Megawati Dijadwalkan Resmikan Monumen Kudatuli di Kantor DPP PDIP

Sekretaris Jenderal PDIP Hasto Kristiyanto (tengah kanan) menjawab pertanyaan awak media di Gedung DPP PDIP, Jakarta. Foto: ANTARA/Nadia Putri Rahmani.

Megawati Dijadwalkan Resmikan Monumen Kudatuli di Kantor DPP PDIP

Fachri Audhia Hafiez • 26 July 2026 20:25

Jakarta: Ketua Umum PDI Perjuangan (PDIP) Megawati Soekarnoputri bakal meresmikan Monumen Kudatuli di Kantor DPP PDIP, Jalan Diponegoro Nomor 58, Menteng, Jakarta Pusat, Senin, 27 Juli 2026. Peresmian tersebut digelar bertepatan dengan peringatan 30 tahun peristiwa Kerusuhan 27 Juli (Kudatuli).

“Pada jam 13.00 WIB, DPP PDI Perjuangan mengundang seluruh tokoh-tokoh prodemokrasi, seluruh masyarakat sipil untuk hadir di dalam peresmian Monumen Kudatuli oleh Ibu Megawati Soekarnoputri,” kata Sekretaris Jenderal PDIP Hasto Kristiyanto di Jakarta Pusat, dilansir Antara, Minggu, 26 Juli 2026.
 


Hasto menjelaskan, Monumen Kudatuli menggambarkan rekam jejak perjuangan PDIP di bawah kepemimpinan Megawati Soekarnoputri. Khususnya dalam menjaga demokrasi dan kedaulatan rakyat.

“Suara yang paling terpencil pun harus kita dengarkan agar keputusan politik betul-betul membebaskan bagi mereka yang masih terjajah oleh berbagai belenggu ekonomi dan juga penjajahan yang bekerja dengan cara lain,” ujar Hasto.

Sebelum agenda puncak peresmian monumen, PDIP telah menggelar pementasan teatrikal bertemakan “30 Tahun Kudatuli” pada Minggu, 26 Juli 2026. Pertunjukan seni tersebut menggambarkan kembali peristiwa penyerbuan kantor DPP PDI pada 27 Juli 1996 oleh massa PDI kubu Soerjadi yang didukung rezim Orde Baru terhadap pendukung Megawati.


PDIP menggelar aksi teatrikal untuk memperingati 30 tahun peristiwa Kerusuhan 27 Juli atau Kudatuli di Gedung DPP PDIP, Jakarta Pusat. Foto: ANTARA/Nadia Putri Rahmani.

Rangkaian acara kemudian dilanjutkan dengan prosesi ruwatan kebangsaan yang dipimpin masyarakat adat Kasepuhan Cisungsang, Banten Kidul. Ritual ini digelar sebagai simbol pembersihan batin, merawat ingatan kolektif, sekaligus mendoakan para korban yang gugur dalam tragedi tersebut.

Acara tradisi itu lalu ditutup dengan pertunjukan seni tradisional Ngarengkong dari masyarakat adat Kasepuhan Cilebang. Puncak peringatan pada hari Minggu tersebut diakhiri dengan pembacaan puisi berjudul "Melawan dan Berjuang" oleh seniman Butet Kartaredjasa.

(Fachri Audhia Hafiez)