Angkatan Udara tidak otomatis membuat seseorang menjadi penerbang. Calon penerbang masih harus melewati serangkaian tes setelah diterima sebagai taruna TNI AU.
"Untuk menjadi penerbang sendiri ada lagi tesnya. Jadi dari tes ke tes lagi, ke tes lagi," katanya. Tiga perjalanan tersebut memperlihatkan bahwa profesi penerbang TNI AU tidak hanya tentang kemampuan menerbangkan pesawat. Ada proses pendidikan, tes, kesiapan menjalankan perintah, kemampuan menghadapi tantangan, hingga tanggung jawab terhadap kru, penumpang, dan tugas negara.
Bagi Ajeng, tugas sebagai pilot pesawat kepresidenan bahkan menuntut kesiapan tanpa mengenal waktu. "Saya bekerja tanpa mengenal waktu, artinya 24/7 kita siap untuk mendukung segala misi penerbangan, operasional maupun latihan," tuturnya.