Peta pembangunan flyover Latumenten, Grogol. Foto: Antara.
Proyek Flyover Latumenten Timbulkan Macet Parah
Siti Yona Hukmana • 25 February 2026 17:14
Jakarta: Proyek pembangunan Flyover Latumenten di Grogol, Jakarta Barat, menimbulkan kemacetan parah. Akibatnya, warga setempat mengeluh.
Anggota DPRD DKI Jakarta Hardiyanto Kenneth langsung inspeksi ke lokasi setelah menerima keluhan warga. Legislator yang akrab disapa Bang Kent itu mengaku menerima banyak laporan dari masyarakat, yang mengeluhkan kemacetan akibat penyempitan jalur selama proyek berlangsung.
"Banyak warga komplain ke saya. Proses pembangunan ini bikin macet luar biasa karena ada penyempitan jalan," kata Kent dalam keterangannya, Rabu, 25 Februari 2026.
Anggota Komisi C DPRD DKI Jakarta itu, mendapati fakta bahwa Jalan Latumenten yang semula memiliki tiga lajur kini menyempit drastis menjadi hanya satu lajur aktif. Penyempitan ekstrem ini membuat antrean kendaraan mengular, terutama pada jam sibuk pagi dan sore hari.
Tak hanya itu, Kent juga menyoroti keberadaan angkot JakLingko yang berhenti tepat setelah perlintasan kereta api. Menurutnya, titik berhenti tersebut berada di lokasi yang sangat rawan penumpukan kendaraan.
"Angkot berhenti persis setelah perlintasan kereta. Ini memperparah kemacetan. Harusnya titik berhenti digeser sedikit ke depan setelah posisi bottle neck, supaya arus kendaraan tetap bergerak," ujar Ketua IKAL PPRA LXII Lemhannas RI ini.
Kemacetan kian kompleks dengan masih melintasnya truk kontainer dan bus berukuran besar di ruas jalan yang kini menyempit. Anggota DPRD fraksi PDI Perjuangan ini menilai, selama proyek berlangsung, kendaraan besar seharusnya dialihkan ke jalur alternatif guna mengurangi beban lalu lintas.
"Truk kontainer dan bus besar masih lewat sini. Dengan kondisi tinggal satu lajur, ini jelas tidak ideal. Saya minta Dinas Perhubungan DKI Jakarta segera cari solusi konkret," tutur Kent.

Anggota DPRD DKI Jakarta Hardiyanto Kenneth. Foto: Istimewa
Kepala Badan Penanggulangan Bencana (Baguna) DPD PDI Perjuangan Jakarta itu menegaskan, proyek strategis tidak boleh mengorbankan kenyamanan dan keselamatan warga. Sejatinya, kata dia, semua pihak mendukung pembangunan Flyover Latumenten karena tujuannya untuk mengurai kemacetan akibat perlintasan kereta.
"Tapi jangan sampai prosesnya justru menyengsarakan masyarakat setiap hari. Harus ada pengaturan lalu lintas yang lebih tegas, pengawasan di lapangan yang konsisten, dan solusi cepat untuk kendaraan besar maupun titik berhenti angkot," ucap Kent.
Kent meminta Dinas Perhubungan bergerak cepat dan tidak menunggu masalah berlarut-larut. Ia memastikan akan terus mengawal proyek ini sampai benar-benar memberi manfaat bagi warga.
Sementara itu, Wakil Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta, Ujang Harmawan mengatakan, pihaknya telah mengimbau pengguna jalan untuk mencari rute alternatif. Namun, untuk pembatasan kendaraan besar, pihaknya masih menunggu keputusan dari Kementerian Perhubungan.
"Kami akan koordinasi dengan pengusaha angkutan wilayah barat. Pemprov juga sudah bersurat ke pusat. Nanti akan kami update," ujar Ujang.
Proyek Flyover Latumenten dibangun dengan panjang sekitar 380 meter dan digadang-gadang menjadi solusi jangka panjang untuk mengurai kemacetan, akibat perlintasan kereta api di kawasan tersebut. Setelah rampung, Jalan Latumenten direncanakan hanya digunakan sebagai akses kendaraan umum.
Namun, sebelum manfaat itu benar-benar dirasakan, warga Grogol kini harus menghadapi kenyataan pahit, yakni kemacetan harian yang makin tak terkendali. Tanpa rekayasa lalu lintas yang matang dan pengawasan ketat di lapangan, proyek yang ditujukan untuk mengurai kemacetan justru berisiko menjadi sumber kemacetan baru.