Israel Klaim Bunuh Komandan Hamas Izz ad-Din al-Haddad

Kelompok pejuang Palestina, Hamas. (Anadolu Agency)

Israel Klaim Bunuh Komandan Hamas Izz ad-Din al-Haddad

Willy Haryono • 16 May 2026 15:16

Gaza: Militer Israel mengklaim telah membunuh komandan kelompok pejuang Palestina Hamas, Izz ad-Din al-Haddad, dalam serangan udara di Kota Gaza pada Jumat waktu setempat.

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan Menteri Pertahanan Yisrael Katz menyebut Haddad sebagai salah satu tokoh utama di balik serangan Hamas pada 7 Oktober 2023 yang menewaskan dan melukai ribuan warga sipil Israel serta personel militer IDF.

Menurut keterangan tiga saksi mata, sebuah bangunan apartemen bernama Al-Mu'taz di pusat Kota Gaza dihantam tiga rudal yang diluncurkan hampir bersamaan dari dua arah berbeda.

Tak lama setelah itu, sebuah mobil yang meninggalkan lokasi juga menjadi sasaran serangan udara kedua.

Dikutip dari BBC, Sabtu, 16 Mei 2026, hingga kini Hamas belum mengonfirmasi maupun membantah kabar kematian Haddad yang disebut merupakan salah satu komandan Brigade Al-Qassam.

Serangan terhadap blok apartemen tersebut memicu kebakaran besar dan menyulitkan proses evakuasi korban.

Gencatan Senjata Gaza

Saksi mata mengatakan tim penyelamat sempat mengeluarkan satu jenazah dan sejumlah korban luka dari bangunan sebelum serangan kedua terjadi. Serangan berikutnya menargetkan sebuah mobil dan dilaporkan menewaskan tiga orang.

Sejumlah sumber menduga kendaraan tersebut membawa Haddad yang mengalami luka parah dalam serangan pertama. Saksi mata juga mengaku melihat sejumlah anggota Hamas berpakaian sipil mengevakuasi seorang pria terluka melalui pintu samping gedung sebelum kendaraan itu dihantam rudal sekitar 1,5 kilometer dari lokasi awal.

Seorang pejabat keamanan senior Israel mengatakan indikasi awal menunjukkan operasi terhadap Haddad berhasil dilakukan.

Meski gencatan senjata di Gaza telah berlaku sejak 10 Oktober tahun lalu, Israel masih terus melancarkan serangan udara secara berkala di wilayah tersebut.

Hamas berulang kali menuduh Israel melanggar kesepakatan gencatan senjata dan menyerang warga sipil. Sebaliknya, Israel mengeklaim serangan tetap ditujukan kepada anggota Hamas dan menuduh kelompok itu menolak pelucutan senjata sesuai kesepakatan.

Sementara itu, proses perdamaian yang dimediasi Amerika Serikat mengalami kebuntuan setelah pecahnya perang Iran.

Perang Israel-Hamas

AS sebelumnya mengumumkan dimulainya fase kedua rencana perdamaian pada Januari lalu, yang mencakup pembentukan pemerintahan teknokratis transisi di Gaza, demiliterisasi wilayah, serta rekonstruksi pascaperang.

Namun, pembicaraan mengenai pelucutan senjata Hamas hingga kini belum mencapai kesepakatan. Hamas juga disebut mulai kembali mengaktifkan pasukan kepolisian dan memperkuat kontrolnya di Gaza.

Netanyahu dan Katz menyebut Haddad sebagai salah satu pihak yang menolak implementasi kesepakatan yang dipimpin Presiden AS Donald Trump terkait demiliterisasi Jalur Gaza.

“Kami akan terus bertindak kuat dan tegas terhadap siapa pun yang ambil bagian dalam pembantaian 7 Oktober,” ujar Netanyahu dan Katz dalam pernyataan bersama.

Perang Gaza pecah setelah serangan Hamas ke wilayah selatan Israel pada 7 Oktober 2023 yang menewaskan sekitar 1.200 orang dan menyebabkan 251 lainnya disandera.

Sebagai balasan, Israel melancarkan operasi militer besar-besaran di Gaza. Menurut data Kementerian Kesehatan Gaza, lebih dari 72.744 orang telah tewas sejak perang dimulai, termasuk 857 korban sejak gencatan senjata diberlakukan. (Kelvin Yurcel)

Baca juga:  Israel Sahkan UU Pengadilan Militer Khusus untuk Petinggi Hamas

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Willy Haryono)