Perang antara Iran melawan AS dan Israel meletus pada 28 Februari 2026. (Anadolu Agency)
AS dan Israel Dinilai Gunakan Strategi Ambiguitas dalam Konflik Iran
Dimas Chairullah • 11 April 2026 13:39
Jakarta: Perbedaan sikap antara Amerika Serikat (AS) yang mendorong deeskalasi dengan Iran dan Israel yang terus melanjutkan serangan di Lebanon dinilai sebagai bagian dari strategi dalam konflik.
Analis Senior Indo-Pacific Strategic Intelligence, Dr. Fauzia G. Cempaka Timur, menyebut ketidaksinkronan tersebut bukan sekadar miskomunikasi, melainkan bentuk ambiguitas yang disengaja atau fog of war (kabut perang).
Menurutnya, indikasi inkonsistensi antara Washington dan Tel Aviv sudah terlihat sejak awal eskalasi, salah satunya saat Israel menyerang fasilitas gas Ras Laffan.
"Saat itu AS menyatakan tidak mengotorisasi serangan tersebut, yang menunjukkan adanya perbedaan sikap," ujar Fauzia kepada Metrotvnews,com, Jumat, 10 April 2026.
Perbedaan ini semakin mencolok dalam proses negosiasi gencatan senjata. Iran mengajukan syarat penghentian serangan di seluruh front, termasuk Lebanon.
Namun, Amerika Serikat menolak poin tersebut. Gedung Putih dan Wakil Presiden JD Vance menilai penghentian operasi di Lebanon tidak dapat dimasukkan dalam kesepakatan.
Washington bahkan memperingatkan Teheran agar tidak mengganggu proses diplomasi yang sedang berlangsung demi isu Lebanon. Sebagai respons, Iran kembali memperketat kontrol atas Selat Hormuz sebagai alat tekanan geopolitik.
"Setelah sempat dibuka, Selat Hormuz kini kembali dikontrol ketat. Ini menunjukkan keseriusan Iran dalam menuntut penghentian serangan di Lebanon," jelas Fauzia.
Ia menyimpulkan bahwa ambiguitas antara pendekatan diplomatik AS dan tekanan militer Israel merupakan strategi yang dimanfaatkan untuk memengaruhi persepsi global.
"Dalam konteks perang, ini disebut fog of war. Ambiguitas ini digunakan sebagai alat untuk membentuk opini internasional," tegasnya.
Baca juga: Kalkulasi Militer Jadi Alasan Israel Tolak Masukkan Lebanon ke Gencatan Senjata