Plt Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton Panjaitan. Foto: ANTARA/M Riezko Bima Elko Prasetyo.
Dampak El Nino Kuat, BNPB Siapkan Mitigasi Mundurnya Musim Hujan
Fachri Audhia Hafiez • 23 October 2026 01:21
Jakarta: Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyiapkan langkah mitigasi guna mengantisipasi potensi mundurnya awal musim hujan hingga awal 2027. Kondisi cuaca ini akibat fenomena El Nino yang tergolong sangat kuat.
“Kami terus memantau dan mengevaluasi setiap pemutakhiran data cuaca yang disampaikan BMKG terkait potensi kekeringan berkepanjangan,” kata Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton Panjaitan, saat dikonfirmasi di Jakarta, dilansir Antara, Kamis, 22 Oktober 2026.
Berton menjelaskan bahwa BNPB bersama kementerian, lembaga, dan pemerintah daerah menyusun langkah penanganan harian hingga mingguan untuk mengendalikan dampak kekeringan serta kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
“Misalnya, operasi modifikasi cuaca (OMC) untuk memperbesar potensi hujan dengan menyemai NaCl dan semacamnya. Satuan tugas udara masih terus bekerja sesuai analisisnya,” ujar Berton.
Direktorat Pengendalian Bencana BNPB mencatat penanganan karhutla telah dilakukan di sejumlah provinsi prioritas. Di antaranya 7.938 hektare di Kalimantan Tengah, 5.194 hektare di Sumatera Selatan, 2.025 hektare di Jambi, 1.974 hektare di Kalimantan Selatan, dan 1.290 hektare di Kalimantan Barat.
Baca Juga :
Maling Dana Bencana, Korban Merana
Selain penanganan karhutla, BNPB bersama pemda dan lembaga nirlaba terus menyalurkan bantuan air bersih. Di Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta, kekeringan melanda setelah periode Hari Tanpa Hujan (HTH) menembus 131 hari atau lebih dari empat bulan.
Berton menegaskan BNPB bakal terus mengevaluasi langkah kesiapsiagaan agar penanganan bencana tetap adaptif dengan perkembangan di lapangan.
“Kami akan melakukan evaluasi setiap saat untuk kesiapsiagaan dan mitigasi, termasuk menentukan langkah-langkah yang perlu dilakukan ke depan,” kata Berton.
Sebelumnya, Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani menyampaikan anomali suhu muka laut di Samudra Pasifik mencapai +2,63 derajat Celsius. Angka ini menandakan El Nino kategori sangat kuat dan diproyeksikan bertahan hingga awal 2027.
BMKG memprediksi awal musim hujan di 529 Zona Musim (ZOM) atau sekitar 61,08 persen daratan Indonesia akan datang lebih lambat dari biasanya. Musim hujan diperkirakan hadir bertahap, dimulai pada November 2026 di 185 ZOM (24,66 persen daratan) dan Desember 2026 di 266 ZOM (17,31 persen daratan).
Meski jadwalnya bergeser, akumulasi curah hujan di 510 ZOM (69,76 persen daratan) diprediksi tetap berada pada kategori normal. Puncak musim hujan diperkirakan terjadi pada Desember 2026 hingga Februari 2027, meskipun durasi musim hujan di 482 ZOM diproyeksikan bakal lebih pendek dari kondisi normal.