Soroti Konten Pelecehan Pakai Boneka, Sahroni Minta Polisi Turun Tangan

Wakil Ketua komisi III DPR Ahmad Sahroni. Foto: Medcom.id/Theo.

Soroti Konten Pelecehan Pakai Boneka, Sahroni Minta Polisi Turun Tangan

Anggi Tondi Martaon • 22 September 2026 12:06

Jakarta: Konten yang meminta perempuan memegang boneka yang diduga menyerupai alat vital pria disorot. Sebab, hal itu dinilai melecehkan perempuan.

Wakil Ketua Komisi III DPR Ahmad Sahroni meminta pihak kepolisian menaruh perhatian terhadap temuan tersebut. Dia meminta aparat penegak hukum memberikan pendampingan terhadap korban.

"Kalau ada pihak yang merasa menjadi korban, apalagi kontennya dibuat tanpa persetujuan, saya minta polisi bisa jemput bola, dampingi, dan memastikan mereka tahu langkah hukum yang bisa ditempuh,” kata Sahroni melalui keterangan tertulis, Selasa, 22 September 2026.

Bendahara Umum (Bendum) DPP Partai NasDem itu meminta agar konten kreator menghentikan penggunaan unsur pelecehan dan merendahkan martabat perempuan dalam membuat konten. Sebab, hal itu perbuatan yang memalukan.

"Stop menggunakan jokes atau konten yang mengandung unsur pelecehan dan merendahkan martabat perempuan, itu norak. Jangan karena mengejar views, hal-hal seperti ini kemudian dianggap lucu atau lazim," ungkap Sahroni.

Sahroni menilai ruang digital harus menjadi tempat yang aman. Dia menegaskan ruang digital tidak boleh menjadi ruang untuk mengeksploitasi atau mempermalukan perempuan demi popularitas. 

Sahroni mendorong masyarakat tidak takut untuk melapor. Menurut Sahroni, jokes yang mengandung unsur pelecehan harus dihentikan.

"Kita harus putus budaya yang menganggap pelecehan sebagai bahan tertawaan. Jangan sampai orang mulai mengabaikan etika, moral, dan hukum demi views semata,” ujar Sahroni.

Perempuan berinisial ASN, buka suara soal dugaan pelecehan seksual dengan modus konten boneka di Jalan Tunjungan, Surabaya. Dia mengaku pernah diajak membuat konten tersebut pada 5 Agustus 2026, walaupun mulanya menolak. 

Rupanya konten-konten lain dari kreator tersebut memiliki pola serupa dan mengandung unsur pelecehan seksual. Yakni, dengan menyuruh perempuan memegang sebuah boneka yang memiliki diduga menyerupai alat vital pria.

(Anggi Tondi)