Gunungkidul Catat 33 Kasus Leptospirosis, 7 Warga Meninggal

Ilustrasi. (medcom.id)

Gunungkidul Catat 33 Kasus Leptospirosis, 7 Warga Meninggal

Ahmad Mustaqim • 3 June 2026 21:02

Yogyakarta: Kasus leptospirosis di Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) tercatat menimbulkan rata-rata satu korban meninggal setiap bulan, pada 2026. Kondisi ini menjadi perhatian, karena angka fatalitasnya meningkat dibandingkan tahun lalu.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Gunungkidul, Ismono, mengatakan terdapat 33 kasus leptospirosis sepanjang Januari hingga Mei 2026. Jumlah tersebut bahkan sudah melampaui total kasus pada tahun lalu.

"Jika sampai Mei kemarin sudah 33 kasus, tahun lalu jumlahnya (kasus leptospirosis) sebanyak 30 kasus," kata Ismono dihubungi pada Rabu, 3 Juni 2026. 
 


Dinas Kesehatan Kabupaten Gunungkidul mencatat tujuh dari 33 kasus leptospirosis berujung kematian. Kasus kematian tersebut terjadi di Kecamatan Ngawen dan Playen masing-masing dua kasus, serta di Kecamatan Gedangsari, Nglipar, dan Semin masing-masing satu kasus.

"Terjadi peningkatan kasus meninggal karena tahun lalu hanya satu kasus yang meninggal," ungkap Ismono. 


Ilustrasi mengenal penyakit Leptospirosis. Dokumentasi/Kemenkes


Ismono mengungkapkan penyakit leptospirosis yang disebabkan bakteri leptospira harus dicegah semaksimal mungkin. Ia menyebut penyebarannya hampir mirip dengan demam berdarah dengue karena sangat berkaitan dengan kebersihan lingkungan.

"Memang letak perbedaannya ini leptospirosis banyak disebabkan karena tikus yang air kencingnya mengandung bakteri leptospira," ujarnya.

Pihaknya mengimbau masyarakat untuk rutin membersihkan rumah dan lingkungan, terutama untuk mencegah berkembang biaknya tikus sebagai sumber penularan. Masyarakat yang bekerja di sektor pertanian juga diminta lebih berhati-hati saat beraktivitas agar terhindar dari penyakit tersebut.

(Silvana Febiari)