Dari 13 hingga 91 Tahun, Kisah Haru Calon Haji Termuda dan Tertua di Embarkasi Makassar

Jemaah Calon Haji termuda Zaakiyah Amaliah dan Jemaah Calon Haji tertua Rusna Lahemma, saat berada di Asrama Haji Sudiang Makassar, Sulawesi Selatan, Selasa, 5 Mei 2026. Istimewa.

Dari 13 hingga 91 Tahun, Kisah Haru Calon Haji Termuda dan Tertua di Embarkasi Makassar

Muhammad Syawaluddin • 6 May 2026 12:40

Makassar: Di antara ratusan calon jemaah haji asal Kabupaten Soppeng, terdapat seorang anak berusia 13 tahun bernama Zaakiyah Amaliah dan seorang nenek berusia 91 tahun bernama Rusna Lahemma. Keduanya tergabung dalam Kelompok Terbang (Kloter) 21 Embarkasi Makassar.

Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Soppeng, Musriadi, mengatakan keberadaan dua jemaah dengan rentang usia hampir delapan dekade menunjukkan bahwa usia bukan menjadi tolak ukur untuk menunaikan ibadah haji.

"Ini menunjukkan bahwa panggilan ke Tanah Suci tidak mengenal batas usia, selama ada niat dan kesiapan,” katanya, di Kota Makassar, Sulawesi Selatan, Selasa, 5 Mei 2026.
 


Keduanya menjadi calon jemaah haji termuda dan tertua di Embarkasi Makassar. Di balik keberangkatan mereka, tersimpan kisah yang mengantarkan keduanya bisa menunaikan ibadah haji tahun ini.

Musriadi mengungkapkan kehadiran keduanya mewakili keberagaman jemaah calon haji tahun ini. Keduanya juga mencerminkan kebutuhan pelayanan yang berbeda, terutama bagi jemaah lanjut usia dan anak yang menggantikan orang tua.

Zaakiyah Amaliah, siswi kelas 1 Madrasah Tsanawiyah, berangkat sebagai calon jemaah haji pada 2026 ini menggantikan ibunya yang meninggal dunia pada tahun lalu. "Ibu meninggal tahun lalu. Senang bisa menggantikan ibu,” jawab Zaakiyah singkat.


Ilustrasi haji. Foto- Dok. Kemenag


Ayah Zaakiyah, Aliyas Talib Musa, bersyukur kepada Allah karena kembali mendapat kesempatan untuk memenuhi panggilan-Nya dan melaksanakan ibadah haji untuk kedua kalinya. “Alhamdulillah, senang dan bahagia saya bisa memenuhi panggilan kedua tahun ini. Setelah menunggu kurang lebih 15 tahun,” ujarnya. 

Namun di balik kebahagiaan Thalib, masih ada bayang kenangan istrinya yang telah tiada. Keduanya sempat berharap bisa berangkat bersama pada musim haji 2026 ini, tetapi sang istri meninggal dunia pada April 2025.

“Satu tahun lalu, beliau meninggalkan kami pada bulan April. Kami berharap bisa berangkat bersama, tetapi Tuhan berkehendak lain,” kenangnya.

Sementara Rusna Lahemma menjalani persiapan dengan ekstra hati-hati. Tim kesehatan embarkasi memberikan perhatian lebih pada jemaah yang lahir saat Indonesia masih dalam masa penjajahan itu. Dirinya bahkan melalui pemeriksaan kesehatan berlapis sebelum dinyatakan layak terbang.

Meski tak banyak berkata, keberadaannya di kloter ini seakan menegaskan bahwa kerinduan pada Baitullah bisa bertahan hingga usianya sekarang. 

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Silvana Febiari)